Peserta peringatan Tragedi Santa Cruz di Timor Leste membawa spanduk yang berarti: Kematian kalian a

Peserta peringatan Tragedi Santa Cruz di Timor Leste membawa spanduk yang berarti: Kematian kalian adalah kehidupan kami dan perjuangan kalian adalah kemerdekaan kami. (Foto: Teodesia dos Reis)



Pada 12 November 1991, tentara Indonesia menembaki peserta aksi peringatan damai yang berubah menjadi demonstrasi pro-kemerdekaan di sebuah pemakaman di Dili, Timor Leste.

Lebih dari 200 orang tewas dan ratusan lainnya ditangkap dan ditahan.

Untuk menandai tragedi itu, setiap tahun warga Timor Leste berkumpul dan berjalan dari Gereja Motael menuju pemakaman Santa Cruz. Ini adalah rute yang dilewati rombongan peringatan damai pada hari mematikan itu.

Koresponden Asia Calling KBR, Teodosia dos Reis menyusun laporannya dari Dili.

Hari masih pagi tapi sudah banyak orang berkumpul untuk bergabung dalam peringatan pembantaian Santa Cruz.

Acara ini dihadiri keluarga korban, mahasiswa, pejabat pemerintah dan juga presiden Timor-Leste, Taur Matan Ruak.

Mereka melakukan aksi jalan kaki dari Gereja Motael menuju pemakaman Santa Cruz. Di perjalanan mereka menyanyikan lagu yang dulu kerap dinyanyikan di masa perjuangan  merebut kemerdekaan dari Indonesia.

Lirik lagunya berbunyi “Aku menjual tubuhku untuk membeli kebebasan, aku menumpahkan darah, hidup atau mati, aku ingin kemerdekaan bagi Timor.”

Lagu ini mengingatkan kembali akan apa yang terjadi di sini di pemakaman ini pada 1991. 

Saat itu orang-orang berkumpul untuk memprotes kematian Sebastian Gomes. Dia adalah seorang pendukung kemerdekaan yang dibunuh di Gereja Motael oleh tentara Indonesia beberapa pekan sebelumnya. 

Orang-orang kemudian berjalan kaki menuju ke pemakamannya dan menaruh bunga di nisannya.

Jurnalis Amerika, Allan Nairn bersama jurnalis lain Amy Goodman ada di sini ketika pembantaian terjadi.

Hari ini dia kembali ke Timor Leste untuk menceritakan kembali apa yang terjadi saat itu.

“Hari itu saya bersama Amy Goodman. Kami berada di tengah-tengah kerumunan dan kemudian kami melihat di jalanan, tentara Indonesia sedang mendekat. Mereka berseragam, membawa senapan otomatis M16 dari Amerika Serikat, negara saya,” tutur Allan. 

“Tentara yang berdatangan makin banyak jumlahnya, hingga ribuan. Jadi saya memutuskan kami harus maju ke depan kerumunan karena kami pikir bisa mencegah pembantaian.”


Amy dan Allan berharap sebagai jurnalis asing, mereka mungkin bisa bertindak sebagai perisai antara tentara yang mendekat dan rakyat Timor yang berkumpul dalam peringatan itu.

Tapi sebaliknya, mereka malah dipukuli dan tentara Indonesia mulai menembak ke arah kerumunan.

“Kapten itu menembak secara sistematis dan darah memenuhi jalanan,” kenang Allan.

Max Stahl, seorang jurnalis Inggris juga ada di sana hari itu.

Rekaman yang diambilnya saat pembantaian Santa Cruz  diputar di seluruh dunia. Tapi dia harus mengambil langkah-langkah khusus untuk melindunginya.

“Tentara Indonesia sibuk menghentikan semua orang dan mereka berada di sekitar kuburan. Karena tidak bisa kemana-mana, saya jadi punya waktu,” kisah Max. 

“Setelah beberapa saat, saya mulai berpikir apa yang akan saya lakukan ketika mereka datang. Jadi saya mengambil kaset saya, memasukkannya ke dalam plastik dan menguburnya di dalam tanah.”

Pada upacara tersebut, Presiden Taur Matan Ruak berterima kasih pada upaya jurnalis seperti Allan dan Max.

Jurnalis yang bisa mendapatkan cerita tentang apa yang terjadi di negeri ini, yaitu kekerasan yang dilakukan militer Indonesia, dan menunjukkannya pada dunia internasional.

Ruak adalah seorang pejuang yang bergerilya di hutan selama tahun-tahun pendudukan Indonesia. Pembantaian lain katanya, seperti di Viqueque, tidak pernah terungkap karena tidak ada jurnalis saat peristiwa itu terjadi.

“Pembantaian tidak hanya terjadi di sini tapi di seluruh penjuru di Timor Leste. Ketika saya mengunjungi satu desa, saya menemukan ratusan tulang belulang di satu kuburan, tapi kami tidak pernah mendengar apa yang terjadi di sana. Jadi kita harus berterima kasih kepada semua jurnalis, terutama Allan dan Max Stahl, yang berhasil membawa film Santa Cruz ke luar negeri,” kata Presiden Taur Matan.

Untuk memperingati tragedi Santa Cruz, pada tahun 2005 pemerintah menetapkan tanggal 12 November menjadi hari nasional kaum muda Timor Leste.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!