Jazz Korea Kunjungi Eropa

Jazz Korea adalah rahasia yang tersembunyi - atau setidaknya sebelumnya.

Senin, 19 Des 2016 10:56 WIB

Korean Jazz Night di Stockholm. (Foto: Ric Wasserman)

Korean Jazz Night di Stockholm. (Foto: Ric Wasserman)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Jazz Korea adalah rahasia yang tersembunyi - atau setidaknya sebelumnya.

Dengan tur Eropa pertama dari dua kelompok jazz lokal Korea, kata itu mulai menyebar.

Kedua kelompok itu memadukan gaya jazz Barat dengan sentuhan Korea. Hasilnya mengesankan dan sesekali meledak-ledak.

Ric Wasserman hadir konser pertama mereka di Stockholm, Swedia, dan menyusun laporan ini untuk Anda.

Trio Lee Han-Earl dibentuk beberapa tahun silam oleh pianis Lee Han-Earl. Dia belajar musik klasik di Jerman tapi dia ingin arah yang baru dan membuat masyarakat berpikir. 

“Jika kami memainkan beberapa jazz berirama khas, akan banyak yang menyukainya dan memahami apa yang saya lakukan. Tapi ketika saya bermain, saya bisa melihat kadang penonton mengalami kesulitan. Pada saat yang sama ada orang yang menghargai gaya itu,” tutur Lee.


Dalam trio Lee Han-Earl, posisi drumer dipegang oleh Soo Jin Suh. Perempuan berusia sekitar 20an itu mengaku dia menemukan gaya bermusiknya di sini dan ingin melangkah lebih jauh.

Dulu biasanya pemain alat musik jazz adalah laki-laki dan vokalisnya perempuan. Sekarang perempuan pun ikut memainkan alat musik di atas panggung.

“Saya pemain yang aktif di kancah jazz Korea. Ada begitu banyak pertanyaan dalam kepala saya, bagaimana mengekspresikan semua pengaruh dan musik yang saya dengar? Butuh beberapa waktu, tapi saya pikir saya menemukan metode untuk itu dan sejauhnya ini berjalan baik,” kisah Soo.

“Pemimpin kami, Lee, sudah 10 tahun bersama-sama. Sedangkan yang lain sudah bermain bertahun-tahun dan kami menikmatinya. Jadi kami ingin tetap bergerak sebagai sebuah kelompok.”

Musik yang diusung Trio Lee Han Earl memadukan kombinasi timur dan barat dengan sedikit klasik.

Kadang, musiknya mudah dicerna kadang tidak tapi selalu dengan perubahan tak terduga. Ini menunjukkan kecakapan bermusik tiga musisi muda itu.

“Ini pertama kali kami tampil di luar negeri, di Swedia. Jadi kami berharap bisa memenuhi harapan masyarakat tentang jazz Korea,” kata Cho.

EungMin Cho belajar gitar jazz di Sekolah Musik Berklee di Boston dan mendirikan kuartet ini hampir tiga tahun lalu. Saya bertanya bagaimana masuknya musik jazz ke Korea.

“Generasi pertama musisi jazz Korea berasal dari tahun 50an setelah perang Korea. Para seniman Amerika membawa jazz bersama mereka dan beberapa musisi Korea pergi ke pangkalan militer. Begitulah cara mereka belajar jazz,” tutur Cho.


Sebagian besar materi di konser Stockholm diambil dari album pertama Cho.

“Judul album ini Oriental Fairytale. Saat saya belajar di Amerika, saya ingin mencoba sesuatu yang sangat Asia dan oriental. Album ini cukup tematik dan sangat oriental tentu saja.”

Meski jazz sudah ada di Korea sejak tahun 50-an, jazz harus berjuangan untuk menjadi mapan sebagai sebuah bentuk seni.

Tapi bermain jazz membuat kuartet ini gelisah dan inilah yang mereka sukai kata pemain bass, Dongha Shin.

Perlahan, pengikut mereka tumbuh.

“Kita harus membedah ide Eungmin ini. Kadang-kadang dia terkejut dengan ide-ide kami ketika kami memainkan lagu-lagu nya. Itu yang menarik dengan musik jazz saya pikir - saling mempengaruhi,” kata Dongha.

Untuk menghormati warga Swedia, Kuartet Eungmin Cho mengakhiri penampilan mereka dengan membawakan lagu Dancing Queen versi jazz.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Suap Dirjen Hubla, KPK Periksa Menhub

  • Dinas Kesehatan Nunukan Gratiskan Perawatan dan Beri Intensif 100 Ribu Perhari Bagi Orang Tua Balita Gizi Buruk.
  • Korut: Tak Ada Diplomasi Sebelum Rudal Kami Hantam AS
  • Napoli dan Benevento Ukir Rekor Baru di Liga Italia