Razia petugas keamanan di perbatasan India Nepal untuk mencegah perdagangan perempuan. (Foto: Jasvin

Razia petugas keamanan di perbatasan India Nepal untuk mencegah perdagangan perempuan. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Delapan bulan berlalu sejak gempa dahsyat melanda Nepal yang menewaskan 10 ribu orang dan memaksa satu jutaorang mengungsi.

Bencana alam itu menghantam perekonomian dengan menghancurkan banyak mata pencaharian.

Kini gempa tak lagi terasa tapi dampaknya masih dirasakan, terutama oleh perempuan muda Nepal. Banyak yang terbujuk masuk ke dalam industri seks di negara tetangga India.

Dalam laporan lintas batas khusus ini, Rajan Parajuli dan Jasvinder Sehgal mencari tahu apa yang terjadi di lapangan.

Di pinggiran selatan Kathmandu, warga masih membersihkan puing-puing akibat gempa April lalu.

Di satu sisi, tampak sebuah bangunan yang dindingnya roboh sehingga keadaan di dalam rumah tampak jelas. Tempat tidur dan lemari berlumpur tampak hancur dan pakaian berantakan.

Di sudut jalan lain, tampak sebuah rumah sedang dibangun kembali.

Manisha Pariyar yang berusia 21 tahun membawa setumpuk bata di punggungnya.

“Sangat sulit bila harus bekerja 12 jam sehari. Saya tidak bisa bertahan hidup bahkan setelah melakukan semua pekerjaan ini. Semua tabungan saya habis pasca gempa dan harga sewa rumah meningkat,” keluh Manisha.

Manisha dan adiknya Alina bekerja di proyek pembangunan setiap hari. Tapi penghasilan mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi mimpi untuk mendapatkan rumah mereka kembali sulit terwujud.

Mereka masing-masing menerima 500 ribu rupiah sementara pengeluaran mereka hampir dua kali lipat. Ayah mereka mengidap asma akut dan mereka tidak punya cukup uang untuk membiayai pengobatannya.

Alina mengatakan dia mungkin punya peluang lebih baik di tempat lain. “Saya meminta seorang tetangga pria membantu saya mencarikan pekerjaan di luar negeri. Dia berjanji akan mencarinya. Mungkin jika saya menabung, saya bisa ke luar negeri. Saya bisa membangun kembali rumah saya dan hidup saya akan jauh lebih baik.”

Sejak gempa April lalu, lebih dari 800 ribu orang terpaksa tinggal di rumah-rumah sementara. 

Charimaya Tamang baru saja kembali dari sebuah desa terpencil yang hampir rata dengan tanah. Charimaya diselamatkan dari sebuah rumah bordil di India 10 tahun lalu dan kini dia adalah aktivis anti-perdagangan manusia di Nepal.

Menurutnya gempa itu telah menambah tekanan pada keluarga. Bahkan ada keluarga yang memaksa anak perempuannya menjadi pekerja seks di sepanjang perbatasan.

“Banyak keluarga di daerah terdampak terpaksa tidur dalam satu ruangan. Anak-anak perempuan harus berbagi kamar dengan orangtua, saudara laki-laki dan kadang dengan kerabat. Kadang mereka mengalami pelecehan. Ini semua yang memaksa mereka keluar dari rumah,” kata Charimaya. 

PBB memperkirakan ada 12 hingga 15 ribu perempuan muda dari Nepal diperdagangkan ke India setiap tahun. Mereka dipaksa bekerja di rumah bordil.

Tapi pasca gempa, calo dan penyelundup mengambil keuntungan dari kerentanan ekonomi keluarga Nepal. Mereka melihatnya sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari menjual perempuan untuk dijadikan pekerja seks.

Ini adalah pos pemeriksaan keamanan di sisi perbatasan India. Polisi menghentikan pasangan laki-laki dan perempuan untuk ditanyai.

Polisi menyuruh mereka minggir dan menanyai mereka secara terpisah dan bertanya mereka apa yang mereka lakukan di India. Polisi menuduh sang pria akan menjual perempuan yang bersamanya itu ke India. Tapi pria itu bersumpah itu tidak benar.

“Dia istri saya. Saya menikahinya dua hari lalu di kuil Bageshwari. Bukti kami sudah menikah adalah kalung pernikahan dan bindi merahnya. Saya tidak punya apa-apa lagi untuk membuktikan pernikahan saya," aku sang pria.

Tapi ketika polisi menanyai si perempuan, mereka mendapat cerita yang berbeda. Perempuan itu mengaku kalau pria itu adalah saudara lelakinya, bukan suaminya.

Selama 12 jam di daerah perbatasan ini, ada dua kejadian yang mirip dimana polisi menghentikan orang yang diduga melakukan perdagangan orang .

Ini adalah satu dari 26 pos pemeriksaan di sepanjang perbatasan India – Nepal. Tapi ada ratusan titik tidak resmi lain yang tidak dijaga polisi dan petugas bea cukai.

Ini adalah VH Rao Deshmukh, Inspektur Jenderal Pasukan Polisi Bersenjata (SSB). Dia menjelaskan jumlah kasus yang dilaporkan tahun ini,.

“Kami menyelamatkan 22 perempuan dan 29 anak-anak. Sebelum gempa jumlah yang kami selamatkan tidak sampai setengahnya. Kami juga sudah menangkap 31 pria dan dua perempuan.”

Kembali ke Nepal. Ini adalah Manisha Tamang yang berusia 19 tahun. Dia diselamatkan dari sebuah rumah bordir di India tujuh tahun lalu dan sejak itu dia kembali ke rumahnya di Sindhupalchok.

Daerah ini punya kasus perdagangan orang tertinggi di Nepal. Sejak gempa orangtuanya terus mendesak dia untuk pergi dari desa.

“Tidak ada perempuan seumuran saya tinggal di desa. Mereka sudah menikah atau pergi ke luar negeri. Orangtua saya selalu mengeluh kalau semua orang pergi dan mencari uang tapi saya tidak. Teman-teman saya juga mengatakan hal yang sama. Ini sangat menyiksa saya. Saya tidak mau pergi ke luar negeri karena terlalu beresiko,” kata Manisha Tamang. 

Bagi perempuan Nepal menjadi korban perdagangan orang bisa menjebak mereka masuk jaringan perdagangan orang yang lebih besar.

Anuradha Koirala, pendiri Maiti Nepal, LSM yang menyelamatkan para perempuan korban perdagangan orang. Dia mengatakan jumlah pekerja seks asal Nepal meningkat secara global.

“Mereka kini menjadikan India dan Sri Lanka tempat transit sebelum menuju negara lain seperti Irak, Suriah, atau Lebanon. Mereka pergi ke Delhi dan tinggal di sana selama beberapa waktu. Para perempuan itu dibawa ke sana lewat jalur darat. Kalau ditanya mereka mengaku ke Sri Lanka sebagai turis. Dari Sri Lanka mereka ke Dubai lalu ke Irak.”

Dengan banyaknya perempuan muda Nepal yang beresiko menjadi korban, para aktivis HAM mengatakan ini saatnya mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas perdagangan orang di daerah perbatasan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!