Di Pakistan, Sampah Diolah Jadi Perabot Hingga Kolam Renang

Nargis Lateef mendedikasikan hidupnya untuk mendaur ulang berton-ton sampah yang diproduksi pusat industri negara itu, kota Karachi.

Senin, 19 Des 2016 11:34 WIB

Nargis Lateef di bengkel daur ulang sampahnya di Karachi, Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Nargis Lateef di bengkel daur ulang sampahnya di Karachi, Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)


Apakah Anda pernah berpikir kalau sampah bisa digunakan untuk membuat tempat penampungan, perabotan rumah tangga yang indah atau bahkan kolam renang?

Seorang peneliti asal Pakistan mencoba menaklukan tantangan ini selama lebih dari dua dekade.

Nargis Lateef mendedikasikan hidupnya untuk mendaur ulang berton-ton sampah yang diproduksi pusat industri negara itu, kota Karachi.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, berberbincang dengan Nargis dan menyusun laporannya untuk Anda.

Kehidupan bergerak dengan cepat di Karachi, pusat ekonomi dan industri Pakistan. Kota pelabuhan ini berpenduduk 20 juta jiwa dan menghasilkan sekitar 20 ribu ton sampah setiap hari.

Inilah bidang keahlian Nargis Lateef. Peneliti berusia 63 tahun ini sudah menekuni masalah sampah selama lebih dari dua dekade.Bengkel kerja Lateef berupa tempat penampungan barang rongsokan yang berada di tengah lautan gedung tinggi di kawasan kelas atas, Gulshan-e-Iqbal.


Bambu, kardus, barang, pembungkus dan sampah daur ulang lainnya berserakan dimana-mana.

“Saya selalu bekerja dengan barang-barang yang tidak mau disentuh orang lain,” ujar Lateef. “Ini dimulai pada 1994, saat itu saya sudah merasa muak dengan pembakaran sampah di kota ini.”

“Selama satu tahun pertama, saya melakukan banyak riset. Saya sampai pada kesimpulan bila ada uang yang terlibat, orang akan tertarik dengan bisnis ini. Kalau orang-orang mau menjual dan membeli sampah maka tidak ada lagi sampah yang tersisa,” lanjut Lateef.

”Dan kemudian saya mulai mempraktekkannya dan menemukan ada banyak inovasi dan produk baru yang bisa dibuat, yang bisa mengubah perekonomian negara dan dunia,” tambahnya.

“Saya mulai dengan bank, namanya Bank Sampah dan Emas. Kami mulai dengan memberikan koin emas 17 atau 18 karat untuk ditukar dengan sampah. Dulu ada pasar mingguan dan kami buka kios di sana. Ini menarik perhatian para perempuan kaya yang membawa sampah kering seperti berbagai jenis kertas, plastik, dan logam. Bank kami mendapat sambutan yang luar biasa.”

Sampah menjadi masalah besar bagi Karachi karena sistem managemen sampah kota itu masih lemah.

Dan kadang, petugas korup yang bertugas mengumpulkan sampah, membakar sampah-sampah itu untuk menghemat biaya transportasi.

Jadi inisiatif Lateef yang awalnya berskala kecil, mulai bekembang dan berdampak. Dia menciptakan kesadaran kalau sampah ada nilainya dan bisa di daur ulang.

“Anda bisa mengatakan ini adalah titik kesuksesan kami. Ini menjadi sebuah gerakan yang tersebar di seluruh kota. Tapi saya tidak berhenti di sini. Saya terus melakukan penelitian karena menjadi seorang ilmuwan adalah mimpi saya sejak kecil,” jelas Lateef.


Segera pusat riset itu berubah menjadi tempat kerja, tempat sampah diubah.

Di tengah-tengah ruangan contohnya, ada struktur perak yang berkilauan. Lateef menyebut penemuan terbaru dengan nama Chandi.

“Teknologi Chandi atau perak kini menarik perhatian global. Teknologi yang kami gunakan ini disebut metalized film. Ini adalah bahan kemasan untuk  berbagai jenis makanan yang dijual di seluruh dunia, bukan hanya Pakistan.”

Struktur perak terbuat dari blok konstruksi yang ditutup pembungkus yang berasal dari limbah bungkus biskuit, keripik dan lainnya.

Tumpukan batu bata perak plastik membentuk dinding Chandi, sementara lapisan anyaman bambu jadi atapnya.

Di belakang kami, ada lima pekerja sibuk membuat blok konstruksi dari sampah. Masing-masing beratnya lima kilogram dan empat kali lebih besar dari batu bata normal.

“Dengan blok dan panel ini, Anda bisa membuat perabot, waduk air, tempat tidur, kolam renang bahkan rumah. Ada banyak hal yang bisa Anda buat,” kata Lateef. 

Sudah ratusan orang yang menggunakan perabot yang diproduksi di bengkel Lateef. Termasuk sebuah LSM yang membeli beberapa batu bata untuk membangun tempat penampungan bagi keluarga pengungsi.

Lateef mengatakan keberhasilan ini terus memotivasinya untuk bekerja dan menjadi inspirasi untuk meneruskan kerjanya yang sudah berjalan dua dekade. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!