Harga Cabai Tembus Rp140 Ribu per Kilo

Pasokan langka karena kapal pemasok cabai dari Sulawesi ke wilayah perbatasan datang terlambat, pasca libur tahun baru 2017.

Rabu, 04 Jan 2017 18:28 WIB

Pedagang sayuran di Pasar Sentral Inhutani, Nunukan sedang melayani pembeli cabai. Harga cabai melonjak dari Rp60 ribu per kg menjadi Rp140 ribu per kg. (Foto: Adhima/KBR)


KBR, Nunukan – Minim pasokan dari daerah Sulawesi maupun Tawau Malaysia pasca libur tahun baru membuat harga cabai di pasar kabupaten Nunukan Kalimantan Utara melambung tinggi.

Cabai yang biasanya dijual pedagang seharga Rp60 ribu per kilogram meroket hingga Rp140 ribu rupiah per kilogram.

Salah seorang pedagang cabai di Pasar Sentral Inhutani Nunukan, Ase mengatakan selain keterlambatan pasoakan dari Sulawesi, mahalnya cabai juga disebabkan asokan langka di pasar tradisional.

Pasokan langka karena kapal pemasok cabai dari Sulawesi ke wilayah perbatasan datang terlambat, pasca libur tahun baru 2017.

"Sekarang Rp140 ribu. Mahal diambilkan, Rp130 pun diambilkan. Sebelumnya Rp65 ribu. Baru tiga hari (naiknya), habis tahun baru, langsung naik," kata Ase di Nunukan, Rabu (4/1/2017).

Ase mengatakan mahalnya harga cabai diperkirakan akan terjadi hingga beberapa hari ke depan karena harga cabai yang didatangkan dari Sulawesi juga mengalami kenaikan.

Biasanya harga cabai dari Sulawesi sebesar Rp60 ribu per kilo, tapi kini telah melonjak hingga Rp80 ribu per kilo.

Selain dari Sulawesi, para pedagang di Kabupaten Nunukan juga mendatangkan cabai dari Tawau Malaysia. Harga cabai dari Malaysia juga mengalami kenaikan.

Selain cabai, sejumlah kebutuhan sayur mayur lain seperti kobis, wortel, kentang, dan komoditas sayur lainnya di Kabupaten Nunukan juga didatangkan dari Sulawesi maupun dari Tawau Malaysia.

Namun kenaikan harga cukup tinggi hanya terjado pada komoditas cabai.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Puluhan Hektare Lahan di Riau Terbakar

  • 5 Ormas di Jateng Terindikasi Anti-Pancasila
  • PM Israel Ancam Usir Al-Jazeera dari Yerusalem
  • Juve Siap Ajukan Tawaran untuk Keita

Indonesia mengalami masalah ketimpangan (inequality) dan tengah berupaya memeranginya. Simak perbincangannya hanya di Ruang Publik KBR, Rabu 26 Juli 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.