KPK Sita Uang 3 Miliar dari Kamar Anak Bupati Klaten

"Satu Rumah Dinas Bupati, jadi dari Rumah Dinas Bupati di kamar yang diduga kamar anak Bupati di lemari ditemukan Rp 3 miliar."

Rabu, 04 Jan 2017 21:27 WIB

Bupati Klaten Sri Hartini masuk ke dalam mobil dengan menggunakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (31/12). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Komisi Pemberantasan Korupsi menyita uang Rp 3,2 miliar dari rumah dinas Bupati Klaten, Sri Hartini terkait dugaan suap pengisian jabatan di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan tiga miliar di antaranya disita dari lemari kamar anak bupati yakni, Andi Purnomo.

"Di hari pertama Minggu 1 Januari, tiga lokasi. Satu Rumah Dinas Bupati, jadi dari Rumah Dinas Bupati di kamar yang diduga kamar anak Bupati di lemari ditemukan Rp 3 miliar. Yang kedua di lemari Bupati sekitar Rp 200 juta. Jadi di rumah dinas yang penggeledahan dilakukan pada hari pertama, Minggu 1 januari 2017. Kemudian ada rumah pribadi dan rumah saksi juga. Hari kedua   ada tiga kantor yang digeledah mulai dari Kantor Bupati,  Kantor BKD (Badan Kepegawaian Daerah) dan Kantor Inspektorat," kata Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Rabu (03/01/2017).

Febri menambahkan, jumlah uang yang disita lebih besar dibandingkan hasil sitaan dari Operasi Tangkap Tangan (OTT) akhir Desember tahun lalu. Sebelumnya, KPK menyita uang sekira Rp 2,1 miliar dari Bupati Klaten, Sri Hartini.

Febri menambahkan saat ini KPK telah memeriksa 40 saksi dalam kasus suap pengisian jabatan di Pemkab Klaten.

"Dalam rentang dua hari, ada sekitar 40 saksi yang diperiksa, sebagian dari saksi sejauh ini dari informasi yang kami terima bersedia membuka informasi-informasi terkait dengan kebutuhan penyidikan," imbuh Febri.

KPK masih menetapkan dua tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Bupati Klaten, Sri Hartini dan Kasi SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Klaten, Suramlan sebagai tersangka. KPK meyakini pemberi suap lebih dari satu orang dalam kasus tersebut.

"Dalam proses penyidikan ini, indikasi kuat yang kita dapatkan memang sumber dana tidak berasal hanya dari satu ada dua orang saja, jumlah uang yang kita temukan cukup banyak," ungkap Febri.

KPK juga mendalami peran dari anak Bupati, Andi Purnomo yang diduga sebagai pengepul uang promosi jabatan. Andi juga menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Klaten.

"Temuan tersebut tentu akan kita dalami karena memang kita menemukannya di lokasi yang diduga itu adalah ruangan atau kamar dari anak bupati. Kami akan lihat lebih jauh dari informasi yang ada, sejauh mana kemudian kegiatan penyidikan ini berkembang pada pihak-pihak lain yang diduga terlibat," ujar Febri.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.