Pendapat Warga Yangon Soal Dugaan Pembersihan Etnis Rohingya

Seperti banyak orang di Myanmar, Kyaw San Min, tidak percaya orang Rohingya punya hak untuk hidup di negeri ini.

Selasa, 27 Des 2016 09:07 WIB

Di Yangon, adalah pemandangan yang biasa melihat Pagoda Buddha dan Masjid berdiri bersebelahan. (Fot

Di Yangon, adalah pemandangan yang biasa melihat Pagoda Buddha dan Masjid berdiri bersebelahan. (Foto: Kannikar Petchkaew)


Seiring munculnya dugaan pembersihan etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine Myanmar, kritik masyarakat internasional terhadap pemimpin Aung San Suu Kyi terus meningkat.

Tapi bagaimana dengan kondisi di dalam Myamar sendiri?

Koresponden Asia Calling KBR, Kannikar Petchkaew, mengunjungi Yangon untuk mengetahui apa pendapat warga terhadap salah satu minoritas yang paling teraniaya di dunia itu.

John seorang supir taksi berusia lima puluhan tahun. Baginya, mengemudi melalui jalan-jalan penuh sesak di Yangon bukanlah hal mudah.

Yangon adalah kota terbesar di Myanmar dan berpenduduk sekitar enam juta jiwa.

Sejak negara itu mulai membuka diri pada 2012, setelah puluhan tahun menutup diri di bawah pemerintahan junta, Yangon telah menjadi kota yang hampir tidak pernah tidur.

Di antara deru mesin dan bahasa Inggris yang terbatas, John, bekas tentara yang kini jadi supir taksi, mengaku punya hubungan dengan Rakhine.

Negara bagian itu berjarak 11 jam berkendara dari kota Yangon atau tujuh jam dari ibukota Naypyidaw. Jutaan etnis Rohingya tinggal di sana dan sebagian besar adalah pemeluk Islam.

“Saya lahir di Negara Bagian Rakhine. Dan di sana banyak Muslim. Saya tumbuh besar dan belajar bersama teman-teman Muslim. Tapi sekarang saya tidak pernah lagi ke sana karena ada pertempuran,” kisah John.

Konflik yang terus berlanjut menjadi berita utama dalam beberapa pekan terakhir. Ini terjadi pasca tentara diduga membakar rumah-rumah orang Rohingya dan memperkosa para perempuannya.

Tindakan tentara itu dipicu penyerangan kelompok militan terhadap tiga pos penjagaan dan membunuh sembilan polisi sertai melukai lima lainnya. Para penyerang itu diduga berasal dari etnis Rohingya. 

Tentara Myanmar pun mulai melancarkan ‘operasi pembersihan’.

Sejak itu diperkirakan 30 ribu orang Rohingya meninggalkan negara bagian itu dan menyebrang perbatasan menuju Bangladesh. Tapi di Yangon kehidupan berjalan seperti biasa.

Di jalan ini pekan lalu, ribuan orang berkumpul untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada para tentara yang berperang melawan kelompok etnis bersenjata.

Tidak hanya tindakan keras terhadap Rohingya tapi juga kelompok pemberontak etnis lainnya di negara Bagian Kachin dan Shan.

Di pinggiran kota Yangon, saya mengunjungi kantor harian the Voice yang sudah terbit sejak 2004.

Kyaw San Min, 30an tahun, adalah pemimpin redaksi harian itu. Dia menolak pendapat yang menyebut media di Myanmar menutup mata terhadap pembunuhan di Rakhine.

Dan seperti banyak orang di Myanmar, Kyaw San Min, tidak percaya orang Rohingya punya hak untuk hidup di negeri ini.

“Jika Anda belajar sejarah, Anda bisa melihat kalau orang Rohingya bukan dari Myanmar. Mereka datang dari Bangladesh dan tinggal di Negara Bagian Rakhine. Sekarang kami menghadapi banyak masalah dari orang-orang Rohingya itu,” jelas Kyaw San Min. 

Orang Rohingya mengklaim mereka adalah penduduk asli Rakhine. Sementara beberapa sejarawan berpendapat kelompok itu merupakan campuran antara imigran sebelum masa penjajahan dan selama penjajahan.

Ditolaknya kewarganegaraan Myanmar untuk orang Rohingya, yang sudah ratusan tahun tinggal di sana, membuat etnis Rohingya sekarang tidak punya kewarganegaraan.

Di Yangon, saya juga bertemu jurnalis yang cukup disegani May Thingyan Hein. 

Dia adalah jurnalis yang berani menghadapi pemerintah dari waktu ke waktu terutama selama tahun-tahun militer berkuasa. Dia menjelaskan bagaimana situasinya saat itu.

“Saya punya 13 nama pena. Setiap kali saya menulis cerita dan mereka mengetahui itu saya, saya pakai nama pena lain. Sangat sulit bertahan hidup saat itu,” ungkap May.

Tapi ketika bicara tentang orang Rohingya, May sepakat dengan pemerintah. Saya bertanya padanya apakah masalah di negara bagian Rakhine adalah masalah Hak Asasi Manusia?

“Menurut saya tidak. Ini bukan masalah Hak Asasi Manusia. Karena mereka butuh tanah, mereka mau tanah. Ini juga bukan masalah agama,” kata May. 

Azan magrib berkumandang. Di Yangon, adalah pemandangan yang biasa melihat Pagoda Buddha dan Masjid berdiri bersebelahan.

Maung Maung Win berusia 40 tahun dan dia adalah ulama di Masjid Bengali Sunni Jameh, yang berada persis di samping Pagoda Buddha Suleh. Masjid ini berada di tengah kota Yangon dan sudah berusia 154 tahun.

Maung mengatakan suasana yang bersahabat tidak mencerminkan kebenaran…meski etnis Rohingya telah ada di negara bagian Arakan atau Rakhine selama ratusan tahun.

Meski Masjid dan Pagoda dibangun berdekatan lebih dari 100 tahun lalu, tapi hari ini perpecahan agama dan etnis terjadi sangat dalam di Myanmar. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!