Perjuangan Pria Toilet India Perbaiki Sanitasi

Menurut sensus nasional terbaru satu dari dua orang di India buang air besar di tempat terbuka.

Minggu, 17 Des 2017 17:00 WIB

Dr Bindeshwar Pathak sedang menunjukkan toilet dengan teknologi ramah lingkungan. (Foto: Jasvinder S

Dr Bindeshwar Pathak sedang menunjukkan toilet dengan teknologi ramah lingkungan. (Foto: Jasvinder Sehgal)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Diperkirakan 2,3 miliar orang di seluruh dunia hidup tanpa toilet. Enam puluh persen diantaranya berada di India. Menurut sensus nasional terbaru satu dari dua orang di India buang air besar di tempat terbuka.

Tapi seorang pria India mencoba mengatasi krisis sanitasi itu. Dr Bindeshwar Pathak dikenal sebagai pria toilet.

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, melakukan perjalanan ke Negara Bagian utara Haryana pada Hari Toilet Dunia bulan lalu untuk mencari tahu lebih jauh.

Puluhan gadis sekolah sedang bernyanyi. Sementara anak laki-laki meneriakkan slogan-slogan yang mempromosikan kesadaran akan sanitasi dan toilet.

Kota kecil Marora, di Haryana, sedang berpesta. Sebuah toilet jongkok raksasa baru diresmikan oleh pria toilet India, Dr Bindeshwar Pathak.

Toilet berukuran 6 x 3 meter itu memang terlalu besar untuk manusia. Tapi toilet ini ingin menekankan betapa pentingnya penggunaan toilet.

Dr Bindeshwar Pathak mengatakan kepada saya lembaganya, Sulabh International, berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran tentang sanitasi dan kebersihan di seluruh India.

“Kami telah membangun 1,5 juta toilet di rumah tangga - perkotaan dan pedesaan. Di tempat umum kami telah membangun sekitar sembilan ribu toilet umum, minimal 10 toilet dan maksimal 2858 di Pandarpur, Maharsthra. Empat ratus ribu orang menggunakan toilet-toilet ini setiap hari,” jelas Pathak.

Dr Pathak menjelaskan toilet bisa menyelamatkan nyawa. Tanpa mereka, limbah manusia dibiarkan di tempat terbuka, menyebarkan penyakit mematikan seperti diare dan kolera.

Dia mengatakan toilet juga menjadi prioritas bagi perempuan di India. Ini memberikan mereka rasa aman dan bermartabat yang tidak mereka dapatkan ketika terpaksa buang air besar di tempat terbuka.

Menurutnya kerja puluhan tahun kini mulai terlihat dampaknya. Pada 2014, pemerintah nasional India memprakarsai kampanye “India Bersih”.

“Kami telah membersihkan negara ini. Kami telah membantu. Sekarang Perdana Menteri India punya program penghapusan buang air besar di tempat terbuka pada tahun 2019. Dengan teknologi kami, Pemerintah India telah membangun sekitar 70 juta toilet melalui Pemerintah Negara Bagian,” tutur Pathak.

Teknologi Dr Pathak adalah 'two pit pour flush' yang secara ekologis berkelanjutan, kompos toilet.

“Satu lubang digunakan pada satu waktu dan yang lainnya dibiarkan. Jika yang pertama penuh, kita beralih ke lubang satunya. Lubang yang pertama, setelah dua tahun akan menjadi pupuk. Dengan teknologi ini toilet tidak perlu dibersihkan,” tambahnya.


Bila sanitasi dikelola dengan baik, Dr. Pathak yakin bisa sangat bermanfaat.

Dia menjelaskan kotoran harus diolah. Bila diubah menjadi limbah olahan maka bisa dengan aman dikembalikan ke lingkungan. Bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi atau sebagai pupuk untuk produksi pangan.

“Kotoran manusia dimasukan ke dalam digester biogas dan bisa digunakan untuk menghidupkan lampu atau memasak makanan. Jadi kotoran manusia sepenuhnya didaur ulang. Kami tidak akan membiarkan metana menguap ke ke atmosfer, karena kita bisa terbakar. Jadi ini akan membantu mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim,” kata Pathak.

Dr. Pathak bertekad untuk berbagi pengetahuan tentang toilet. Dan dia menyiapkan tempat yang sangat unik untuk melakukan hal itu. Saya pergi ke ibu kota India New Delhi untuk mengunjungi museum toiletnya.

“Pada 2014 majalah Time melakukan survei ke seluruh dunia untuk mencantumkan 10 museum paling aneh di dunia. Dan museum ini berada di posisi ketiga,” jelas kurator museum, Dr. Bagheshwar Jha. 

Dia menjelaskan kalau museum itu menelusuri sejarah toilet yang berusia 4.500 tahun.

“Tujuan utama museum ini adalah untuk menciptakan kesadaran karena membuat toilet bukan merupakan akhir dari sistem toilet. Syarat dasarnya adalah mengubah pola pikir,” kata Jha.

Museum menampilkan toilet kuno, abad pertengahan hingga modern dari 50 negara.

Toilet jongkok raksasa di desa Marora juga nantinya akan ditampilkan di sini, beserta semua jenis replikanya. Asisten kurator Shikha Sharma menunjukkan yang mana favoritnya 

“Singgasana toilet itu yang paling menarik, tahta Kaisar Prancis Louis 14. Dia punya masalah sembelit. Dia biasa duduk di sini dan tepat di bawah takhtanya, dia membangun sebuah toilet untuk memudahkan dirinya buang air,” kisah Shikha.

Museum toilet ini menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Raju Singh, 28 tahun, adalah salah satunya. Dia bercerita mana yang menjadi favoritnya.

“Itu adalah sebuah surat lucu yang ditulis dalam bahasa Inggris yang kurang sempurna ke pihak berwenang Kereta Api. Di era kolonial penulis bepergian dengan kereta api. Dia merasa ingin buang air besar tapi tidak ada toilet di kereta. Suratnya memaksa pihak berwenang Inggris untuk memasang toilet di kereta-kereta India,” ujar Raju.

Dan seperti sejarah yang berulang, saat ini pria toilet India sedang mendorong ada toilet di setiap rumah di negara ini.


 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?