Filipina 'Pisah' dari Amerika, 'Rangkul' Tiongkok

Pensiunan pegawai negeri, Patricio Cojamco, mengatakan bergabung dengan Tiongkok adalah langkah diplomatik yang buruk.

Senin, 07 Nov 2016 11:00 WIB

Seiring makin dekatnya hubungan Filipina dengan Tiongkok, kini di setiap kota di negara itu punya ka

Seiring makin dekatnya hubungan Filipina dengan Tiongkok, kini di setiap kota di negara itu punya kampung Cina, seperti di kota Puerto Princess ini. (Foto: Ariel Carlos)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Ketika Presiden Filipina yang baru, Rodrigo Duterte, mengunjungi Tiongkok bulan lalu, dia mengumumkan kalau Filipina akan terpisah dari Amerika Serikat, secara politik dan ekonomi.

Tapi saat kembali ke negaranya setelah lawatannya ke Tiongkok, Duterte mengatakan dia hanya ingin kebijakan luar negeri yang bebas dan tidak memutuskan hubungan diplomatik dengan sekutu tradisionalnya itu.

Seperti yang dilaporkan Ariel Carlos dan Jofelle Tesorio dari Palawan, Filipina, tidak semua warga Filipina mendukung langkah ini.

Ini hari yang sibuk di Filipina. Setiap tanggal 1 November, seluruh negeri berbondong-bondong ke kuburan untuk mengunjungi makam orang-orang yang mereka cintai.

Meski warga sedang merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus, mereka tidak bisa melepaskan diri dari isu terpanas saat ini - Filipina merangkul Tiongkok dan berpisah dari Amerika Serikat.

Kami secara kebetulan bertemu pensiunan pegawai negeri berusia 68 tahun, Patricio Cojamco, yang sangat marah soal ini.

“Saya tidak mendukung Filipina makin dekat dengan Tiongkok. Jika presiden Duterte ingin bersama Tiongkok, kami tidak mau ikut. Dia bisa melakukannya sendiri. Saya masih ada keturunan Tiongkok tapi saya tidak ingin warga Filipina menjadi komunis,” tolak Patricio. 

Pengusaha Virginia Mendoza, 79 tahun, juga punya pandangan yang sama.

“Duterte mengatakan Tiongkok akan memberi 25 juta dolar untuk perekonomian kita. Betapa mudah dia jatuh ke dalam perangkap ini. Amerika sudah memberikan kita bantuan dan membantu kita dan sekarang dia memintanya dari Tiongkok,” tutur Virginia. 

Banyak orang Filipina punya kedekatan dengan Amerika Serikat ketimbang Tiongkok.

“Kami punya konotasi kalau orang Tiongkok itu oportunis, hanya mencari investasi bisnis dan keuntungan. Ada kecenderungan untuk melihat mereka dengan rasa curiga,” kata Myke Cohen, mahasiswa di Universitas Filipina. Pria berusia 20 tahun ini keturunan Amerika.

Filipina secara tradisional punya berhubungan lebih erat dengan Amerika dibandingkan dengan negara Asia lainnya.

Lebih dari 3,4 juta orang Filipina tinggal di Amerika Serikat dan mereka mengirimkan uang  hampir 130 triliun rupiah setiap tahun ke Filipina.


Menurut penelitian yang dilakukan Pew Center pada  2015, 92 persen orang Filipina melihat Amerika Serikat secara positif sebagai negara tertinggi di dunia.

Jadi poros Filipina ke Tiongkok tidak diterima dengan baik.

“Ini membuat Filipina tidak konsisten dengan sikap mereka sejak lahirnya bangsa Filipina. Ini membuat kita bertanya prinsip dan cita-cita siapa yang kita bangun. Terutama mengingat peristiwa seperti konflik Tiongkok dan Filipina soal Laut Filipina Barat,” kata Myke.

Duterte tidak meneruskan keputusan bersejarah di Den Haag awal Juli ini. Ketika pengadilan internasional memihak Filipina soal wilayah yang disengketakan di Laut Filipina Barat.

Selama kunjungan kenegaraan ke Tiongkok bulan lalu, Duterte meminta izin para pemimpin Tiongkok untuk membolehkan nelayan Filipina melaut di daerah Scarborough.  Ini adalah daerah yang diperebutkan di Laut Cina Selatan yang diduduki Tiongkok.

Pensiunan profesor sastra, Susan Evangelista, menikah dengan orang Filipina dan sudah tinggal di Filipina sejak tahun 1970-an. Semua perjuangan di Den Haag, katanya, kini menjadi sia-sia.

“Itu sangat menyedihkan. Dia menyia-nyiakan semua upaya yang telah dilakukan. Sekarang dia senang karena nelayan Filipina boleh menangkap ikan di perairan Filipina,” kata Susan.

Susan mengatakan tidak ada yang salah dengan mengejar kebijakan luar negeri yang independen.

“Pada dasarnya menurut saya boleh saja punya hubungan dengan banyak negara. Jika dia merasa Amerika Serikat terlalu menekan maka dia bisa mundur.”

Sikap anti-Amerika Serikat Duterte yang kuat, ditambah dengan beragam pendapatnya soal pemimpin dan warga Amerika, membingungkan banyak orang. Kembali Susan Evangelista.

“Saya merasa terganggu karena retorika anti-Amerikanya mengatakan ‘saya tidak akan jadi pengikutmu’. Oke ‘Tiongkok, bisakah saya menjadi pengikutmu?’ Jika dia benar-benar berpikir hubungannya dengan Amerika buruk dari sudut pandang itu, saya yakin banyak orang akan setuju. Jika dia berpikir seperti itu, oke. Tapi haruskah dia masuk ke hubungan yang sama hanya dalam 10 menit?” tanya Susan.

Pensiunan pegawai negeri, Patricio Cojamco, mengatakan bergabung dengan Tiongkok adalah langkah diplomatik yang buruk. 

“Kenyataannya adalah lebih banyak orang Filipina yang mendapat keuntungan dari Amerika ketimbang Tiongkok. Orang Tiongkok dapat keuntungan dari kami tapi kami tidak,” kata Patricio. 

Tapi tidak semua orang bersikap negatif terhadap poros Tiongkok ini, seperti insinyur muda Andres Solinap.

Dia adalah satu dari 16 juta warga Filipina yang memilih Duterte.

“Itu sebabnya dia menang karena orang Filipina percaya padanya. Jika dia berpikir bersekutu dengan Tiongkok adalah tindakan yang bijaksana maka mungkin itulah yang terbaik untuk Filipina. Dia adalah presiden, kita harus mengikuti dia,” tegas Andres. 

Akankah Duterte tetap populer setelah poros Tiongkok? Sejauh ini dia baru berkuasa selama tiga bulan jadi waktu yang akan mengungkap apakah orang Filipina akan tetap bersama Duterte. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Mendes Akui Sudah Tahu Soal WTP Sebelum Diumumkan

  • Polisi Dalami Keterlibatan Oknum Anggotanya yang Diduga Terima Suap dari Uber
  • Fraksi PDIP Ganti Posisi Masinton di Pansus KPK
  • Susi bagikan 690 paket alat tangkap ikan ramah lingkungan