Penyebab Pembangunan Infrastruktur di Myanmar Tertinggal

Pemerintah Myanmar mengatakan mereka berharap bisa mengembangkan jalan tapi tidak punya dana untuk melakukannya.

Minggu, 26 Nov 2017 10:00 WIB

Jalan Than Phyu Zayat- Phayar Thonsoo di Myanmar. (Foto: Myitmakha Media Group)

Jalan Than Phyu Zayat- Phayar Thonsoo di Myanmar. (Foto: Myitmakha Media Group)

Dalam beberapa bulan terakhir, Aung San Suu Kyi menghadapi rentetan kecaman internasional. Termasuk soal langkahnya yang lambat menangani kasus etnis minoritas Rohingya yang dipaksa keluar dari negara itu akibat gelombang serangan mematikan.

Sementara di dalam negeri, Aung San Suu Kyi menikmati banyak dukungan dari elit soal kasus itu.

Tapi beberapa ketidakpuasan bermunculan saat pemerintah mengabaikan daerah lain, seperti pembangunan infrastruktur.

Kita simak laporan yang disusun jurnalis dari kelompok media Myitmakha di Yangon, Myanmar.

Di selatan Myanmar, jalan yang berbelok-belok yang terbuat dari setengah beton setengah tanah, membelah pegunungan.

Di pinggir Jalan Than Phyu Zayat - Phayar Thonsoo dipenuhi pepohonan. Petugas keamanan di sepanjang jalan ini sangat sedikit. Jalan ini terkenal karena merupakan jalur penyelundupan narkoba.

Petani U Kyaw Zin mengatakan bepergian menggunakan jalan ini sangat beresiko. Kelompok pemberontak bersenjata kerap menginterogasi wisatawan dan memeras uang mereka.

“Mereka mengajukan pertanyaan seperti, ‘Anda mau pergi kemana’ atau ‘apa yang akan Anda lakukan?’ Pemberontak bersenjata selalu mengawasi siapa saja yang masuk wilayah mereka. Penduduk asli sedikit lebih aman sementara orang luar menghadapi banyak pertanyaan,” tutur U Kyaw Zin.

Ini adalah tanah milik kelompok etnis Mon dan Karen. Dan seperti di banyak wilayah di Myanmar, gerilyawan bersenjata telah memerangi militer nasional selama lebih dari enam dekade.

Bagi orang Mon dan Karen, jalan ini merupakan jalur potensial untu keluar dari kemiskinan.

Ada lebih dari 20 desa di sepanjang jalan ini dan lebih dari 500 ribu orang tinggal di daerah itu, yang kebanyakan petani.

Untuk saat ini, hasil pertanian yang sebagaian besar adalah beras dijual di pasar lokal. Tapi jalan yang bagus bisa menghubungkan mereka dengan pasar internasional melalui Delta Mekong Vietnam.

Pedagang lokal, U Naing Aung mengatakan itu tergantung pada pengembangan jalan: pengaspalan akan membuat jalan nyaman dilewati.

“Jika jalannya mulus dan enak digunakan, pariwisata akan meningkat. Untuk perdagangan, hanya butuh waktu sekitar 10 jam berkendara dari Bangkok ke Than Phyu Zayat. Narkoba dan perdagangan ilegal lainnya juga akan berkurang,” harap U Naing Aung.

Keadaan jalan yang buruk membuat peluang ekonomi masyarakat lokal lebih sedikit. Ini berdampak pada kesehatan dan pendidikan mereka.

Anak-anak sering tidak sampai ke sekolah karena jalannya tidak bisa diandalkan. Mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan tidak bisa mengakses dokter atau obat-obatan.

Naw Say Mu tinggal di kota Than Phyu Zayat bersama kedua anaknya.

“Ketika anak-anak pergi ke sekolah, mereka melewati jalan itu. Jika ada keadaan darurat medis, kami mengandalkan jalan itu. Tapi jalannya jelek dan sulit untuk digunakan. Kondisinya makin buruk saat musim hujan,” jelas Naw Say Mu.

Pembangunan infrastruktur Myanmar tertinggal jauh dari negara tetangga. 

Sekolah, rumah sakit dan jalanannya dalam kondisi kumuh dan tidak ada fasilitas pendukung dan jumlahnya masih sedikit terutama di daerah terpencil.

Pemerintah Myanmar mengatakan mereka berharap bisa mengembangkan jalan tapi tidak punya dana untuk melakukannya. 

“Sebuah organisasi dari Thailand menawarkan diri untuk membuka jalan tapi masih dalam proses negosiasi dengan pemerintah. Jika kami bisa mendapatkan pinjaman atau bantuan lain dari investor asing, kami bisa menyelesaikan pembangunan jalan dalam waktu sangat singkat. Ini akan mewujudkan impian masyarakat,” jelas U Thaung Han Soe dari Kementerian Konstruksi.

Thailand akan mendapatkan peluang perdagangan baru dan ingin memperkuat hubungannya dengan negara tetangga Myanmar.

Namun mereka masih menunggu Parlemen Myanmar untuk mengubah undang-undang penanaman modal asingnya untuk membuka jalan bagi investasi seperti ini.

Ketika Aung San Su Kyi berkuasa di Myanmar, banyak orang seperti petani U Kyaw Zin, berharap dia bisa membawa solusi baru atas masalah yang telah lama berlangsung.

“Kami berharap kondisi jalan akan membaik dengan keputusan pemerintah baru yang dipimpin Aung San Su Kyi. Tapi sejauh ini belum ada perubahan,” kata U Kyaw Zin.

Pemerintahan Aung San Su Kyi saat ini kewalahan dengan proses perdamaian nasional. Pemerintah berusaha menyeimbangkan peran militer, nasib kelompok etnis minoritas, kritik internasional dan opini publik.

Sementara itu, rakyat Myanmar masih menunggu langkah untuk mengatasi masalah krusial lainnya, seperti pembangunan infrastruktur dan investasi asing.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi