Perancang permainan Panida Tanchorean mengadakan pelatihan untuk anak-anak di Ubud Readers and Write

Perancang permainan Panida Tanchorean mengadakan pelatihan untuk anak-anak di Ubud Readers and Writers Festival, 2016. (Foto: Anggara Mahendra)



Ketika mencoba untuk mitigasi perubahan iklim atau ancaman bencana alam dan setelahnya, Anda mungkin tidak pernah berpikir peran permainan akan sangat penting.

Tapi seorang perancang mainan asal Thailand telah menciptakan serangkaian permainan inovatif, yang dirancang untuk membantu masyarakat mengatasi masalah-masalah itu. Mainan itu katanya bisa mengubah dunia.

Jurnalis Nicole Curby bertemu dengan Panida Tancharoen di Festival Penulis Ubud di Bali belum lama ini untuk mencari tahu lebih lanjut.

Saya sedang berada di lokakarya pembuatan mainan untuk anak-anak.

Sekelompok kecil anak-anak sedang berkonsentrasi pada kreasi warna-warni yang mereka kerjakan.

Pelatihan ini dipimpin oleh Panida Tancharoen atau akrab dipanggil Plan..

Dia adalah seorang perancang mainan dan ilustrator dari Bangkok, Thailand.

Keahliannya? Membuat mainan yang bisa mengubah dunia.

Permainan yang mengatasi perubahan iklim dan membantu masyarakat untuk menghadapi bencana alam, seperti gempa bumi, topan atau tsunami.

Plan percaya kita bisa banyak belajar lewat permainan yang menyenangkan.

“Menurut saya ketika orang bisa bermain dan mengaku ini menyenangkan, mereka sudah berpikiran terbuka. Dan ketika Anda membuka pikiran, otak Anda juga akan terbuka,” jelas Plan. 

“Ketika kondisi emosi berada dalam keadaan yang baik, Anda siap untuk belajar, membaca atau melakukan sesuatu yang baru. Anda siap untuk mengubah diri sendiri.”

Plan sudah mengadakan pelatihan tentang permainan bagi masyarakat di Filipina, Thailand, Indonesia dan Jepang.

Salah satunya adalah belajar serangkaian keterampilan penting soal apa yang harus dilakukan saat bencana. Ini bisa membuat perbedaan besar ketika situasi genting terjadi. 

Kata Plan, ini bisa dimulai dengan permainan.

“Permainan ini tentang siklus bencana dan saya mainkan di Filipina dan Thailand, tergantung pada bencana di daerah masing-masing. Di Filipina saya menggunakan siklus badai. Apa yang terjadi sebelum, selama dan sesudahnya dan apa yang harus Anda lakukan di antara situasi itu,” tutur Plan.

“Permainannya mudah. Anda harus mencocokkan gambar yang ada di kartu dengan yang ada di papan. Dan masyarakat bisa menggunakannya sebagai alat pendidikan dalam komunitas.”

Ketika bermain tidak masalah bila membuat kesalahan. Bagi Plan ini adalah bagian penting dari pembelajaran.

Anak-anak punya bakat besar untuk permainan dan bermain dan Plan mengatakan sering orang dewasa yang belajar dari anak-anak.

“Salah seorang nenek berkata kepada saya, ‘Saya tidak tahu kalau cucu saya begitu cerdas dan ini kali pertama saya bermain bersama cucu dan anak saya,” cerita Plan.

Plan telah melakukan lokakarya di Fukishima, Jepang, pascatsunami menghantam PLTN Daichi dan menyebabkan bencana nuklir. Selain itu dia juga melakukannya di Tacloban, Filipina, yang hancur oleh topan Haiyan pada 2013.

Berada di tempat-tempat itu, Plan belajar sebuah pelajaran penting.

“Ketika saya kembali ke Thailand, saya bertanya-tanya mengapa Filipina punya banyak badai dan topan yang menewaskan banyak orang, katanya.

“Saya menemukan kalau perubahan iklim juga berdampak pada masyarakat. Ini artinya apa yang kita lakukan di sini, misalnya menciptakan banyak polusi, akan mempengaruhi teman-teman kita di negara-negara lain.”

Papan permainannya bernama Risko mengeksplorasi sebab akibat semacam ini. Peserta mendapatkan poin untuk mengubah perilaku, mengurangi polusi dan resiko perubahan iklim, dan menghindari bencana alam.

Kembali ke pelatihan, anak-anak tampaknya bisa menyerap pesan itu dengan cepat.


 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!