Poster Film Dokumenter 'Don't think I've forgotten'. (Foto: Kannikar Petchkaew)

Poster Film Dokumenter 'Don't think I've forgotten'. (Foto: Kannikar Petchkaew)

Tahun ini menandai 40 tahun genosida di Kamboja. Dua juta orang tewas karena penyiksaan, penyakit, penderitaan dan kelaparan, ketika Khmer Merah berkuasa.

Menghadapi sejarah menyakitkan tidak pernah mudah. 

Tapi seperti yang ditemukan Kannikar Petchkaew, beberapa orang Kamboja yang selamat, menemukan cara untuk hidup dengan kenangan buruk itu. Dan mereka memberikan kehidupan baru kedalam budaya Kamboja yang pernah dibungkam.

Di awal tahun 70an, duet ini sangat terkenal. Sin Sisamouth dan Ros Serey Sothea adalah penyanyi ternama di Kamboja saat itu. Keduanya sudah merekam lebih dari 100 lagu yang hampir semuanya menjadi hit.

Sin Sisamouth secara luas dianggap sebagai ‘Raja Musik Khmer’. Sedangkan almarhum Raja Norodom Sihanouk menggambarkan Ros Serey Sothea sebagai ‘suara emas ibukota kerajaan.’

Era mereka dikenal juga sebagai ‘Zaman Keemasan’ Musik Kamboja. Tapi semuanya berubah pada 17 April 1975.

Ketika Khmer Merah mengambil alih kekuasaan, mereka menyapu bersih semua jejak modernitas dan pengaruh Barat. Kaum intelektual, seniman dan musisi menjadi target dan dibunuh, 

Sin Sisamouth dan Ros Serey Sothea ikut menjadi korban. Keduanya dibunuh dan album rekaman mereka dihancurkan. Zaman keemasan musik Kamboja pun dibungkam.

Teror yang ditebar Khmer Merah selama empat tahun berkuasa menyebabkan dua juta jiwa tewas, jumlah ini seperempat dari keseluruhan penduduk Kamboja.  

Ini adalah Youk Chhang, salah satu korban selamat yang masih dihantui masa-masa pembantaian itu. Belum lama ini dia berada di Bangkok.

“Umur saya 50an tahun saat ini dan saya tidak pernah merasakan kedamaian. Kedamaian menurut saya adalah bisa tidur nyenyak di malam hari dan bangun tanpa rasa takut atau terintimidasi serta bebas tinggal bersama keluarga. Tapi saya tidak merasakan itu semua karena saya sudah kehilangan semua anggota keluarga saya.”

Tentara Khmer Merah menangkap Youk Chhang saat dia berusia 14 tahun. Dia ditangkap karena mengambil jamur untuk makanan kakaknya yang kelaparan dan sedang hamil. Dia disiksa sementara kakak, bibi, paman, kakek dan neneknya dibunuh tentara.

Sementara ibu dan saudara Chhang yang lain berhasil melarikan diri Kamboja menuju perbatasan Thailand. Di sana mereka tinggal di kamp pengungsian selama setahun sebelum akhirnya berhasil tiba di Amerika Serikat sebelum pembantaian berakhir pada 1979.

Tujuh belas tahun kemudian, Chhang kembali ke Kamboja sebagai penyelidik bagi Persidangan Genosida Internasional.

Walau sulit untuk diakui, tapi awalnya dia ingin melihat semua orang yang bertanggung jawab dieksekusi karena kejahatannya.

“Saya sudah hancur Masyarakat menjadi rapuh dan saya sangat ingin melakukannya,” aku Youk Chhang.

Tapi setelah beberapa waktu dia menyadari ini sia-sia karena eksekusi tidak akan menghilangkan rasa sakit itu. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya untuk mendidik generasi yang lebih muda.

“Saya seorang penyelidik jadi saya sering berurusan dengan kejahatan genosida. Dan saya pikir kejahatan ini terus terjadi dan tidak berhenti karena ada pengadilan. Karena itu penting untuk mendidik generasi muda. Dari penelitian, saya tahu kalau banyak orang membaca tulisan akademis. Jadi menurut saya kita butuh sesuatu yang akan menghubungkan orang-orang muda yang tidak mengalami dengan pembantaian itu. Dan itu adalah musik,” kata Youk Chhang.

Itulah mengapa Chhang punya ide untuk menghidupkan kembali musik Kamboja yang hilang di bawah rezim itu.

Zaman keemasan Sin Sisamouth, Ros Serey Sothea, dan musisi Kamboja lainnya kembali.

Dengan bantuan bahan-bahan dari Pusat Dokumentasi Kamboja, Chhang dan timnya berhasil memproduksi sebuah film berjudul “Jangan pikir saya sudah lupa, Rock and Roll Kamboja yang hilang.”

Film dokumenter itu menyusuri liku-liku musik Kamboja, ketika berubah menjadi rock and roll, berkembang, dan hampir hancur bersama dengan seluruh negeri. Film ini diisi lagu-lagu lama yang diaransemen ulang menggunakan teknik modern.

Chhang mengatakan musik punya cara khusus untuk menjangkau masyarakat dan dia berharap film ini akan membantu kaum muda Kamboja memahami pembantaian itu. 

“Genosida adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan musik adalah sesuatu yang universal. Menurut saya orang sudah mengabaikan peran seniman dalam masyarakat. Saya melihat mereka seharusnya menyuarakan cerita mereka sendiri. Karena itu saya memilih musik.”

Menurutnya musik berakar dalam pada rakyat Kamboja.“Ini adalah musik yang merasuk dalam hati dan bahkan dalam darah mereka. Khmer Merah bisa saja membunuh semua seniman tapi karena itu dalam darah mereka, musik tidak bisa diambil dari mereka.”

Film ini belum dirilis di bioskop-bioskop tapi Chhang berencana untuk memutar dokumenter ini ke semua desa di Kamboja tahun depan.

“Ini soal pelestarian, soal kebangkitan, dan soal modernisme apa yang kita hadapi saat ini dalam budaya kita. Tanpa budaya kita tidak bisa hidup. Jika budaya mati, maka kita juga mati, ” kata Youk Chhang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!