Teguran Bagi Keberagaman

Di mata Trump, Islam dan kelompok Muslim adalah kelompok yang ‘berbeda’, karenanya perlu diberikan perlakuan yang berbeda pula.

Senin, 30 Jan 2017 03:06 WIB

Ancaman kebhinnekaan

Ilustrasi: Ancaman Kebhinnekaan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan perintah eksekutif yang membatasi laju pengungsi ke Amerika Serikat. Persisnya, pengungsi dari tujuh negara yang mayoritas penduduknya Islam: Irak, Iran, Suriah, Sudan, Libya, Somalia dan Yaman. Argumen utama Trump adalah mencegah masuknya kelompok militan ke Amerika. Warga dari tujuh negara itu dinilai berpotensi mendatangkan bahaya keamanan nasional bagi Amerika Serikat.

Perintah eksekutif itu langsung mendapat kecaman dari dalam dan luar negeri. Apa yang dilakukan Trump mencerminkan Islamofobia – ketakutan berlebihan dan tak beralasan terhadap Islam. Di mata Trump, Islam dan kelompok Muslim adalah kelompok yang ‘berbeda’, karenanya perlu diberikan perlakuan yang berbeda pula.

Di Indonesia, ketakutan berlebihan terhadap suatu kelompok yang dianggap berbeda juga membawa korban. Setara Institute kemarin merilis, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) menjadi kelompok yang paling banyak jadi korban pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan sepanjang 2016 lalu. Gafatar dianggap kelompok sesat, lantas jadi sasaran pengusiran warga di Kalimantan Barat. Selain Gafatar, kelompok Ahmadiyah dan Syiah juga dianggap berbeda, lantas jadi sasaran kekerasan.

Catatan Setara Institute bukan satu-satunya teguran bagi keberagaman kita. Mereka yang dianggap terkait dengan komunis juga sudah lama jadi ‘bulan-bulanan’ diskriminasi di negara ini. Atau juga kelompok LGBT. Pijakan berpikirnya sama: dianggap berbeda, lantas perbedaan itu dianggap sebagai pembenaran atas perlakuan yang berbeda pula.

Perbedaan adalah sesuatu yang alamiah, namun kadang tak mudah dilakoni. Butuh hati yang besar, juga pemerintah yang berdiri di atas semua golongan untuk memastikan setiap orang mendapat haknya. Kita tak ingin Indonesia mengkotak-kotakkan manusianya sesuai perbedaan masing-masing. Kita justru jadi kaya karena beragam. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR Tetapkan Tujuh Anggota Komnas HAM

  • Polisi Masih Dalami Politikus Penyandang Dana Saracen
  • DKI Ubah Trayek Angkutan Umum demi Program OK-OTRIP
  • Tidak Ada Logo Palu Arit di Spanduk Yang Digunakan Warga Demo Tolak Tambang Emas