Foto: www.isisnotinmyname.com

Foto: www.isisnotinmyname.com

Saat masyarakat internasional terus meratapi serangan mematikan di Paris yang menewaskan 130 orang, warga Muslim di Eropa mengaku menghadapi gelombang diskriminasi yang terus bertambah.

Tapi untuk melawan serangan itu, satu kelompok memutuskan untuk bersuara.

Kampanye media sosial, yang disebut ‘Not in My Name’ atau “Bukan atas Namaku’ telah menyatukan umat Muslim dari seluruh dunia untuk mengecam terorisme.

Koresponden Asia Calling KBR di Sheffield, Yasir Ali Khan menyusun kisahnya untuk Anda. 

Menurut data pemerintah, ada lebih 100 kasus serangan dan kekerasan bermotif rasial dilaporkan terhadap Muslim dalam waktu satu minggu pasca serangan Paris.

Kabeer Khan adalah seorang akuntan berusia 31 tahun. Dia juga melihat ada beberapa orang yang  memperlakukannya secara berbeda sejak serangan Paris.

“Sejak serangan terhadap Paris, kehidupan saya berubah, terutama di tempat kerja. Bila teman-teman di kantor bicara mau pergi liburan, mereka bilang ‘Oh Muslim begini Muslim begitu.’ Itu membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Sebelumnya tidak pernah begini,” kisah Kabeer.

Kabeer mengaku sekarang harus berpikir dua kali bila ingin bepergian bersama keluarganya.

Karena di jalanan, misalnya, ada orang yang mengatakan ‘Kembalilah ke tempat asalmu’.

Warga Prancis, berusia 26 tahun Berangere Salomé sedang belajar ilmu komunikasi di Inggris.

Salomé mengatakan orang dengan cepat menyalahkan umat Islam, seolah-olah umat Islam dan teroris adalah hal yang sama.

“Sejak itu orang cenderung mengucilkan warga Muslim dan menyalahkan semua komunitas Muslim atas kasus teroris. Menurut saya ini tidak adil karena mereka tidak ada hubungannya dengan ini. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah dan ikut terkejut seperti kita,” kata Salomé.

Itu juga alasan di balik kampanye media sosial baru dimana Muslim menyuarakan perlawanan menentang terorisme.

Kampanye ini disebut ‘Not in My Name’ atau ‘Bukan atas namaku’. Ini merupakan gagasan dari Zahra Qadir dan rekan-rekannya di Yayasan Perubahan Aktif, lembaga amal yang berbasis di London.

Serangan di Paris dan ISIS, kata Zahra tidak mewakili Islam dan masyarakat harus tahu itu.

“Saya tahu orang-orang ini tidak bertindak berdasarkan Islam. Mereka menggunakan Islam hanya sebagai tanda untuk melakukan tindakan ini. Saya merasa tidak bisa duduk diam. Kami datang dengan hashtag 'Bukan atas namaku' karena Anda tidak perlu meminta maaf atas apa yang terjadi. Karena Anda menyatakan apa yang dilakukan kelompok-kelompok seperti ISIS, tidak atas nama Tuhan,” kata Zahra. 

Kampanye ini didukung ribuan orang dari seluruh Eropa yang memposting foto-foto diri mereka memegang pesan: ‘Not in My name’ di Facebook, Twitter dan YouTube.

Kelompok yang mengkritik mengatakan umat Islam tidak harus membedakan diri mereka dari ideologi ekstremis. Tapi Afshan, seorang mahasiswa hukum berusia 27 tahun tidak setuju dengan kritik itu.

“Ketika saya melihat kampanye ‘Bukan atas namaku’ ini, saya pikir saya harus mengambil bagian. Sebagai Muslim, saya harus mengambil tanggung jawab atas tindakan minoritas yang bahkan tidak mengikuti persepsi yang tepat tentang Islam. Islam tidak mentolerir kekerasan dengan cara apapun.”

Dan menurutnya media sosial adalah cara tercepat agar pesan bisa tersebar luas.

“Jika Anda membuat tren di twitter, Instagram dan Facebook, pesan itu akan tersebar dengan cepat ke masyarakat. Ketika mereka melihatnya di surat kabar mereka tidak sekedar membaca tapi juga percaya,” kata Afshan.

Bagi ribuan Muslim, menggunakan hashtag "Not in My Name’ atau ‘Bukan atas namaku’ adalah pesan sederhana yang bisa membuat perubahan nyata.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!