Pasar ikan di Hong Kong. (Foto: Mark Godfrey)

Pasar ikan di Hong Kong. (Foto: Mark Godfrey)

Minat Hong Kong yang besar terhadap produk laut dan perannya sebagai pusat perdagangan produk laut dunia berdampak pada terancam punahnya spesies ikan.

Masakan Cina berbahan utama produk laut. Tak heran jika rata-rata konsumsi produk laut per kapita Hong Kong adalah 70 kilo per tahun. Jumlah ini empat kali lipat dari rata-rata konsumsi global.

Kota ini juga merupakan pusat perdagangan ke daratan Tiongkok yang konsumsi masyarakatnya terus meningkat.

Seperti yang dilaporkan Mark Godfrey, meningkatnya angka konsumsi mengancam keberadaan jumlah ikan dan muncul upaya mendorong konsumsi produk laut berkelanjutan.

Di Sabtu pagi yang sibuk di Pasar Ikan besar Aberdeen Hong Kong, para pedagang berkerumun membeli produk laut untuk restoran dan pengecer di kota.

Salah satu penjual di pasar sini adalah Betty Chu. Dia mengelola perusahaan distributor Family Care Ltd, yang mengimpor produk laut dari seluruh dunia.

“Pasar benar-benar bagus. Orang-orang mencari produk unggulan dan bersedia membayar lebih untuk produk yang lebih baik. Kami mengimpor lobster, kerang, udang, kepiting dan lainnya dari seluruh dunia. Bisnis saya bejalan baik karena permintaan terus naik setiap tahun,” kata Betty Hu.

Meski bisnis ini berjalan baik, beberapa pedagang makanan laut di kota itu juga mendukung untuk beralih ke produk laut yang berkelanjutan.

Wong Ping Chai mengelola perusahaan importir produk laut segar, Hoi Kee Ho. Dia mulai mencari produk laut berkelanjutan beberapa tahun lalu ketika seorang pemasok Belanda menjelaskan padanya kalau banyak spesies ikan menjadi langka.

Kini dia bergabung dengan Fish and Season, sebuah jaringan perdagangan ikan global yang hanya memperdagangkan produk laut berkelanjutan.

“Perusahaan saya sudah berdiri di Hong Kong selama 80 tahun dan juga mengalami berkurangnya pasokan. Saya bertanya-tanya apa yang terjadi, ada dimana ikan-ikan itu. Setelah saya pergi ke Belanda, saya baru tahu jawabannya,” kisah Wong Ping Chai.

Para juru kampanye berusaha agar konsumen lebih berhati-hati saat membeli produk laut.

Dr Allen To dari WWF Hong Kong memonitor impor lokal dan konsumsi spesies laut yang terancam punah.

“Konsumsi per kapita produk laut di Hong Kong menduduki posisi kedua di Asia dan ke-7 di dunia. Itu sebabnya di Hong Kong kita punya tanggung jawab, tidak hanya mengurangi jejak ekologi kita tapi juga mencoba mengurangi dampak terhadap lautan negara lain.” 

“Kami percaya jika kita bisa mendorong produk laut berkelanjutan di Hong Kong, pada akhirnya kita bisa setidaknya mengurangi dampak terhadap sumber daya ikan, khususnya di kawasan Asia Pasifik,” katanya.

Masalah yang timbul kemudian adalah soal harga. Perusahaan produk laut lain di Hong Kong yang fokus pada produk berkelanjutan adalah New Bon Marine. Keith Tsui adalah direkur pelaksananya.

Dia mengatakan pendidikan dan kampanye kesadaran dari pemerintah juga membantu konsumen beralih pada produk laut berkelanjutan. Namun sejauh ini fokusnya pada spesies bernilai tinggi seperti black cod, salmon dan kerang.

Dia ingin kelompok berpenghasilan rendah juga bisa beralih ke produk laut berkelanjutan.

“Untuk saat ini pasar ritel itu sebagian besar untuk kelompok berpenghasilan tinggi. Kami berusaha mendapatkan lebih banyak produk untuk kelas menengah ke bawah. Beberapa tahun lalu kami berhasil dengan jaringan makan siap saji di Hong Kong,” kata Keith Tsui. 

“Mereka menggunakan produk laut berkelanjutan untuk sarapan bagi kelas menengah, 25 dolar untuk menu sarapan fillet ikan. Ini adalah lompatan besar ke depan bagi kita karena produk ini tidak lagi terbatas pada kelompok berpenghasilan tinggi. "

Para juru kampanye ingin konsumen membuat pilihan yang berkelanjutan. Tapi mereka juga menyerukan pada para pemimpin politik Hong Kong untuk melarang tangkapan ilegal yang berasal dari kapal yang berlabuh di kota.

Dr Allen To dari WWF mengatakan praktik ini menghabiskan stok ikan liar dan langka dari terumbu karang di Asia Tenggara, seperti Kerapu.

“Tentu saja pemerintah punya peran. Hong Kong dan Tiongkok adalah daerah perdagangan sekaligus konsumen utama ikan karang hidup termasuk kerapu. Banyak dari spesies kerapu yang dieksploitasi secara berlebihan dan ada yang jumlahnya sudah sangat sedikit."

Sementara itu pedagang Keith Tsui ingin membawa lebih banyak produk laut berkelanjutan ke Hong Kong. Dia fokus pada pendekatan baru yang inovatif.

“Kami akan fokus pada sektor ritel dan juga sekolah-sekolah. Kami akan lebih banyak bekerja sama dengan katering sekolah. Kami juga akan memberitahu anak-anak kalau kami menggunakan makanan yang berkelanjutan dalam bekal mereka. Kelompok  pelanggan ini adalah masa depan kita. Ketika mereka nanti terjun ke masyarakat, mereka akan meneruskan kebiasaan ini dan mereka bisa mempengaruhi orangtua untuk melakukan hal yang sama,” kata Keith Tsui.

Menjadi ibukota penghasil produk laut Asia membuat Hong Kong harus memastikan kalau pasokan ikan tetap ada di lautan untuk konsumen di masa depan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!