Mengeringnya Sungai-sungai di Kabul

Tapi kendala geografis, perubahan iklim dan perang beberapa dekade telah menghancurkan negara ini.

Senin, 14 Nov 2016 11:39 WIB

Sungai di Kabul dipenuhi sampah. (Foto: Ghayor Waziri)

Sungai di Kabul dipenuhi sampah. (Foto: Ghayor Waziri)

Afghanistan dulunya adalah sebuah negara berkembang dengan kota yang indah dan punya persediaan makanan dan air yang  cukup.

Tapi kendala geografis, perubahan iklim dan  perang beberapa dekade telah menghancurkan negara ini.

Sungai mengering, suhu meningkat dan terjadi kekurangan pasokan air.

Koresponden Asia Calling KBR, Ghayor Waziri, menyusun laporan ini dari Kabul.

Saya berada di kaki pegunungan Paghman … tempat asal air yang mengalir di sungai Kabul.

Tiga puluh tahun lalu sungai dipenuhi air yang digunakan untuk mengairi pertanian dan desa-desa di Provinsi Kabul. Tanah hijau dan subur serta air berlimpah.

“Sungai Kabul dulunya sungai yang indah dan airnya bersih. Waktu saya berusia 20an tahun, saat cuaca panas saya akan pergi berenang di sungai,” kisah Muhammad Yusuf.

Tapi kini sungai sudah mengering. Lahan pertanian pun menghilang berganti dengan rumah-rumah.


Muhammad Yusuf sudah tinggal di sini sejak masih kanak-kanak. Dia mengaku tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Sungai hampir mengering dan dipenuhi sampah.

Air hanya mengalir dua bulan dalam setahun saat musim hujan.

“Sebelumnya tinggi air sejajar jalanan tapi sekarangan akibat perubahan iklim, tinggi air menurun dan diganti sampah,” tambahnya.

Perubahan iklim ini mengakibatkan gunung salju meleleh lebih awal setiap tahun dan Afghanistan tidak punya waduk untuk menyimpan air yang melimpah ini.

Saat musim panas tiba, air yang sangat dibutuhkan tidak tersedia.

Dengan cadangan air yang makin sedikit, kekeringan makin meningkat dan ada kekhawatiran setengah dari sumur di negara itu akan segera mengering.

”Setelah 1965, Afghanistan dihadapkan dengan perubahan iklim. Tapi selama beberapa tahun terakhir, perubahan iklim terjadi lebih intens dan mengakibatkan lebih banyak kerusakan lingkungan. Misalnya, tahun lalu curah hujan lebih kecil padahal sebelumnya, puncak gunung tetap bersalju meski musim panas,” jelas Kazem Hamayun, kepala perencanaan di Departemen Lingkungan Afghanistan.


Ada enam juta orang tinggal di Kabul dan 80 persen dari mereka tidak punya akses ke air minum yang aman. Dan 95 persen tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.

Dengan hampir tidak ada air bersih yang mengalir turun dari pegunungan, masyarakat mencari air dari sumber bawah tanah sebagai gantinya.

Tapi, sekarang bahkan air itu pun tercemar.

Afghanistan belum punya sistem pengelolaan air limbah. 

Kebanyakan orang menggunakan septic tank dan kebocoran tempat pembuangan kotoran dan air limbah lainnya, mencemari sumur-sumur sumber air minum warga.

Kontaminasi, sampah, perang puluhan tahun, dan kemiskinan kronis, merupakan salah satu masalah utama di Kabul.

Kepala departemen air kota, Hameedulla Yalani, mengatakan sebagian besar sumber air bawah tanah Kabul sudah tercemar.

“Sayangnya karena perubahan iklim orang terpaksa menggunakan air tanah, menggali sumur mereka sendiri dengan cara yang tidak profesional. Ini merusak sumber tanah air dan di sisi lain juga mengeringkan sungai Kabul,” jelas Hameedullah Yalani.

Ini hanya satu dari banyak masalah yang lain. “Sebagian besar truk tangki limbah membuang limbahnya ke sungai, yang membuat air tanah jadi tercemar,” kata Hameedullah Yalani.

Penelitian menunjukkan 25 persen kematian di antara anak-anak Afghanistan di bawah usia lima tahun adalah karena diare. Ini disebabkan oleh air yang terkontaminasi dan sanitasi yang buruk.


Muhammad Dawood adalah warga Kabul. “Di masa lalu, cuaca Kabul sangat bersih dan tidak tercemar. Cuacanya juga lebih dingin daripada sekarang dan curah hujan lebih banyak. “

“Tapi sekarang udaranya tercemar dan ini mempengaruhi kehidupan masyarakat. Sekarang jadi lebih sulit bernapas dan terjadi peningkatan komplikasi kesehatan seperti cacat saat lahir.”

Meningkat pesatnya populasi Kabul menjadi alasan lain mengapa kualitas air menurun secara drastis. Makin banyak jumlah penduduk, makin banyak sumber daya yang mereka konsumsi.

Kembali ke departemen lingkungan, Kazem Hamayun, khawatir dampak perubahan iklim akan membuat negara lebih rentan terhadap bencana alam di masa depan.

“Sumber-sumber air di Afghanistan menurun sekitar 40 persen dan mereka berkurang sangat cepat. Kami memperkirakan ada bencana alam di masa depan seperti meningkatnya banjir,” prediksi Kazem Hamayun.

Hamayun mengatakan memang sudah ada langkah-langkah positif secara global seperti Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan penandatanganan Perjanjian Paris.

Tapi akan butuh waktu lama untuk Afghanistan untuk pulih dari kerusakan saat ini.

Dan kita mungkin tidak akan pernah melihat lagi lahan hijau yang pernah dilihat Muhammad Yusuf Qadiri sewaktu muda.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

JK: Pertemuan SBY-Mega Tenangkan Situasi Politik Nasional

  • Air Baku Terbatas, Balikpapan Hanya Kebagian 813 Program Pemasangan Baru PDAM
  • Kloop Tegaskan Tak Punya Alasan Menjual Coutinho

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR