Malam kebudayaan masyarakat adat Lumad di Universitas Filipina di Quezon City. (Foto: Madonna Virola

Malam kebudayaan masyarakat adat Lumad di Universitas Filipina di Quezon City. (Foto: Madonna Virola)

Ratusan masyarakat adat di Filipina berjalan kaki dari Mindanao ke Manila untuk berdemo menentang serangan terhadap masyarakat mereka belum lama ini. 

Kelompok itu menggelar acara yang diberi nama “Manilakbayan” yang berlangsung selama sebulan. Salah satu kegiatannya adalah Perkemahan Rakyat di Universitas Filipina.

Koresponden Asia Calling KBR, Madonna Virola menyusun laporannya dari Quezon City.

Tenda dan stan yang menampilkan orang-orang Lumad - penduduk asli Filipina selatan, telah dipasang.

Sekitar 700 orang Lumad dan pendukung mereka mendirikan kemah di lapangan Universitas Filipina.

Mereka berkumpul untuk bicara, bernyanyi dan menari. Ini dilakukan agar serangan terhadap masyarakat mereka, termasuk serangkaian pembunuhan baru-baru ini, segera diakhiri.

Michelle Campos yang berusia 17 tahun adalah putri dari pemimpin komunitas Lumad, Dionel Campos. Dionel dibunuh secara brutal pada 1 September lalu, di sebuah sekolah pertanian di Filipina selatan.

“Hari masih sangat pagi saat ada pasukan mengetuk pintu dengan keras. Mereka mengancam akan menembak orang-orang jika mereka tidak berkumpul di lapangan basket. Tiga adik perempuan saya melihat pasukan paramiliter itu menembak kepala ayah saya. Anak-anak jadi sangat takut. Warga diancam akan dibunuh jika tidak mengungsi,” kisah Michelle.

Michelle Campos mengatakan ayahnya hanya mempertahankan tanah leluhur mereka dari aktivitas pertambangan di daerah ini.

Para aktivis mengatakan sudah lima orang Lumad tewas tahun ini dan sekitar 40 ribu anggota komunitas ini terpaksa mengungsi dalam dua tahun terakhir.

Ariel Casilao, dari Partai Anakpawis, berasal dari Mindanao dan salah satu penyelenggara Perkemahan Rakyat ini.

Dia mengatakan pemerintahan Presiden Benigno Aquino lebih mendahulukan kepentingan perusahaan.

“Mereka adalah orang, kelompok atau organisasi yang bersikap kritis kepada pemerintahan. Mereka memprotes adanya gangguan dalam skala besar terhadap tanah leluhur mereka karena proyek asing seperti pertambangan, perambahan, perusahaan pertanian dan perkebunan,” kata Ariel.

Ariel mengatakan lebih dari 80 sekolah di Mindanao menjadi target gangguan dan serangan. Ada insiden pembakaran sekolah, pelecehan guru dan ancaman untuk menutup sekolah.

Beberapa mengatakan kelompok paramiliter yang diyakini punya hubungan dengan militer, berada di balik pembunuhan orang-orang Lumad itu. 

Tapi komandan militer Jenderal Hernando Iriberri membantah keterlibatan tentara.

Saya berbincang dengan seorang Imam sekaligus antropolog, Pastor Albert Alejo yang berada di Davao lewat sambungan telepon. Menurutnya kelompok-kelompok itu memang menargetkan masyarakat Lumad.

“Masyarakat adat di Mindanao kadang-kadang dibunuh militer, atau di waktu lain oleh kelompok pemberontak bersenjata, Tentara Rakyat Baru. Ada juga masyarakat adat yang dibunuh beberapa penjaga perusahaan tambang. Selain itu ada juga yang dibunuh tentara sewaan para politisi,” kata Pasto Albert.

Senator Loren Legarda mengatakan pemerintah sedang menyelidiki kasus pembunuhan orang Lumad ini.

Tapi penyelidikan, yang melibatkan Kepolisian Nasional, Komisi Hak Asasi Manusia dan Kementerian Kehakiman, belum dirilis hasilnya.

Senator Legarda mengatakan masih belum jelas siapa dalang pembunuhan itu.

“Ini bisa pasukan paramiliter, atau penjahat, yang diciptakan oleh eksekutif di pemerintahan sebelumnya yang lepas kontrol. Dan sekarang kelompok-kelompok ini mungkin sedang digunakan oleh beberapa kepentingan dan mereka bersenjata.”

Pelapor khusus PBB mengenai hak-hak masyarakat adat, Victoria Tauli-Corpuz, juga mengatakan serangan itu menunjukkan perlunya pembicaraan damai - antara pemerintah, Tentara Rakyat Baru dan Front Demokratik Nasional, kelompok organisasi sayap kiri.

Tapi dalam jangka pendek, pastor Albert Alejo mengatakan pembunuhan harus dihentikan.

“Biarkan masyarakat adat berkembang dengan struktur politik, budaya, hukum dan strategi resolusi konflik adat mereka. Struktur politik masyarakat adat harus didukung agar masyarakat adat bisa mandiri,” kata Pastor Albert.

Kembali ke Perkemahan Rakyat di Universitas di Manila. Michelle Campos mengatakan tanpa kehadiran sang ayah, hidup mereka makin sulit.

Tapi dia berencana menyelesaikan sekolahnya sehingga dia bisa memperjuangkan hak-hak keluarganya.

“Ini yang ayah saya inginkan. Pendidikan itu penting, karena memberi kehormatan kepada kami orang Lumad. Pendidikan itu suci dan mengajarkan tentang hak-hak kami. Itu sebabnya kami harus melindungi tanah leluhur agar tidak didiskriminasikan dan demi kemajuan masyarakat,” kata Michelle.

Di Perkemahan Rakyat masyarakat Lumad, masyarakat adat Filipina berharap keadilan bisa segera ditegakkan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!