Khoda Bakhsh korban penculikan ISIS di Afghanistan yang berhasil selamat. (Foto: Ghayor Waziri)

Khoda Bakhsh korban penculikan ISIS di Afghanistan yang berhasil selamat. (Foto: Ghayor Waziri)

Khoda Bakhsh tidak pernah membayangkan akan diculik oleh kelompok teroris ISIS.

Tapi selama sembilan bulan, Khoda Bakhsh dan 30 orang lainnya disekap kelompok itu di Provinsi Zabul Afghanistan.

Dalam sebuah wawancara ekslusif, Ghayor Waziri mendengarkan kisahnya yang mengerikan.

Pagi itu matahari bersinar cerah tapi udara terasa dingin saat saya tiba di rumah Khoda Bakhsh di Kabul. Tapi begitu masuk ke dalam rumahnya, suasana terasa hangat dengan ramainya tamu dan anak-anak.

Februari lalu Khoda Bakhsh bepergian menggunakan bus. Saat melewati jalan bebas hambatan Kabul-Herat dia dan 30 penumpang lainnya yang kebanyakan etnis Hazara diculik militan ISIS.

Khoda Bakhsh yang berusia 34 tahun tidak pernah membayangkan hal ini akan menimpa dirinya. 

Para penumpang bus baru saja melanjutkan perjalanan setelah berhenti untuk makan siang kata Khoda Bakhsh.

“20 menit kemudian, saya melihat puluhan pria berseragam pasukan keamanan nasional Afghanistan, bertopeng dan bersenjata. Mereka menghentikan kendaraan kami dan mengarahkan kendaraan kami ke jalan lain selama 20 menit. Setelah itu mereka menyuruh semua penumpang turun dan membawa kami ke pegunungan.” 

Khoda Bakhsh mengatakan para pria bersenjata itu adalah orang Uzbek - anggota dari Gerakan Islam Uzbekistan atau IMU. Tahun lalu mereka menyatakan bergabung dengan ISIS.

IMU telah aktif di Afghanistan lebih dari satu dekade, memerangi Pasukan Keamanan Afghanistan.

Sembilan belas dari 31 penumpang yang diculik dilepas pada 1 Mei lalu. Mereka ditukar dengan 22 pejuang militan Uzbek yang ditahan di penjara Afghanistan. Kesepatatan ini tidak pernah  diumumkan secara terbuka.  

“Awalnya mereka tidak bertanya apa-apa. Mereka hanya memukuli kami. Mereka bilang mengapa kalian mau hidup di bawah Pemerintahan Afghanistan yang kafir? Semua penculik adalah orang Uzbek. Selama sembilan bulan bersama mereka, saya tidak pernah melihat orang Pashtun atau Tajik. Semua berbicara bahasa Uzbek satu sama lain. Hanya satu orang yang mengawal kami yang bisa bahasa Persia,” kisah Khoda Bakhsh.    

Selama berbulan-bulan diculik, mereka disiksa dengan kejam.

“Di atas gunung ada rumah yang sudah roboh. Di malam kedua, mereka membagi kami dalam dua kelompok dan mulai bertanya soal pekerjaan kami. Mereka mencari orang-orang yang bekerja untuk pemerintah. Salah satu teman saya seorang petugas keamanan dipenggal di depan mata kami. Mereka mengirim kepalanya ke pemerintah dan menyuruh kami mengubur badannya,”

Selama diculik, Khoda Bakhsh melihat empat temannya dibunuh militan ISIS. Ini adalah masa-masa yang sangat berat. Dia bahkan sulit berpikir tentang keluarganya.

“Semua harapan untuk hidup sirna selama disekap. Di pekan terakhir saya di sana, mereka mengatakan pada kami jika pemerintah tidak mau melakukan pertukaran, kami semua akan dipenggal. Kaki dan tangan kami dirantai dan kami disiksa dengan berbagai cara yang bisa dibayangkan. Sekujur tubuh dipukuli dan luka-luka kami ditaburi garam. Dua kali mereka mencoba mengubur saya hidup-hidup dan dua kali saya hampir dipenggal, dimana pisau sudah menempel di leher,” kenangnya.

Setelah beberapa bulan disekap, Khoda Bakhsh dan enam sandera lainnya tahu kalau Taliban berencana menyerang kelompok militan yang menyekap mereka.

Para penculik lalu memberi mereka rompi bunuh diri dan menyuruh mereka meledakkan diri jika militan Taliban tiba. Tapi kenyataan yang terjadi berbeda.

“Sebenarnya Taliban lah yang membebaskan kami. Ketika pertempuran antara ISIS dan Taliban berlangsung, kami mendengar suara tembakan dan ledakan. selama tiga hari dua malam,” kata Khoda Bakhsh

Lalu ada keheningan yang menakutkan.

“Saat siang di hari ketiga, pertempuran makin tak terdengar. Tiba-tiba militan Taliban masuk kamar kami dan berkata 'kalian sekarang bebas'. Kami pikir ini tidak mungkin dan beranggapan mereka akan membunuh kami. Tapi mereka membawa kami ke rumah mereka dan memberi kami makan dan minum.”

Kakak Khoda Bakhsh bernama Ali Daad adalah orang pertama yang mendengar kabar ini.

“Saya sedang berada di rumah, saat dia menelepon. Dia bilang 'Saya Khoda Bakhsh dan sudah bebas dari ISIS.’ Awalnya saya tidak percaya dan meminta dia untuk tidak berbohong. Tapi kali kedua dia menelpon, saya percaya. Saya sangat gembira dan segera memberitahu ibu saya.”

Keluarga Khoda Bakhsh mendegar kabar penculikannya dan tidak tahu apakah bisa bertemu lagi dengannya atau tidak. 

Dia senang bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Tapi dia sangat trauma dengan pengalaman itu. 

Sementara itu keluarganya kini harus membayar utang ribuan dollar yang digunakan untuk membebaskannya.

Tapi setidaknya Khoda Bakhsh bisa mengatakan 'Saya diculik ISIS dan saya berhasil selamat'.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!