Warisan Antropolog Belanda di Oriental Mindoro Filipina

Antoon Postma mendokumentasikan sekitar 20 ribu puisi suku ini selama lima dekade hidup di antara orang-orang Mangyan.

Senin, 28 Nov 2016 10:58 WIB

Antoon Postma bersama keluarganya. (Foto: Mangyan Heritage Center)

Antoon Postma bersama keluarganya. (Foto: Mangyan Heritage Center)


Budaya suku Mangyan Filipina di pulau Mindoro terus berada di bawah ancaman akibat modernisasi.

Tapi lebih dari setengah abad, antropolog Belanda bekerja untuk melestarikan budaya dan naskah-naskah kuno mereka.

Setelah puluhan tahun tinggal di sebuah desa pegunungan bersama suku Mangyan, antropolog tua ini meninggal akibat penyakit gagal hati dan ginjal bulan lalu.

Madonna Virola menyusuri warisannya di Pulau Mindoro.

Yang Anda dengar ini adalah puisi suku Hanunuo Mangyan, tradisi tulis yang ada dalam naskah kuno, yang diakui sebagai warisan nasional di Daftar Memori Dunia UNESCO.

Seorang Belanda bernama Antoon Postma mendokumentasikan sekitar 20 ribu puisi suku ini selama lima dekade hidup di antara orang-orang Mangyan.

Rekaman audio puisi-puisi ini disimpan di Perpustakaan Kongres di Washington D.C. dan perpustakaan Pusat Warisan Mangyan  di Kota Calapan.


Postma, 87 tahun, akrab dipanggil Bapa atau paman, tiba di Mindoro setelah perjalanan selama sebulan dengan kapal dari Belanda. Pertama kali tiba, dia adalah seorang misionaris.

Sejak masih kecil, saya sudah mendengar banyak cerita tentang Postma. Bagaimana dia membantu melestarikan budaya Mangyan dan bahkan mengadopsi pakaian tradisional mereka.

Saya sangat bersemangat mengunjungi Panaytayan, desa tempat dia tinggal, untuk pertama kalinya.

Setelah tiga jam perjalanan, saya tiba di kota Mansalay. Di sana warga dari semua lapisan bercerita tentang pengorbanan Postma untuk menjaga utuh budaya Mangyan selama beberapa generasi.

Saya bertemu Sagangsang, putra Postma yang menikah dengan Wakil Walikota, Lynette, yang mengadvokasi hak-hak Mangyan.


Sagangsang menemani saya naik sepeda motor ke desa mereka. Dalam perjalanan, kami berhenti di makam ayahnya.

“Ketika saya masih muda, dia mengajak saya berjalan kaki beberapa kilometer ke pusat kota. Dia orang yang keras tapi mengajarkan kami untuk bersikap baik dan percaya pada Tuhan. Kami tidak menyangka dia pergi secepat ini,” kenang Sagangsang.

Tidak jauh dari situ, kami bertemu saudara perempuan Sagangsang bernama Anya. Dia baru saja pulang dari acara yang dihadiri para pejabat pemerintah. Mereka mengumumkan kalau desa ini adalah ‘yang pertama dinyatakan bebas narkoba di daerah Mimaropa.’

Anya, 32 tahun, bercerita bagaimana ayahnya sepanjang hari, siang dan malam, berada di perpustakaan lokal.

“Dia melihat betapa berharga dan indahnya budaya Mangyan. Dia adalah contoh bagaimana merangkul dan bangga terhadap budaya seseorang,” kata Anya.

Postma menguraikan dokumen tertua di negara ini, yang disebut Laguna Copperplate, yang ada sebelum abad ke-10.

Saya juga bertemu Yam-ay Insik, istri Postma dan ibu dari empat anak mereka, yang adalah orang Mangyan.

Dia menawari saya kelapa muda yang dia belah dengan bolo, parang khas Filipina.

Di sampingnya ada tokoh desa, Unyo Insik, salah satu anak asuh mereka. Unyo sangat berduka dengan kepergian Postma, tapi dia terhibur dengan warisannya.

“Karyanya jadi referensi. Sekarang kami merayakan Hari Budaya Mangyan. Dia juga membela suku dari perlakukan kasar tentara selama masa Darurat Militer. Dia juga mengajarkan kami untuk bersikap tegas,” kata Unyo.


Postma menerbitkan buku tentang sejarah, budaya dan bahasa Mangyan.

Dia juga menyusun salinan lengkap dari pernyataan pelestarian yang digunakan orang Mangyan untuk mengklaim tanah leluhur mereka.

Saat pemakaman beberapa orang memuji karya Postma. Mereka berterima kasih kepadanya karena mendirikan sekolah untuk orang Mangyan, yang telah menghasilkan beberapa profesional.

Anya, yang sedang menggendong putranya yang berusia dua bulan Antonious, mengaku dia masih berkabung atas kepergian sang ayah.

Tapi dia bersumpah untuk melanjutkan warisannya lewat pekerjaannya di Pusat Warisan Mangyan di Kota Calapan, yang ikut didirikan Postma.

Anya mengajar dan mengadakan pameran tentang budaya mereka di seluruh negeri.


Ketika saya meninggalkan Panaytayan, mata saya berkaca-kaca. Saya merasa belum melakukan banyak hal dibandingkan Postma, seorang asing, untuk suku yang hanya hidup di pulau kami.

Dalam perjalanan pulang, saya pegang erat-erat tempat pena berhiaskan manik-manik khas Mangyan hadiah dari istri Postma.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

Pemerintah Siapkan Regulasi Biaya Minimum Ibadah Umroh

  • Dipecat, Biro Kampus Universitas Malikussaleh Dibakar
  • Polisi Spanyol Lumpuhkan Lima Pelaku Penyerang di Barcelona
  • Perang Narkoba, Polisi Filipina Tembak Mati 13 Orang di Manila

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR