Jumpa pers di Festival Film Internasional Stockholm. (Foto: Ric Wasserman)

Jumpa pers di Festival Film Internasional Stockholm. (Foto: Ric Wasserman)

Festival film Internasional Stockholm ke-26 tahun ini memberi beberapa kejutan.

Salah satunya adalah kehadiran artis Ai Wei Wei sebagai anggota juri untuk Stockholm Impact Award. 

Penghargaan itu diraih oleh Leena Jadav dari India. Pembuat film Tiongkok Liang Zhao memikat penonton dengan filmnya berjudul Behemoth, yang juga meraih penghargaan untuk film dokumenter terbaik.

Seperti yang dilaporkan Ric Wasserman, film dari Asia semakin diakui keberadaannya. 

Di layar muncul gambar daerah tandus dan berangin di Mongolia. Sebuah lembah hasil dari ledakan yang membelah bumi.

Ini adalah perbatasan Tingkok yang baru, tempat pertambangan gas, batubara dan mineral yang meracuni ribuan orang nomaden.

Liang Zhao tahu filmnya tidak akan pernah diputar di televisi Tiongkok. Tapi dia mengaku ada kebutuhan untuk membuatnya.

“Pertama kali saya pergi ke Mongolia, dampak visualnya sangat kuat. Anda tidak akan melihat sesuatu yang hijau di daerah itu. Rasanya seperti berada di bulan atau planet Mars.”

Apa yang diperlihatkan Liang Zhao seperti neraka di bumi: pekerja tambang yang kotor, udara yang tebal dengan jelaga.

Tidak ada wawancara dalam film Liang Zhao yang berjudul Behemoth. Sebaliknya Zhao dengan terampil menjalin lirik puisi Dante berjudul 'The Divine Comedy' yang selesai tahun 1320. Puisi ini bercerita soal perjalanan melalui neraka, api penyucian dan surga - perjalanan sebuah jiwa menuju Tuhan.

Keuntungan dari industri pertambangan ini diinvestasikan untuk membangun sebuah kompleks perumahan raksasa di Mongolia. Tapi kompleks itu tak berpenghuni. Hanya ada penjaga yang menyapu pasir dari jalan-jalan kosong ... Sebuah absurditas.

Tapi tidak ada yang absurd dengan kematian menyakitkan dan perlahan akibat sakit paru-paru yang diderita para pekerja tambang, seperti yang difilmkan oleh Zhao.

“Saya tahu orang-orang Tiongkok tidak akan menonton film saya. Tapi saya berharap ketika film ini muncul di berbagai festival di seluruh dunia, akan mengingatkan kita. Mengingatkan kalau produk-produk Tiongkok berasal dari pertambangan yang membunuh para pekerja dan lingkungan mereka sendiri,” kata Zhao.

Film Liang Zhao, Behemoth, meraih penghargaan di Film Festival International Stockholm untuk film dokumenter terbaik.

Rubaiyat Hossain adalah satu-satunya sutradara perempuan asal Bangladesh. Film terbarunya berjudul: Under Construction muncul di festival ini.

Film ini bercerita tentang seorang aktris bernama Roya dan perjuangannya melawan kebiasaan yang mencekik masyarakat. Roya memainkan bagian dari Nandini, sebuah karya tradisional Tagore, dan berjuang agar bagiannya ditulis ulang dalam konteks modern.

Dia tidak bisa menghadiri festival ini seperti yang direncanakan, jadi saya berbicara dengan dia dari New York:

“Tagore, seorang penulis laki-laki telah menciptakan sebuah pola dasar feminitas dan perempuan harus hidup sesuai dengan acuan itu. Tapi Nandini dan Roya tidak ingin melakukannya. Saya membuat film ini dengan semua karakter ini dan berharap perempuan Bangladesh akan datang ke bioskop dan melihat beberapa refleksi diri mereka dalam karakter ini,” kata Rubaiyat Hossain.

Film ini tentu akan menimbulkan perbincangan ketika dirilis di Bangladesh. 

Diharapkan film ini akan bertahan lebih lama di bioskop ketimbang film pertama Rubaiyat Hossain. Filmnya yang berjudul Meheershan, ditarik dari bioskop-bioskop Dhaka setelah satu minggu diputar dan kemudian dilarang diputar. 

Tapi Rubaiyat Hossain optimistis dengan keadaan bioskop di Bangladesh, yang kurang Bollywood tapi lebih realistis.

“Ada penambahan jumlah pembuat film kelas menengah, yang membuat film lebih realistis. Film ini akan dirilis dan cukup banyak dukungan dari pemerintah. Jadi saya pikir bioskop Bangladesh akan mengambil langkah maju yang positif.”

Puncak dari Festival Film Internasional Stockholm adalah Pengumuman Impact Award, yang menganugerahkan hadiah terbesar pada sutradara film.

Tahun ini pemenangnya adalah Leena Yadav untuk filmnya berjudul Parched. Di sisi lain, anggota dewan Juri Ai Wei Wei jelas menikmati kebebasan barunya untuk bepergian.

“Saya sangat senang mendapatkan kebebasan ini, setelah hampir 5 tahun saya tidak bisa bepergian. Ini memberikan saya kesempatan untuk datang ke acara budaya seperti ini.”

Kebebasan yang sangat penting untuk seniman seperti Ai Wei Wei, juga menjadi tema film Leena Yadav yang jadi pemenang Impact Award, Parched.

Film itu diambil dengan indah oleh sinematografer Titanic, Russell Carpenter, dengan seting sebuah desa di Gujarat India.

Film ini tentang perjuangan empat perempuan untuk melepaskan diri dari dominasi laki-laki agar bisa menjalani kehidupan yang mereka pilih sendiri. Ada harga yang harus mereka bayar untuk itu, tapi kata sutradara Lenna Yadav, ini penting dilakukan.

“Bagi saya ini tentang bagaimana kedua jenis kelamin menyikapi gagasan yang mereka bawa ke dalam norma. Atau siklus kehidupan yang kita bawa dalam peran yang sama. Film ini melanggar itu semua.”

Tapi bukan hanya perempuan yang jadi korban.

”Sejujurnya saya tidak membuat film ini dari sudut pandang perempuan versus laki-laki. Di desa-desa itu, para pria juga banyak yang jadi korban. Dan kita selalu menunjukkan bagaimana perempuan membutuhkan penyembuhan. Tapi menurut saya jika tidak melibatkan kedua gender, ada tidak akan ada perubahan,” kata Leena Yadav.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!