Wahyu Susilo: 'Wiji Thukul Itu Orangnya Gak Tegaan'

“Wiji itu orang yang suka berkorban, waktu kecil dia rela gak sekolah, supaya saya dan kakak saya bisa sekolah. Kemudian dia cari uang dengan bekerja sebagai calo tiket bioskop.

Senin, 09 Jan 2017 15:00 WIB

Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul (KBR)

Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul (KBR)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

"Istirahatlah Kata-Kata.” Ini adalah salah satu film yang dinanti-nantikan pemutarannya di 2017 ini. Film yang memotret kehidupan aktivis Wiji Thukul, korban penghilangan paksa, telah berkeliling di berbagai festival film internasional. Di Indonesia, perdana akan tayang tanggal 19 Januari 2017 serentak di 8 kota.

Nah, besok rencananya pihak keluarga dan sahabat Wiji Thukul berencana mendatangi Istana Merdeka untuk menyampaikan undangan menonton film ini kepada presiden Jokowi. Karena menurut adik kandung Wiji Thukul, Wahyu Susilo, keluarganya punya kedekatan historis dengan Jokowi. Saat Jokowi jadi walikota Solo, kata Wahyu, beliau pernah menyambangi keluarga Wiji untuk bersimpati atas kasus penghilangan paksa yang menimpa kakaknya.

Nah, untuk mengingat Wiji Thukul dan menyambut pemutaran perdana film “Istirahatlah Kata-Kata,” Wahyu Susilo hadir di studio KBR, bercerita tentang sosok Wiji kepada dua host KBR Pagi, Hilbram Dunar dan Adit Insomnia, Senin (9/1/2017).

“Wiji itu orang yang suka berkorban, waktu kecil dia rela gak sekolah, supaya saya dan kakak saya bisa sekolah. Kemudian dia cari uang dengan bekerja sebagai calo tiket bioskop. Apa yang dilalukannya itu sebagai respon dia terhadap rasa….. dia orangnya gak tegaan sebenarnya melihat saya sering gak masuk karena belum bayar SPP. Apa yang dia lakukan untuk membela dirinya sendiri, karena kita berangkat dari keluarga yang miskin” ujar Wahyu Susilo

Lalu, apa yang diinginkan keluarga terhadap kasus Widji Tukul setelah keluarga Wiji mendapat stigma negatif dari masyarakat?

Simak quote selengkapnya di audio yang kami sajikan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.