Petani India Kembangkan Kebun Buah di Gurun

Kebun itu dipenuhi pohon delima, mangga, jujube dan gooseberry India.

Senin, 28 Nov 2016 11:17 WIB

Choga Lal Saini. (Foto: Jasvinder Sehgal)

Choga Lal Saini. (Foto: Jasvinder Sehgal)



Mencoba untuk memulai sebuah kebun di gurun pasir terdengar seperti usaha yang sia-sia, bukan ide yang bisa menghasilkan.

Tapi Choga Lal Saini, 67 tahun, adalah tipe orang yang ulet. Selama bertahun-tahun dia bekerja melawan rintangan: menanam ribuan pohon buah di Gurun Thar, India.

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, mengunjungi kebun yang unik ini.

Saya mengemudi Jeep melewati bukit-bukit pasir di kota gurun, Barmer. Daerah ini hampir seluruhnya tertutup pasir, beberapa tempat ditumbuhi semak-semak gurun.

Choga Lal Saini adalah pemandu saya dan kami sedang menuju kebunnya yang tidak biasa. Choga menjelaskan upayanya yang unik.

“Tempat ini terkenal dengan padang pasirnya, di mana pasir dan sedikit air tidak akan membiarkan apa pun tumbuh di sini. Tapi saya telah mengembangkan pohon buah-buahan yang berbeda, yang cocok untuk iklim di sini,” jelas Choga.

“Rasa buahnya unik dan manis. Saya mulai dengan dua ribuan jenis tanaman yang berbeda, tapi setengah dari mereka mati karena kondisi iklim yang keras.”

Tidak mudah berkendara menuju kebun buah karena ban jeep kerap membelok ke dalam pasir. Tapi akhirnya, kami tiba di lokasi.

Kami disambut dengan lagu yang merdu.

Tiga perempuan mengenakan pakaian tradisional merah dan kuning bernyanyi di bawah pohon. Kamla Devi, 55 tahun, adalah salah satunya.

“Kami berasal dari komunitas Vishnoi dan Dewa kami, Jambho ji, telah mengarahkan kami untuk tidak menebang pohon dan tidak membunuh hewan. Lagu kami juga bercerita hal yang sama. Kami akan berdosa jika menebang pohon atau membunuh burung atau binatang lain. Kami tidak bisa membunuh makhluk hidup,” tutur Kamla.


Choga menunjukkan pada saya kebun yang luasnya mencapai 28 hektar. Kebun itu dipenuhi pohon delima, mangga, jujube dan gooseberry India. Dia juga menanam banyak tanaman obat.

“Gooseberry saya yang terbaik. Karena saya menanam mereka di padang gurun sehingga mereka punya sifat khusus. Saya sendiri punya penglihatan yang buruk dan sebelumnya saya pakai kacamata. Sendi lutut saya juga sering sakit dan kadang jadi sulit berjalan. Tapi setelah memakai gooseberry, penglihatan dan sendi saya membaik,” ungkap Choga.

Choga Lal adalah seorang bekas pegawai pemerintah daerah. Ia memutuskan untuk terjun ke bidang pertanian pada 2001. Meski sejak awal dia tahu, ini akan banyak menghadapi rintangan.

“Tantangan utama yang saya hadapi di gurun adalah kekurangan air. Kedua, serangan rayap pada tanaman yang saya atasai dengan minyak tanah. Saya menggunakan bubuk pohon mahoni lokal tapi saya tidak pernah menggunakan kotoran sapi melainkan kotoran kambing,” jelas Choga. 

“Alasannya karena kotoran kambing tidak larut dalam air dan menyediakan makanan untuk tanaman lebih lama. Saya juga selalu mencabuti gulma dari tanaman sehingga mereka bisa tumbuh dengan baik.”

Tapi Choga mengakui mengatasi masalah air di padang pasir tidaklah mudah.

“Ada waktu ketika saya harus menyirami tanaman saya satu persatu memakai kendi tanah. Kemudian, saya membuat irigasi dimana air jatuh langsung di bagianakar, melalui pipa dan tabung. Saya hanya menyirami ladang dengan air bersih. Saya tidak akan menyia-nyiakan air setetes pun.”


Ketika pertama kali mulai, butuh waktu 15 menit untuk memompa air tanah keluar dari sumur pertama dan 45 menit dari sumur kedua.

Tapi pada 2006, daerah yang telah mengalami kekeringan selama beberapa dekade, untuk pertama kalinya mengalami banjir. Tanaman pun berkembang dan membuahkan hasil.

“Pada awalnya ini semua gurun. Tidak ada yang bisa tumbuh di sini. Tidak ada air. Tapi semuanya berubah dengan turunnya hujan lebat dan banjir tahun 2006. Setelah itu tinggi air tanah meningkat. Saya telah membuat tiga tanggul untuk menyimpan air hujan,” jelas Choga.

Setelah berhasil melawan rintangan, Choga sekarang punya target lebih tinggi.

“Mimpi saya adalah menanam hingga lima ribuan pohon gooseberry, dengan bantuan organisasi atau pemerintah. Saya lahir ke dunia untuk membantu orang lain, jika saya tidak melakukan apapun, hidup saya jadi tidak berarti. Jadi kita harus melayani kemanusiaan,” katanya.

Hari sudah malam dan burung-burung pun pulang ke sarang yang mereka buat di dahan-dahan pohon yang ditanam Choga.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR