Sultan Hussein pengungsi Hazara yang memulai hidup baru di Australia. (Foto: Jarni Blakkarly)

Sultan Hussein pengungsi Hazara yang memulai hidup baru di Australia. (Foto: Jarni Blakkarly)

Dalam dua seri terdahulu soal kehidupan orang Hazara, kita sudah melihat bagaimana kehidupan minoritas Hazara yang teraniaya di Pakistan dan kehidupan mereka sebagai pengungsi.

Mulai dari mendapat ancaman akan dibunuh di Pakistan hingga hidup terkatung-katung di negara lain.

Dalam seri terakhir ini, Jarni Blakkarly membawa kita ke Melbourne, Australia, di mana komunitas pengungsi Hazara memulai hidup baru mereka.

Sultan Hussein tinggal di sebuah apartemen dengan sedikit perabot di pinggiran kota Melbourne.

Di ruang tamu hanya ada sebuah kursi sofa, televisi dan sebuah foto tergantung di dinding – foto pemimpin Hazara yang dibunuh Taliban.

Sambil bermain Tanpura, alat musik mirip sitar, dia bercerita bagaimana hidupnya pasca pindah ke Dandenong... 

Sultan yang berusia 26 tahun tumbuh dewasa sebagai pengungsi. 

Saya pertama kali bertemu dia setahun lalu, saat dia tinggal di Swan Hill - sebuah kota pertanian yang berjarak beberapa jam berkendara dari Melbourne.

Setelah dibebaskan dari tahanan banyak orang Hazara tinggal di sini. Sambil menunggu ijin kerja, mereka bisa bekerja secara tidak resmi sebagai pemetik buah. Selain itu harga sewa kamar di sini murah.

Tapi dalam beberapa bulan terakhir, Sultan mengalami banyak perubahan.

“Kehidupan di Swan Hill sangat berat. Kalau kita mau makan daging kita harus membeli seekor domba, supaya bisa dapat daging halal. Kalau tidak langsung habis, kami menyimpan di kulkas. Tapi di Dandenong, kami bisa dapat makanan halal dengan mudah,” kisahnya. 

Awal tahun ini, ijin kerja Sultan keluar dan dia pun pindah ke Dandenong, sebuah daerah pinggiran kota yang menjadi rumah bagi lima ribu pengungsi Hazara.

Dia kini bekerja di kedai ayam panggang enam hari dalam seminggu. Kedai ini dikelola seorang pria tua bekas pengungsi Hazara.

Sepulang kerja dia kerap mampir ke sebuah restoran Hazara dekat situ. Menurutnya masakan kari di sini seenak di kampung halaman dan banyak orang Hazara makan di sini.

Ketika tiba pertama kali di Australia tahun 2012, dia tidak diijinkan bekerja selama tiga tahun. Hidupnya pun bergantung pada bantuan.

Dia senang akhirnya sekarang bisa mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung halaman.

“Rasanya sangat menyenangkan bisa bebas. Kita bisa hidup seperti yang kita inginkan. Orang Hazara yang tinggal di sini merasa senang karena bisa membangun hidup dan merancang masa depan mereka. Kita lihat banyak orang yang berhasil dengan usahanya. Kemanapun orang Hazara pergi, kami akan membangun sesuatu bukan menghancurkan,” kata Sultan.

Seperti banyak orang Hazara yang merupakan minoritas di Pakistan, Sultan besar di Quetta. Dia memutuskan untuk pergi dari negara itu setelah banyak orang Hazara menjadi target pembunuhan.

Satu tahun sebelum kedatangannya, Australia memperketat kebijakan pengungsinya dengan mengembalikan perahu pengungsi ke lautan. Sultan adalah salah satu yang berhasil masuk dengan perahu. 

Dia adalah satu dari lebih 30 ribu pengungsi yang telah diterima pemerintah Australia tapi statusnya yang sementaranya membuat visanya sewaktu-waktu bisa dicabut...

Dalam sepuluh tahun terakhir pertanyaan soal bagaimana cara mengatasi pencari suaka yang datang dengan perahu telah menyebabkan perpecahan secara politik.

(Baca juga: Kehidupan Etnis Hazara di Indonesia: Tidak Ada Kepastian)

Kebijakan Australia menangani pengungsi juga memicu kritik internasional. Tahun ini sebuah laporan PBB menyebut perlakukan negara itu terhadap pengungsi sama dengan penyiksaan.

Ketika John Gulzari pertama kali tiba di Australia pada 1999 dengan sebuah perahu dari Indonesia, dia jadi salah satu dari beberapa orang Afghanistan di kota itu.

“Ini negara baru dan saya merasa khawatir saat itu. Khawatir kalau saya akan melupakan bahasa asli saya karena tidak ada lawan bicara,” kenang John. 


Saya bertemu John di sebuah kafe di pusat kota Dandenong. Café itu berada di sebuah jalan yang secara resmi bernama ‘Afghan Bazzar’ atau ‘Pasar Afghanistan’.

“Di jalanan tempat kita berada saat ini, dulunya seperti kota hantu. Tidak ada toko-toko.  Sekarang banyak orang kami tinggal di sini dan ada sekitar 100 toko berdiri. Jalanan sudah sangat berkembang.” 

Di sepanjang jalan itu ada restoran, toko kelontong, toko kain dan juga toko kue milik orang Hazara.

John berusia 17 tahun saat pertama tiba di Australia tapi sejak itu dia telah menjadi pengusaha sukses. Dia mengelola perusahaan perumahan dan layanan taksi yang bahkan melayani dewan kota lokal.

Tapi ketika baru tiba di sini kondisinya sangat berat.

“Warga melihat kami seperti alien. Banyak yang bilang kami datang kemari untuk merebut pekerjaan mereka. Itu sentimen yang negatif. Ada banyak orang dianiaya di jalanan ini. Bahkan teman saya ada yang ditusuk di sini,” kisah John. 

Namun, ia mengatakan sentimen itu perlahan menghilang karena orang Hazara memberi kontribusi positif kepada masyarakat.

“Masyarakat kami adalah pekerja keras. Mereka datang kemari bukan untuk mengemis atau meminta-minta.”

Meski ada kemajuan, John mengaku berat ketika melihat pemerintah berpaling dari pengungsi baru Hazara yang mencoba mencapai Australia dengan selamat.

“Bahkan orang-orang tua yang datang di tahun 2000-an melakukan pekerjaan yang fantastis. Mereka berkontribusi kepada masyarakat, mereka menjadi contoh dan pembayar pajak yang patuh. Tapi orang-orang baru dihukum karena datang ke sini. Menurut saya orang-orang kami di sini adalah warga sangat baik, taat hukum, serta membayar pajak. Apa lagi yang pemerintah inginkan?“ kata John.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!