Perawatan Paliatif Bagi Warga Miskin Jakarta

Lewat perawatan ini, mereka yang hidup dengan penyakit kronis dan terminal dan sulit mengakses obat penghilang rasa sakit, bisa hidup lebih nyaman.

Senin, 14 Nov 2016 16:47 WIB

Susi adalah salah seorang perawat dari Rachel House. (Foto: Nicole Curby)

Susi adalah salah seorang perawat dari Rachel House. (Foto: Nicole Curby)


Perawatan paliatif adalah sebuah praktek yang jarang didengar di Indonesia.

Lewat perawatan ini, mereka yang hidup dengan penyakit kronis dan terminal dan sulit mengakses obat penghilang rasa sakit, bisa hidup lebih nyaman.

Jurnalis Nicole Curby mengeksplorasi satu inisiatif yang menangani orang-orang yang membutuhkan ini di ibukota Jakarta.

Ibu Deti sedang mengunjungi tetangganya Nenek Yanti yang berusia 93 tahun

Rumah Nenek Yanti terdiri dari sebuah ruangan kecil yang ditinggal empat orang anggota keluarganya. Tapi ruangan kecil itu didominasi tempat tidur Nenek Yanti, yang sudah tidak bisa bangun atau bergerak.

Nenek Yanti mengatakan dia tidak bisa buang air besar dan terus-menerus buang air kecil. Dia berbaring di atas lapisan popok terbuka.

Dia meraih lengan saya, yang tiba-tiba terasa lebih gemuk dan elastis daripada sebelumnya, di samping tangannya yang kurus dan berkulit tipis. Dia mengatakan kepada saya kalau saya masih muda dan sehat. Dan sekarang, saya merasakannya.

Tetangga Nenek Yanti, Ibu Deti adalah perempuan yang penuh energi dan humoris. Dia membawa hembusan udara segar ke ruangan kecil ini.

Ibu Deti selalu mengobrol dan berbagi cerita dengan Nenek Yanti dan keluarganya.

Nenek Yanti suka mengingat masa lalu, kata Ibu Deti, tapi selalu diakhiri dengan pertanyaan yang sama. Mengapa saya belum juga mati?Ibu Deti adalah bagian dari tim beranggotakan 900 relawan yang tersebar di seluruh Jakarta. Mereka dilatih dasar-dasar perawatan paliatif oleh LSM Rachel House.

Prita adalah Manager Program di sini dan dia mengatakan relawan dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Relawan kerap mendengar pertanyaan, ‘kapan saya mati’. Bagi sebagian orang, hal ini menimbulkan ketidaknyamanan, terutama keluarga. Jadi dalam pelatihan, para relawan dilatih bagaimana menanggapi pertanyaan semacam ini. Bagaimana menenangkan pasien ketika mereka khawatir. Jika pasien sedih atau marah, relawan tahu cara menanggapinya yang bisa melegakan pasien,” jelas Prita.

Ibu Deti dan relawan lainnya melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk memeriksa kebutuhan dasar pasien dan keluarga mereka. 

Mereka memastikan posisi pasien diubah secara teratur untuk mencegah luka akibat terlalu lama berbaring dengan posisi yang sama. Apakah pasien bisa mendapat popok atau kursi roda atau hal lain yang akan membuat hidup pasien lebih nyaman. 

Tapi salah satu masalah terbesarnya adalah sulitnya mendapatkan obat untuk mengatasi rasa nyeri.

“Salah satu tantangan terbesar pasien dengan penyakit kronis atau serius adalah rasa sakit terus menerus. Ini cenderung tidak diakui atau tidak diobati oleh sistem kesehatan kita saat ini. Kadang-kadang pasien dan keluarga berpikir, jika Anda sakit tentu saja merasa nyeri dan tidak nyaman. Atau ada orang yang berpikir ini adalah ujian atau hukuman dari Tuhan, jadi harus dijalani,” kata Prita.

Ketika kami mengunjungi Nenek Yanti, dia bercerita kalau seluruh tubuhnya nyeri.

Saya bisa melihat rasa sakit itu tercermin di wajahnya dan terdengar lewat helaan nafasnya. Tapi meski dia berjuang, dia tidak melakukan apa pun untuk meringankan rasa sakit itu.

Obat penghilang rasa sakit tidak mudah diakses di Indonesia, bahkan bagi mereka yang sangat membutuhkannya.

Ini penjelasan Prita.

“Salah satu obat penghilang rasa sakit yang paling murah dan efektif yang direkomendasikan WHO adalah tablet morfin. Tapi ini sulit diakses karena banyak petugas kesehatan belum terbiasa atau tidak tahu cara menggunakannya. Dan ada rasa takut di antara petugas kesehatan dan masyarakat, obat ini bisa membuat kecanduan dan menyebabkan kematian. Jadi stigma yang muncul ini ada kaitannya dengan narkoba.”

Mengajarkan keluarga dan petugas kesehatan tentang manajemen rasa nyeri adalah salah satu proyek utama Rachel House.

“Kami melakukan banyak pelatihan. Tujuannya untuk membuat mereka menyadari kalau rasa nyeri harus diobati. Dan ketika Anda melihat seorang pasien, Anda tidak hanya merawat tubuhnya dari rasa sakit, tapi juga memenuhi kebutuhan emosional, sosial dan spiritual pasien,” tutur Prita.

Setelah kunjungan kami ke rumah Nenek Yanti, Ibu Deti berkonsultasi dengan tim medis Rachel House. Hasilnya, dokter akan melakukan kunjungan ke rumah dan meresepkan obat penghilang rasa sakit.

Prita mengatakan relawan masyarakat seperti Ibu Deti, yang tinggal di lingkungan yang sama dengan pasien, adalah penghubung penting dalam rantai ini.

“Para relawan ini tahu tentang tetangga mereka atau di mana fasilitas kesehatan. Mereka menjadi mata dan tangan di lapangan karena mereka bisa mengidentifikasi pasien yang tidak mendapat perhatian.”

“Sampai ke bapaknya ngomong gini, mak lo tulis aja agen biro jasa. Pelayanan orang berantem, urus kematian. Saya sih sifatnya orang yang dateng ke rumah. Saya nggak nyari. Karena persepsinya beda. Kalau kita turun orang sakit, menawarkan diri, kesannya apa. Kalau dia dateng ke rumah, berarti dia butuh kita,” kata Deti.

“Bisa membuat orang lain senang, tersenyum, orang itu bisa sembuh, saya merasa bangga karena saya bisa menolong mereka. Kita menolong tidak hanya dapat memberikan uang tapi dengan kita berikan perhatian, tenaga, kasih sayang pada mereka, saya merasa itu juga suatu pengorbanan yang mereka butuhkan.”

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!