Tabu Seputar Menstruasi Rugikan Perempuan India

Penelitian UNICEF menunjukkan 28 persen gadis usia sekolah tinggal di rumah saat mereka sedang menstruasi. Sementara perempuan dewasa kehilangan lima hari kerjanya setiap bulan.

Minggu, 26 Nov 2017 15:00 WIB

Toilet umum bagi perempuan miskin India yang tidak mempunyai toilet pribadi di rumah. (Foto: Abhijan

Toilet umum bagi perempuan miskin India yang tidak mempunyai toilet pribadi di rumah. (Foto: Abhijan Barua)

Sekelompok perempuan di India berupaya menghilangkan rasa malu dan stigma. Kondisi ini membuat mereka tidak bisa bersekolah dan bekerja selama lima hari setiap bulannya. Koresponden Asia Calling KBR, Abhijan Barua, menyusun ceritanya dari bagian timur kota Kolkata, India.

Di daerah kumuh di Kolkata, potongan kain bekas digantung di dalam rumah-rumah yang sempit. Kain-kain itu tampak lembab karena pemilikya terlalu malu untuk menjemurnya di luar. Para perempuan yang tidak mampu membeli pembalut, menggunakan potongan kain bekas ini berulang-ulang, setiap bulan.

Shubhadra Kayal adalah pekerja rumah tangga berusia pertengahan 40an. Dia tidak mampu membeli pembalut karena penghasilannya pas-pasan. Sebagai gantinya dia menggunakan potongan kain. Karena cuaca panas dan lembab kota Kolkata, dia pun mengalami masalah kesehatan. 

“Dokter mengatakan kalau saya mengalami infeksi. Tapi kami tidak paham soal itu. Saya telah menderita akibat infeksi ini selama sekitar dua tahun. Saya sangat menderita sampai harus berhenti bekerja,” tutur Shubhadra Kayal.

Menurut data USAID, 80 puluh persen perempuan India tidak menggunakan pembalut sekali pakai saat menstruasi. Sebagai gantinya, mereka menggunakan potongan kain yang dipakai berulang kali, dicuci dengan air dingin, dan digunakan saat masih lembab. Ini menyebabkan infeksi dan luka berkembang biak.

Penelitian UNICEF menunjukkan 28 persen gadis usia sekolah tinggal di rumah saat mereka sedang menstruasi. Sementara perempuan dewasa kehilangan lima hari kerjanya setiap bulan. Ini karena kurangnya akses terhadap fasilitas sanitasi atau perasaan malu saat menstruasi. Ini membuat perempuan di negara itu kehilangan hak atas pendidikan dan pendapatan.

Swapna Tripathi dari organisasi advokasi perempuan Srishti menjelaskan masalahnya bukan hanya uang. “Bukan itu. Saya tidak menggunakan pembalut bukan hanya karena kendala keuangan. Itu bukan alasan utamanya. Ini karena pola pikir kuno yang menyebut Anda adalah seorang perempuan dan Anda seharusnya merasa malu jika sedang mens. Anda seorang perempuan harus tinggal di rumah bila sedang menstruasi,” tutur Swapna Tripathi.

Menurut UNICEF, enam dari 10 perempuan dikeluarkan dari ritual keagamaan saat mereka sedang menstruasi. Tapi Kampanye Give Her 5 mengklaim mereka punya solusinya. Kampanye yang didukung 11 LSM ini mendistribusikan pembalut yang bisa dipakai berulang kali yang disebut Saafkin. 

“Kami menyediakan satu set yang isinya dua buah. Jadi perempuan bisa memakainya bergantian. Pembalut ini juga cepat kering sehingga saat mau digunakan lagi pasti sudah kering. Pembalut ini bisa digunakan selama 12 jam dan kemudian dicuci dan digunakan lagi sebayak 70 kali,” jelas Shivany Swamy.

Satu set Saafkin harganya 150 rupee atau sekitar 30 ribu rupiah dan bisa digunakan lebih dari setahun. Dengan harga segitu biasanya hanya bisa membeli pembalut sekali pakai untuk pasokan satu bulan saja. Kampanye ini aktif di bagian barat, tengah, timur dan utara India, dan ada rencana untuk memperluasnya.

Preeti Gaikward dari Yayasan Organisasi Watershed, LSM mitra Give Her 5. Dia mengatakan meski distribusinya mendapat tanggapan positif dari perempuan dan laki-laki, masih ada hambatan mendasar yang harus diatasi.

“Mereka sangat malu untuk pergi ke toko dan membeli Saafkin,” kata Preeti Gaikwad.

Inisiatif lain juga dilakukan di seluruh India. Mereka mendistribusikan produk seperti menstrual cups  atau cangkir menstruasi yang bisa dipakai berulang kali, dan meningkatkan kesadaran warga di pedesaan.

Kampanye ini bekerja sama dengan pemerintah India untuk meningkatkan kesadaran dan aksesibilitas. Tapi Swapna Tripathi mengatakan tabu disekitar menstruasi membuat pekerjaan mereka jadi sulit.

“Isu perempuan ini masih jadi topik tertutup. Ini sangat merugikan perempuan. Bahkan sampai hari ini, masyarakat, kantor dan pengadilan, semua merasa ini adalah sebuah rahasia dan membicarakannya adalah hal memalukan,” keluh Swapna Tripathi.

Pada bulan Juli lalu, pemerintah India menaikkan pajak untuk pembalut dan menandainya sebagai barang mewah. Ini membuat harga pembalut lebih mahal dari sebelumnya. Shivany Swamy mengatakan agar perubahan bisa terwujud, dibutuhkan perubahan sikap di seluruh negeri.

“Rasa malu adalah masalah besar di India. Dan agar perubahan bisa terwujud dibutuhkan pendidikan, kesadaran, perubahan perilaku, dan kebiasaan baru,” kata Shivany Swamy.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur