Pejuang ISIS di timur Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Pejuang ISIS di timur Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Setelah mengaku bertanggung jawab atas serangkain serangan, para analis mengatakan kelompok teroris ISIS sedang membangun kekuatan di Afghanistan. 

Upaya itu terutama terkait minoritas Hazara. Awal bulan lalu tujuh orang Hazara termasuk perempuan dan anak-anak dipenggal setelah diculik militan ISIS. 

Ghayor Waziri menyusun laporannya untuk Anda. 

Sudah 18 bulan sejak kelompok teroris ISIS mengambil alih salah satu kota terbesar di Irak dan mendeklarasikan sebuah khilafah Islam. 

Sejak itu para pejuang asing dari seluruh dunia berbondong-bondong bergabung dalam konflik ini. 

Pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi juga menginspirasi munculnya janji kesetiaan dari kelompok militan di Timur Tengah dan juga dari wilayah lain seperti Boko Haram dari Nigeria. Dan tampaknya kini para pejuang sekutu ISIS juga mulai membangun kekuatan di Afghanistan.

“Ada dua tujuan ISIS atau Daesh di Afghanistan. Pertama, mereka ingin punya basis selain di Suriah dan kedua, merekrut warga Afghanistan untuk memperluas perjuangan mereka ke Asia Tengah. ISIS di Afghanistan sama saja dengan ISIS di Irak dan Suriah. Tapi sekarang terbatas di wilayah terpencil dan pegunungan,” kata pakar terorisme Salem Wahdat. 

Mahasiswa Hazara berusia 33 tahun Khalil Aseer sangat khawatir dengan munculnya ISIS di Afghanistan. Hazara adalah warga minoritas yang kerap jadi korban serangan Taliban. Tapi baru-baru ini ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap komunitas Hazara termasuk pemenggalan brutal yang terjadi awal bulan lalu. 

“Ada delapan penculikan di Provinsi Ghazni dan Zabul. Tujuh diantaranya ISIS yang bertanggung jawab. Penculikan itu terjadi beberapa pekan lalu saat ISIS menculik tujuh orang Hazara termasuk perempuan dan anak-anak di Provinsi Zabul. Para korban penculikan semua dipenggal. Menurut saya dengan menculik orang Hazara, ISIS berupaya untuk memarginalisisasi golongan agama dan etnis,” kata Khalil Aseer.

Pasca pemenggalan warga Hazara itu, puluhan ribu warga Afghanistan berunjuk rasa di jalanan Kabul dan meneriakkan "Matilah Negara Islam". Pengunjuk rasa juga menuntut pemerintah mengambil tindakan atas pembunuhan itu. 

Fatima Nabawee bergabung dengan aksi unjuk rasa itu. “Tuntutan kami adalah terjaminnya keamanan masyarakat. Kami punya hak untuk hidup dalam kemerdekaan, jauh dari resiko dan ketidakamanan. Karena kemerdekaan adalah hak warga negara.” 

Idiologi ISIS adalah paham Salafi yang menurut analis Salem adalah intepretasi yang sangat keras dari ajaran Islam. Sementara ISIS dipercaya akan membangun kekuatan di Afghanistan, Salem yakin kelompok itu tidak akan memperoleh perhatian yang signifikan. 

“Informasi dan penelitian terbaru soal pendukung ISIS di berbagai negara menunjukkan dukungan untuk ISIS di Afghanistan rendah. Di masa lalu upaya menyulut perjuangan agama tidak berhasil. ISIS sedang berupaya untuk mempromosikan perpecahan agama dan pertempuran di kawasan, Afghanistan, akistan, Irak dan Suriah,” papar Salem Wahdat. 

Pemerintah Afghanistan yakin ISIS bergerak aktif di Provinsi Nangerhar, sebuah daerah terpencil di Afghanistan Timur. Beberapa anggota bekas Taliban diperkirakan ikut bergabung. 

Kepala Badan Intelijen Afghanistan Rahmatullah Nabil dalam sebuah jumpa pers pekan lalu mengatakan ektrimis Pakistan juga terlibat. 

“Tahun lalu saat Pakistan memulai operasi besar-besaran memburu kelompok teroris di daerah kesukuan, berbagai kelompok teroris masuk Afghanistan bersama keluarga mereka. Kebanyakan teroris yang berperang melawan pasukan Afghanistan di Provinsi Nangerhar, 70 persennya berasal dari daerah kesukuan Pakistan.” 

Kehadiran ISIS di Afghanistan juga membuat marah milisi Taliban yang mengklaim merekalah satu-satunya yang bertanggung jawab atas jihad di negara itu. Bulan lalu anggota Taliban juga mengklaim telah membunuh beberapa pendukung ISIS. 

Sidiq Sidiqee, juru bicara Kementerian Dalam Negeri, menjelaskan tanggapan pemerintah atas kehadiran ISIS. “Strategi perlawanan kami menghadapi ISIS belum lama ini disetujui pemerintah. Dalam tiga bulan terakhir ada ratusan anggota ISIS ditangkap dan dibunuh di Provinsi Nangerhar, Helmand dan Farah.” 

Sejak beberapa serangan di Paris, pemerintah Afghanistan telah meningkatkan strateginya. Tapi sekarang dengan memerangi dua kelompok garis keras, Taliban dan ISIS, ada tantangan besar yang harus dihadapi.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!