Cara India Atasi Sampah Elektronik

Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini dikenal sebagai tempat pembuangan sampah elektronik dunia.

Senin, 14 Nov 2016 13:45 WIB

India adalah penghasil limbah elektronik kelima terbesar di dunia. (Bismillah Geelani)

India adalah penghasil limbah elektronik kelima terbesar di dunia. (Bismillah Geelani)

India adalah penghasil limbah elektronik kelima terbesar di dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini dikenal sebagai tempat pembuangan sampah elektronik dunia. Dan menara limbah beracun ini terus meninggi.

Seperti yang dilaporkan koresponden Asia Calling KBR, Bismillah Geelani, sudah mulai muncul keprihatinan serius tentang apa dampak sampah elektronik terhadap kesehatan dan lingkungan.

Saat ini saya berada di Seemapuri, sebuah daerah di pinggiran kota Delhi. Ini adalah salah satu daerah tempat pembuangan sampah elektronik.

Berjalan melalui lorong-lorong sempit, ada tumpukan sampah elektronik di kedua sisinya. Sebut saja… papan sirkuit komputer tua, kabel, keyboard, atau handset ponsel tua. Semuanya ada di sini.

Mohammad Salman, 25 tahun, terjun ke bisnis limbah elektronik ini beberapa tahun yang lalu. Dulu dia memperbaiki ponsel-ponsel rusak tapi tenyata dia bisa mendapatkan lebih banyak uang dari limbahnya.

“Kami mengumpulkannya dari seluruh negeri, dari pemulung dan pengepul, lalu mencari barang yang bisa diperbaiki. Barang-barang itu kami simpan lalu sisanya kami jual ke pihak lain,” jelas Salman.

“Logam mulia yang ada di barang-barang elektronik itu juga banyak dicari. Logam-logam itu kami serahkan ke pengepul besar. Soal apa yang mereka lakukan dengan itu, bukan urusan kami.”


Meski Salman menegaskan mereka hanya membeli dan menjual besi tua, sepertinya vendor-vendor yang ada di sini melakukan lebih dari itu.

Tidak jauh dari toko Salman, beberapa buruh sedang membongkar muatan truk penuh monitor komputer. Mereka lalu menghancurkannya dengan palu.

Saya mencoba untuk berbicara dengan mereka tapi majikan mereka marah. Dia bilang bisa mendapat masalah jika mereka bicara …

Daerah ini juga dikenal sebagai tempat daur ulang limbah elektronik ilegal.

Tidak jauh dari situ, Ansar 35 tahun, sedang membakar sebuah papan sirkuit besar dengan obor las.

Dia kemudian menarik beberapa komponen yang keluar dengan tang.

Bau tajam asap terasa mencekik tapi Ansar terlihat tidak terganggu.

“Setiap orang harus melakukan sesuatu untuk hidup dan ini adalah pekerjaan kami. Kami mengambil bagian-bagian yang masih bisa digunakan dan menjualnya kepada orang-orang yang memperbaiki komputer. Kami  juga mengambil logam seperti tembaga dan kuningan dan setelah itu kami mencelupkan papan ini ke dalam asam untuk mendapatkan emas,” tutur Ansar.

Karena perkembangan ekonomi yang pesat, ada fenomena meningkatnya permintaan dan produksi barang-barang elektronik seperti komputer, telepon selular dan televisi.

Ini membuat sampah elektronik menjadi hal yang lumrah. 

 

Setelah beberapa tahun, telepon genggam dan komputer akan dibuang dan berakhir di tempat seperti Seemapuri. Namun seringkali sampah teknologi tidak ditangani dengan aman.

“Sebagian besar sampah yang kita hasilkan mengandung racun yang sangat besar. Ada timah, merkuri, atau kadmium. Semua kandungan kimia ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan,” jelas Satish Sinha, direktur asosiasi Toxics Link, sebuah kelompok lingkungan berbasis di New Delhi.

“Ketika Anda berurusan dengan sampah ini dengan cara yang sederhana, seperti dipalu, dibakar dengan las atau direndam asam, Anda sudah melepaskan sejumlah besar racun ke lingkungan.”

Menurut laporan PBB tahun 2014, India menghasilkan lebih dari dua juta metrik ton sampah elektronik setiap tahun.

Termasuk sejumlah besar limbah dari luar negeri.

Sampai beberapa tahun lalu, India dan beberapa negara Afrika dikenal sebagai tempat pembuangan sampah elektronik dunia.

Itu sebabnya pemerintah kemudian memberlakukan larangan impor bahan beracun.

Meski begitu sampah teknologi masih diselundupkan masuk dan itu menjadi beban besar, kata Sinha.

“Di negara maju, biaya pengolahan limbah sangat tinggi serta ada kontrol lingkungan yang sangat ketat dan kuat. Jadi, jika Anda mau berinvestasi dalam teknologi, Anda harus yakin apa yang bakal Anda hilangkan dan itu sebabnya biaya pengolahan limbah meningkat di negara-negara tersebut,” kata Sinha. 

“Tapi di negara berkembang biaya hal ini nyaris diabaikan. Maka lebih murah bagi produsen di negara maju untuk mengirimkan limbah mereka ke negara berkembang dan menjualnya.”


Awal tahun ini, pemerintah memperkenalkan aturan baru mengenai pembuangan limbah elektronik, yang lebih menitikberatkan pada tanggung jawab produsen.

Berikut penjelasan Menteri Lingkungan Prakash Javdekar.

“Perusahaan-perusahaan kini diharuskan mengambil kembali produk mereka untuk didaur ulang setelah dibuang. Ini kali pertama kami menetapkan target yang harus mereka patuhi. Dan mereka harus membuat pengaturan ini sebelum meluncurkan produk mereka di pasaran.”

Tapi pemerhati lingkungan seperti Sinha skeptis aturan baru itu akan berhasil. “Dalam hukum sebelumnya, aturan seperti ini juga ada. Tapi produsen enggan melakukan kewajiban mereka.”

Sinha mengatakan bukan hanya perusahaan yang harus bertanggung jawab, konsumen pun harus lebih memperhatikan limbah mereka.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Kuasa Hukum: Ada Gangguan di Otak Setnov

  • Beredar Surat Dari Novanto Soal Jabatannya, Fahri Hamzah: Itu Benar
  • Gunung Agung Meletus, Warga Kembali Mengungsi
  • Kasus PT IBU, Kemendag Bantah Aturan HET Beras Jadi Biang Penggerebekan