Cantrang Resmi Dilarang, Pelabuhan Pantai Tasikagung Rembang Sepi

"Ini soal perut mas, jadi bagaimanapun harus kita perjuangkan," ujar Slamet Yasman, nahkoda kapal cantrang.

Senin, 01 Jan 2018 21:35 WIB

Suasana tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Pantai Tasikagung, Rembang, Jawa Tengah, Senin (1/1), yang sepi. Para nelayan tetap ngotot menggunakan alat tangkap cantrang untuk menangkap ikan. (Foto: KBR/Musyafa)

KBR, Rembang- Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung, Rembang, Jawa Tengah lumpuh total sebagai imbas larangan operasional jaring cantrang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Aturan itu mulai berlaku hari ini, Senin( 1/1/2018).

Slamet Yasman, nahkoda kapal cantrang dari Kelurahan Pacar, Rembang mengatakan nelayan cantrang tak bisa melaut, lantaran masa berlaku surat izin penangkapan ikan (SIPI) yang mereka miliki sudah habis. Menurutnya, kondisi nelayan saat ini semakin terdesak. Mayoritas para nelayan menolak mengganti alat tangkap lain, dengan alasan hasilnya minim.

"Ini soal perut mas, jadi bagaimanapun harus kita perjuangkan. Konon pemerintah ingin supaya nelayan sejahtera. Ya dengan cantrang ini nelayan bisa sejahtera. Untuk alat tangkap lain yang ditawarkan oleh pemerintah, dulu saya sudah pernah pakai. Hasilnya minim sekali," jelasnya kepada KBR, Senin (01/01).

Atas kondisi itu, ujar Slamet, para nelayan berencana mengadakan demo pekan depan. "Soal waktu demo itu baru perkiraan, nanti kepastiannya tinggal tunggu kabar dari paguyuban," katanya.

Sementara itu seorang nelayan kapal cantrang lainnya, Suntoro, warga Desa Mojowarno Kecamatan Kaliori mengaku tak mau nekat melaut karena takut ditangkap aparat keamanan.

"Jadi bahasanya kita menunggu bagaimana hasil demo, masih serba belum pasti. Waktu yang ada digunakan untuk memperbaiki jaring atau cek mesin kapal, karena lama nggak dipakai. Saya terus terang nggak mau melaut dalam kondisi seperti ini. Sama saja bunuh diri mas. Urusannya bisa panjang. Lha kalau disuruh nebus uang, ratusan juta lho," ujar Suntoro.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti sudah pernah datang ke Kabupaten Rembang pada 7 Desember lalu. Susi kala itu mengisyaratkan tetap akan melarang jaring cantrang dengan mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya kelautan untuk masa depan. Ia mengklaim kebijakan tersebut demi kebaikan nelayan sendiri.

"Dulu banyak kapal asing di perairan Natuna dan Arafuru. Sekarang nelayan lokal, silakan kalau mau masuk sana, saya izinkan. Pak Presiden menginginkan laut untuk masa depan. Bukan sekarang saja, tapi untuk 10, 100 atau ribuan tahun yang akan datang," tegas Susi.

Di pesisir pantai utara Kabupaten Rembang sendiri, jumlah kapal cantrang mencapai 300 an buah. Saat ini semua kapal disandarkan di dermaga Pelabuhan Tasikagung. Kurang dari 10 kapal yang masih belum berlabuh.

Berdasar pantauan KBR, Pelabuhan Tasikagung yang merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Kabupaten Rembang bagaikan tempat mati. Tak ada aktivitas pelelangan ikan. Warung-warung maupun tempat parkir kendaraan yang biasanya ramai, sekarang lengang. Tanda-tanda kesunyian seperti itu sudah mulai tampak seminggu lalu.

Editor: Dimas Rizky 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.