Salah satu Gereja di Negombo Sri Lanka. (Foto: Fabien Fivaz)

Salah satu Gereja di Negombo Sri Lanka. (Foto: Fabien Fivaz)



Pakistan disebut sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi penganut agama minoritas.

Karena terpinggirkan dan teraniaya karena iman mereka, banyak komunitas minoritas seperti penganut Kristen dan Ahmadiyah yang meninggalkan negara itu.

Ribuan berakhir hidup dalam keputusasaan dan ketidakpastian di negara-negara seperti Indonesia, Thailand dan Sri Lanka.

Dari Negombo Sri Lanka, koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, menyusun kisahnya untuk Anda.

Kelompok paduan suara kaum muda ini menyanyikan lagu puji-pujian di kota Negombo di selatan Sri Lanka. Mereka bernyanyi untuk memohon kekuatan dan kesabaran di masa-masa sulit ini.

Lagu ini tidak dinyanyikan dalam bahasa Sinhala atau Tamil yang banyak digunakan di negara pulau itu. Tapi dalam bahasa Urdu yang merupakan bahasa nasional Pakistan.

Ada sekitar 100 orang di sini. Mereka adalah penganut Kristen asal Pakistan yang melarikan diri dari negaranya untuk mencari suaka di Sri Lanka.

Perempuan, yang namanya ingin dirahasiakan ini, bercerita pada saya tentang kisah cintanya yang tragis. Kisah bersatunya cinta dua orang yang berbeda iman.

Sebagai seorang Muslim, perempuan itu telah melanggar tabu dengan menikahi seorang pria Kristen. Sebuah langkah yang memicu kemarahan keluarga yang mengancam akan membunuh suaminya.

Di Pakistan, pernikahan beda agama sangat jarang terjadi dan makin langka saat intoleransi agama terus meningkat di sana.

Karena khawatir dengan keselamatan mereka, pasangan beda agama ini melarikan diri ke Sri Lanka tiga tahun lalu.

Ribuan orang dari kelompok agama minoritas di Pakistan - seperti Kristen, Syiah dan Ahmadiyah - melarikan diri dari penyiksaan dan diskriminasi yang dilakukan mayoritas Muslim Sunni.

Kelompok militan, yang punya kaitan dengan Taliban dan Al-Qaeda, secara terbuka menyerang rumah ibadah mereka dan membunuh serta melukai ratusan orang.

Itu alasan mengapa banyak orang pergi  mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain.

Mereka datang ke tempat-tempat seperti Negombo yang saat ini tampak seperti Pakistan mini. Ratusan orang Pakistan tinggal di sini dengan tenang dan tidak mencolok. Kebanyakan dari mereka tidak ingin diidentifikasi.


Jessica William, 50 tahun, tiba di sini dengan empat anak dan dua cucunya pada 2012.

“Putra saya bekerja sebagai perawat dan sering mengunjungi rumah beberapa pasien Muslim. Suatu hari saat sedang membawa pasien ke dokter, mereka diserang orang bersenjata. Saat itu anak saya ditembak,” tutur Jessica.

“Saat tahu penyerangnya punya hubungan dengan kelompok teroris, dia ketakutan. Dia pun keluar dari pekerjaannya dan pergi dari Pakistan. Karena kelompok itu mulai mencari-cari putra saya dan mengintimidasi keluarga, kami semua juga terpaksa pergi dari rumah.”

Dulu Colombo punya hubungan diplomatik yang baik dengan Islamabad. Pakistan turut membantu Sri Lanka membasmi pemberontak Tamil yang diduga didukung oleh India.

Tapi semuanya berubah drastis dua tahun lalu, ketika pihak berwenang Sri Lanka berhenti mengeluarkan visa kunjungan saat kedatangan untuk orang Pakistan. Mereka takut ada gelombang masuknya teroris ke negara itu.

Bahkan sekitar 100 orang migran, yang kebanyakan laki-laki, dipaksa kembali ke Pakistan.

Pengamat politik mengatakan New Delhi telah menekan Colombo untuk melawan meningkatnya pengaruh Islamabad di negara pulau itu.

Ini menyebabkan ratusan pencari suaka terdampar dan ketakutan.

Selama kunjungan saya ke kota itu, empat Uskup Pakistan yang menghadiri Konferensi Uskup Internasional di Colombo, juga bertemu dengan keluarga-keluarga yang frustrasi ini.

Mereka memohon kepada para uskup untuk menekan Amerika atau negara-negara Eropa agar mau menerima mereka.

Orang-orang seperti Jessica yang berada di tempat pertemuan ini merasa marah dan muak.

“Kami tidak bisa bekerja karena apapun aktivitas kami harus dilakukan diam-diam. Kami bekerja agar bisa membayar biaya sewa, makanan dan lainnya. Kami terus-menerus hidup dalam ketakutan,” kisah Jessica.

“Dulu saya bekerja sebagai ketua organisasi amal yang membantu dan melindungi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Saya biasa membersihkan dan merawat anak-anak orang lain. Tapi hari ini, tidak ada satupun yang melindungi anak-anak saya.”

Sri Lanka mungkin tempat yang menarik bagi wisatawan karena punya pemandangan alam dan kuil-kuil yang indah. Tapi tidak halnya dengan kehidupan para imigran, kata Jessica.

“Kami bertarung dengan ular dan hewan lainnya setiap hari. Kami tidak punya akses ke rumah sakit, sekolah atau pekerjaan. Kita terpaksa bekerja secara sembunyi-sembunyi agar bisa membeli makanan dan membayar sewa. Saya punya satu nasihat untuk Anda! Pikirkan diri Anda sebelum memikirkan orang lain.”

Menyusul kritik dari Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi atau UNHCR, Pemerintah Sri Lanka telah menghentikan deportasi.

Tapi proses suaka yang panjang masih harus dijalani para pencari suaka asal Pakistan ini.

Beberapa bahkan sudah 10 tahun berada di sini. Permintaan suaka mereka ditolak sehingga mereka harus hidup dalam persembunyian.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!