Aung Myo Min & Min Zin. (Foto: Ric Wasserman)

Aung Myo Min & Min Zin. (Foto: Ric Wasserman)

Pemilihan umum di Myanmar pada 8 November mendatang bisa membawa perubahan ataupun malah tidak mengubah apa-apa.

Banyak yang bergantung pada seberapa baik perjalanan Partai Aung San Su Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi, NLD dan beberapa partai berbasis etnis.

Sebagai bagian dari tur untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Eropa, dua aktivis Myanmar tiba di Swedia pekan lalu untuk membahas pemilu bersejarah ini.

Masing-masing punya komitmen pribadi yang mendalam untuk perubahan setelah melarikan diri dari Burma lebih dari dua dekade lalu.

Min Zin and Aung Myo Min berdiri di depan sebuah papan yang dipenuhi gambar-gambar statistik pemilu.

Min Zin adalah seorang pelarian asal Burma sejak 1990. Dia juga mahasiswa PHD di Universitas Berkeley di Amerika Serikat.

Fokus studinya adalah transisi dalam hubungan sipil-militer. Menurutnya militer di Burma seharusnya merasa khawatir karena partai Aung San Su Kyi, NLD, akan mendapat momentum.

“Saat pemilu 2012, mereka mendapat 46 kursi. Kurang dari 10 persen kursi di parlemen, tapi ini sangat simbolis. Ini memberi pesan yang jelas kepada militer, kalau Militer akan segera kalah,” kata Min Zin.

Konstitusi Myanmar menjamin 25 persen kursi parlemen diperuntukkan bagi militer.

Maka sangat penting bagi anggota Uni Eropa untuk tidak melihat pemilu mendatang sebagai akhir dari proses reformasi di Myanmar -- karena ini adalah sebuah permulaan.

“Cari orang-orang reformis dalam rezim ini, dukung dan berdayakan oposisi, sehingga Anda akan melihat transisi yang lebih kompromi. Itu skenario terbaik. Masyarakat internasional harus berperan memfasilitasi kesepakatan politik antara oposisi dan militer,” pinta Min Zin.

Min Zin juga menekankan pentingnya ketidakberpihakan.

“Jika Anda mendukung satu pihak, oposisi maupun pemerintah, ini  tidak akan produktif. Ini seharusnya menjadi transisi kompromi. Masalahnya sekarang adalah pemerintah dan militer tidak menemukan dorongan untuk melakukannya. Jadi masyarakat internasional bisa memberikan lebih banyak dorongan atau menarik dukungan jika mereka gagal.”

Bila Min Zin punya tujuan membantu negara-negara Eropa lebih memahami politik Myanmar, temannya sesama aktivis Aung Myo Min, punya agenda berbeda. Dia ingin menyoroti hak asasi manusia di Myanmar - terutama bagi komunitas LGBT.

Aung Myo Min berjuang bersama rekan-rekannya di ABSDF, Barisan Demokratik Mahasiswa seluruh Burma tahun 1988.

Tapi dia tidak bisa tinggal dan berjuang bersama mereka. Dia seorang gay dan keberadaannya tidak diterima rekan-rekannya. Dia kemudian pergi ke Amerika Serikat dan tinggal di sana lebih dari dua dekade.

“Saya seorang aktivis mahasiswa tahun 1988, karena itu saya harus meninggalkan Myanmar. Saya hidup di hutan dalam lingkungan militer. Tapi saya kesulitan karena lingkungannya sangat militeristik dan sangat tertata. Tapi ada beberapa teman yang tahu orientasi seksual saya dan mereka mendukung saya,” ungkap Aung Myo Min.

Pacarnya, yang juga anggota militer, kemudian disiksa sampai mati. Ini menoreh luka emosional yang mendalam pada Aung Myo Min. Tapi dia berhasil mengubah kemarahan dalam dirinya menjadi semangat untuk memperjuangkan hak asasi manusia.

Saat ini Aung Myo Min adalah pendiri dan direktur Institut Pendidikan HAM Burma. Dia menerima tujuh penghargaan internasional terkait hak asasi manusia dan penelitian soal pelanggaran HAM di Burma.

Kehidupan dan karya Aung Myo Min dibuat menjadi sebuah film dokumenter berjudul "This Kind of Love" atau Cinta Seperti Ini. Film ini belum lama diputar di 22 kota di Amerika Serikat dan saat ini sedang melakukan tur Eropa.

“Sekarang saya tinggal di Yangon setelah 23 tahun hidup di pengasingan. Beberapa orang mungkin bilang ini suatu kemajuan tapi saya ingin bilang kalau ada situasi nyata di lapangan yang setiap hari saya temui,” kata Aung Myo Min.

Memperjuangkan hak-hak gay adalah hal yang berbahaya di Burma. Aung Myo Min mendapat ancaman pembunuhan dan pesan kebencian melalui pesan singkat. Para biksu Buddha mengatakan dia harus berharap dilahirkan kembali sebagai seorang heteroseksual di kehidupan berikutnya.

Tapi dia yakin, dia telah membuat keputusan yang benar. Ada begitu banyak prasangka dan kesalahpahaman di Burma yang ingin ia luruskan.

Isu homoseksualitas perlahan berubah berkat dukungan masyarakat internasional kata Aung Myo Min.

“Isu homoseksual tabu dan sangat sensitif dan tidak ada media yang memberitakan sebelumnya karena ada sensor. Tapi negara ini sekarang sedikit lebih terbuka. Ada lebih banyak pemberitaan karena lebih banyak tulisan tentang orang-orang homoseksual. Ini bagus.”

Menurutnya pemilu mendatang bisa menempatkan fokus pada isu-isu hak asasi manusia dan diskriminasi.

Ini soal mengubah sikap masyarakat.

“Saya harus membuktikan kalau gay, seperti manusia lainnya. Kami bukan masalah tapi bagian dari solusi,” tutup Aung Myo Min.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!