Maryam Durani dan Hasina Nikzad. (Foto: Istimewa)

Maryam Durani dan Hasina Nikzad. (Foto: Istimewa)

Dua perempuan Afghanstan terpilih menerima Penghargaan N-Peace tahun ini. Mereka terpilih dari puluhan agen perubahan dan penggiat perdamaian asal Afghanistan, Pakistan, Myanmar, Nepal dan Filipina.

Kedua pemenang ini, Maryam Durani dan Hazina Nikzad, berupaya menciptakan perdamaian dan memperjuangkan hak perempuan di daerah yang sensitif seperti Kandahar dan Herat.

Ghayor Waziri bertemu keduanya di ibukota Afghanistan, Kabul.

Pada upacara penyerahan Penghargaan N-Peace di New York, para tamu yang hadir memberikan standing applause bagi para agen perubahan dalam komunitas mereka dan mereka yang berupaya membangun perdamaian.

Dua perempuan Afghanistan, Maryam Durani dan Hasina Nikzad, termasuk yang menerima penghormatan itu.

Maryam yang berusia 30 tahun adalah aktivis perempuan asal Kandahar.

Sepuluh tahun lalu dia memulai sebuah organisasi sosial yang fokus pada hak-hak perempuan dan membangun perdamaian.

“Saya mengadakan berbagai pelatihan bagi perempuan di berbagai daerah dalam beberapa tahun terakhir. Pelatihannya dalam bidang pendidikan, hak-hak perempuan, kesehatan dan kerajinan tangan. Tujuannya untuk membantu perempuan secara ekonomi dan menyadarkan mereka soal hak-hak di dalam masyarakat. Saya juga mendirikan radio perempuan untuk meningkatkan kesadaran dan warung internet bagi perempuan di Kandahar,” papar Maryam.

Penghargaan N-Peace diberikan oleh Program Pembangunan PBB yang bekerjasama dengan Institut untuk Keamanan Inklusif.

Tahun ini puluhan orang dari berbagai negara seperti Pakistan, Myanmar, Nepal dan Indonesia, menjadi nominator penerima penghargaan. Mereka adalah orang-orang yang menunjukkan kepemimpinan dalam membangun perdamaian dan pemberdayaan masyarakat.

Tapi hanya 10 orang yang bisa membawa pulang penghargaan itu. Afghanistan sendiri memenangkan hampir setengah kategori penghargaan, dimana ada dua perempuan dan dua laki-laki menerima penghargaan ini.

Maryam Durani yang memenangkan Penghargaan untuk Generasi Perdamaian menjelaskan bagaimana situasi di Kandahar, tempat dia bekerja.

“Situasi dan lingkungannya bagi perempuan tidak seketat dan sesulit yang kita pikirkan. Tentu saja, lebih dari negara-negara lain dan beberapa provinsi lain di Afghanistan. Kandahar punya tantangan lebih karena tradisi masih dominan di sini. Masyarakat masih tidak suka dengan perempuan muda yang bekerja dan berkegiatan di luar rumah. Mereka ini dianggap sebagai warga kelas dua.”

Ini adalah Hasina Nikzad, yang dianugerahi penghargaan atas upayanya memperjuangkan hak-hak perempuan di provinsi Herat.

Dia membawa pulang penghargaan karena mengubah masyarakat. Selama beberapa tahun terakhir dia membuka sebuah sekolah dan mengajar perempuan di desa-desa soal hak-hak mereka.

Dia mengaku penghargaan ini menginspirasinya untuk terus bekerja.

“Saya sangat senang menerima penghargaan ini. Saat harus memperjuangkan  hak-hak perempuan, saya selalu merasa lelah tapi saya tidak pernah berhenti. Saya percaya suatu hari nanti rasa lelah itu akan hilang dan itulah yang terjadi saat ini. Saya merasa terinspirasi lagi, seolah-olah masyarakat sudah mengakui kerja tim saya selama bertahun-tahun,” ungkap Hasina.

Masalah ketidakamanan merupakan tantangan terbesar bagi perempuan dalam masyarakat Afghanistan yang konservatif.

Hasina Nikzad mengatakan dia berkali-kali diancam akan dibunuh oleh berbagai kelompok bersenjata. Tapi ini tidak membuatnya berhenti.

“Saya selalu diancam berbagai kelompok. Misalnya pernah ketika saya dan tim sedang dalam perjalanan ke beberapa desa, Taliban mencoba untuk menyergap kami. Tapi penduduk desa memperingatkan kami sehingga perjalanan itu kami batalkan. Kami tidak pernah menyimpan nomor ponsel siapapun karena mereka bisa menemukan nomor kami dan mengancam kami. Tapi saya tidak pernah takut ketika mereka mengancam saya.”

Penghargaan N-Peace dibentuk oleh N-Peace, yang merupakan jaringan multi-negara pendukung perdamaian di Asia. Jaringan ini berupaya memajukan isu-isu yang berkaitan dengan perempuan, perdamaian dan keamanan.

Organisasi ini mendukung kepemimpinan perempuan untuk pencegahan konflik, resolusi dan perdamaian.

Hisina Nikzad mengatakan perempuan berperan penting dalam mewujudkan perdamaian di Afghanistan.

“Menurut saya perempuan punya peran sangat besar dalam membangun perdamaian dalam masyarakat. Karena mereka adalah yang secara langsung mempengaruhi anggota laki-laki dari keluarga yang berkonflik.”

Tahun ini jumlah aktivis laki-laki dan perempuan Afghanistan yang dinominasikan menerima Penghargaan N-Peace mencapai 46 orang, 15 diantaranya adalah perempuan.

Meski tidak semuanya menerima penghargaan, tapi jumlah ini menunjukkan antusiasme untuk mendorong hak-hak perempuan terus berkembang.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!