Ayah dan saudara Sadiq Ali. (Foto: Naeem Sahoutara)

Ayah dan saudara Sadiq Ali. (Foto: Naeem Sahoutara)

Komunitas etnis Hazara menyebut selama bertahun-tahun kelompok militan yang terkait Taliban telah membunuh ratusan anggota komunitas mereka termasuk perempuan dan anak-anak. 

Karena dikejar-kejar di kampung halaman sendiri di Quetta Pakistan, banyak minoritas Syiah meninggalkan negara itu dan berharap bisa tinggal di Australia.

Dalam tiga serial khusus lintas batas, kami melacak perjalanan beberapa anak muda Hazara saat mereka berada di tiga negara.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara menyusun kisahnya dari tempat asalnya, sebuah keluarga Hazara di Quetta.

Mohammad Raza yang berusia 5 tahun sedang memegang foto pamannya yang bernama Sadiq Ali. Dia yakin pamannya berada di Australia dan akan segera mengirimkan pesawat mainan untuknya. 

Tapi sang nenek yang bernama Fatima Bibi tahu kalau Sadiq Ali ditahan di luar negeri. Menurutnya Sadiq pergi karena tidak ada masa depan bila tetap tinggal di Pakistan.  

“Saat masih di sini hidupnya sangat berat. Dia membuka toko tapi akhirnya harus tutup karena daerah di sini tidak aman. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri,” kisah Fatima Bibi.

Sadiq Ali yang berusia 22 tahun adalah bagian dari komunitas Syiah Hazara di Quetta, sebuah kota di barat daya Pakistan.

Cita-citanya menjadi aktor. Tapi meningkatnya serangan di daerah itu memaksanya untuk mengubur impiannya itu - seperti orang Hazara lain yang punya talenta sepertinya.

Satu hari di musim dingin saat baru membuka toko, dia menemukan sepucuk surat di meja kasir. Surat itu dikirim kelompok ekstrimis yang mengancam akan membunuhnya bila dia tidak segera pergi dari daerah itu. 

Beberapa pekan lalu keluarganya berkumpul untuk merayakan Tahun Baru Islam. Tapi tanpa kehadiran Sadiq, perayaan yang seharusnya berlangsung gembira dipenuhi kesedihan. 

“Dia anak kesayangan dan anak tertua saya. Saya merindukannya setiap saat, tidak hanya saat hari raya. Saya tidak bisa melupakan dia bahkan sedetik pun. Dia anak yang berbakti. Saya selalu khawatir apakah dia sudah makan atau belum atau dimana dia tidur,” tutur Fatima Bibi.

Provinsi Quetta yang kaya dengan mineral telah lama menjadi target Taliban. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi sejumlah serangan terhadap komunitas Hazara di provinsi itu.  

Kelompok ekstrimis agama secara terbuka mengklaim bertangung jawab atas kematian orang-orang Hazara.

Komunitas ini dijadikan target karena mereka adalah penganut Muslim Syiah. Dan dengan bentuk wajah dan kulit yang terang, keberadaan mereka mudah dikenali. 

Pada 2013 dua pembom bunuh diri menargetkan sebuah tempat biliar dan pasar yang ramai di Quetta. Aksi itu menewaskan seratusan laki-laki dan perempuan dan melukai sekitar 120 orang.

Sejak itu, ribuan orang Hazara melarikan diri ke kota-kota lain di Pakistan dan hidup dalam persembunyian.

Dan bagi beberapa orang tua Hazara, seperti Barkat Khan ayah Sadiq Ali, jika bisa mereka akan mengirim anak-anak mereka ke luar negeri.

“Saya bingung apakah harus mengirim dia ke luar negeri atau tetap tinggal bersama kami. Tapi, akhirnya saya menyuruhnya ke luar negeri karena hidupnya dalam bahaya. Di sini dia bahkan tidak bisa pergi ke pasar dan terpaksa tinggal di rumah setiap hari.”

Sekitar seratus ribu orang Hazara, kebanyakan pria berusia 20-an tahun, bermigrasi ke negara lain dalam tiga dekade terakhir. Setelah serangan September 2013, Sadiq Ali meninggalkan negara itu bersama 12 temannya.

Mereka melakukan perjalanan melalui Iran dan Qatar dan kemudian ke Malaysia dan Indonesia. Dari sini mereka mencoba naik perahu secara ilegal menuju Australia.

Tapi mereka ditangkap di laut dan selama dua tahun terakhir Sadiq tinggal di tempat penampungan yang dikelola UNHCR.

Tahun baru Islam dimulai dengan bulan berkabung Muharramul Haram. Bagi komunitas Syiah Hazara di Pakistan, ini adalah pengingat atas masa lalu yang menyakitkan. Dan prosesi berkabung komunitas ini telah berkali-kali diserang. 

Meski mereka merindukannya, keluarga Sadiq Ali mengatakan mereka tidak ingin dia kembali.

“Kami menyuruhnya pergi ke Australia karena situasi keamanan di Quetta sangat buruk. Saat masih di sini, setiap hari dia meminta kami menjaga orangtua jika dia terbunuh. Lebih aman baginya untuk tinggal di Australia karena situasi di Quetta sangat buruk.”

Setiap hari, Sadiq dan keluarganya berkomunikasi melalui WhatsApp atau Skype, saling memberitahu kalau mereka masih hidup dan baik-baik saja.

Sadiq adalah satu dari sepuluh ribu imigran ilegal yang sekarang tinggal di Indonesia, berharap suatu hari nanti mereka berhasil mencapai Australia. Kebanyakan dari mereka adalah komunitas Hazara dari Pakistan ...

Nantikan kisah selanjutnya dalam serial ini.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!