Warisan 'Balibo 5' Mengilhami Jurnalis Generasi Baru di Timor Leste

42 tahun berlalu sejak lima jurnalis Australia terbunuh di kota kecil Balibo, dekat perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Senin, 30 Okt 2017 11:09 WIB

Tempat tinggal para jurnalis Australia yang ditembak kini menjadi Pusat Belajar Komunitas Balibo. (F

Tempat tinggal para jurnalis Australia yang ditembak kini menjadi Pusat Belajar Komunitas Balibo. (Foto: Teodosia dos Reis)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Sudah 42 tahun berlalu sejak lima jurnalis Australia terbunuh di kota kecil Balibo, dekat perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Para jurnalis itu berada di sana untuk meliput invasi Indonesia ke Timor Leste tahun 1975.

Pada peringatan kematian mereka bulan ini, Teodosia dos Reis berkunjung ke Balibo, di mana warisan mereka tetap terasa kuat.

Saat ini saya berada di Balibo, sebuah kota kecil di atas bukit. Jarak kota ini dari ibu kota Dili sekitar empat jam berkendara. Di sisi utara kota, saya bisa melihat lautan sementara di sebelah barat, saya bisa melihat Timor Barat, yang masuk wilayah Indonesia.

Berjalan menyusuri jalan utama, saya melihat banyak rumah beton kosong yang ditutupi grafiti. Beberapa bangunan ini digunakan oleh militer Indonesia untuk mengeksekusi orang Timor. Kini rumah-rumah itu dibiarkan terbengkalai dan menjadi pengingat yang tidak mudah dilupakan atas pendudukan Indonesia. 



Kota kecil ini punya arti penting bagi Timor Leste karena letaknya berdekatan dengan perbatasan. Warga Balibo bercerita pada saya kalau mereka telah melihat banyak konflik. “Ini adalah sejarah penting untuk diingat oleh saya sebagai pelajar karena pada saat yang sulit mereka menyerahkan hidup mereka,” katanya.

Pada 1975, lima jurnalis Australia datang ke sini untuk meliput invasi Indonesia ke Timor Leste. Dan mereka ditembak mati. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi hari itu, tapi diyakini mereka sengaja ditargetkan dan dibunuh. Tapi tidak ada yang dituntut atas kematian mereka.

Kini 42 tahun kemudian, saat saya berkunjung ke kota ini, orang-orang sedang sibuk mempersiapkan acara untuk mengenang kelima jurnalis itu. Acara yang digelar mulai dari turnamen sepak bola hingga konser.

“Bagi saya ini sangat menyedihkan dan mengganggu. Bukan hanya karena mereka adalah orang Australia, yang sebenarnya adalah orang Australia, Selandia Baru dan Inggris. Tapi juga fakta bahwa di sinilah tempat di mana invasi Indonesia dimulai setelah mereka melewati perbatasan,” kata seorang warga Australia ketika saya bertanya apa makna kisah lima jurmalis di Balibo ini baginya.

Setelah invasi berdarah tahun 1975, Timor Leste berada di bawah pendudukan Indonesia sampai tahun 1999.

Amnesty International memperkirakan selama pendudukan sekitar 200 ribu orang Timor, hampir sepertiga dari populasi, meninggal karena kelaparan dan kekerasan.

Beatiz Silava Santos, 44 tahun, mengatakan pada saya peristiwa pendudukan dan kematian lima jurnalis asing itu tidak pernah dilupakan di sini. “Saat itu saya masih kecil. Saya tidak melihat langsung saat mereka dibunuh. Tapi tetap penting bagi saya untuk mengingat peristiwa itu meski saya mengetahuinya dari orang lain,” tutur Beatiz.



Lima jurnalis yang tewas di Balibo saat itu adalah Garry Cunningam, Greg Shackleton, Brian Peters, Tony Stewart dan Malcolm Rennie. Pada tahun 1975, mereka melukis bendera Australia di dinding bangunan tempat mereka tinggal. Mereka berharap ini bisa memberi perlindungan dari kebrutalan militer Indonesia. Tapi harapan mereka tidak terwujud.

Pada tahun 2003, bangunan itu dijadikan Pusat Belajar Komunitas Balibo, yang didirikan untuk menghormati para jurnalis. 

Koordinator Pusat Belajar itu adalah Alipe dos Santos. Jalannya pincang akibat tembakan di kakinya saat Pembantaian Santa Cruz tahun 1991. Saat itu terjadi konfrontasi antara militer Indonesia dan orang-orang Timor Leste yang berdemo menuntut kemerdekaan di Dili.

“Sebagai pejuang perlawanan, saya ingin mendedikasikan hidup saya untuk mendukung museum dan kenangan akan lima jurnalis yang terbunuh di sini. Saya menganggap mereka sebagai bagian dari Timor karena mereka mendedikasikan hidup mereka untuk Kemerdekaan Timor Leste,” kata Alipe.

Di gedung itu juga berkantor Balibo House Trust yang mendukung masyarakat dengan menyediakan berbagai fasilitas dan program seperti dokter gigi, pendidikan dan pelatihan mekanika.



Ini adalah kunjungan pertama saya ke Balibo. Bagi jurnalis seperti saya, ini adalah tempat yang sangat penting. Kisah lima jurnalis itu tidak hanya menimbulkan kesedihan tapi juga menginspirasi saya. 

Raimundo Oki, salah satu dari sedikit jurnalis investigatif di Timor Leste, setuju dengan saya.

“Sebagai jurnalis Timor Leste kita harus berani. Karena Timor Leste adalah negara yang sangat baru, sebuah negara kecil dengan populasi kecil. Tapi kita memiliki sumber daya alam. Kita harus berani seperti lima jurnalis itu, berani untuk melawan musuh sejati rakyat seperti korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan di pemerintahan,” ujar Raimundo.

Demokrasi di Timor Leste masih baru dan hanya sedikit jurnalis yang berani atau cukup terampil untuk menceritakan kisah yang menantang.

Virgilho Guterres dari Dewan Pers Timor Leste mengatakan kisah lima jurnalis di Balibo itu menjadi inspirasi bagi generasi baru jurnalis. “Yang perlu kita pelajari dari mereka adalah semangat pengorbanan. Meski mereka berasal dari negara asing, mereka mencintai profesinya. Kita perlu belajar dari mereka tentang itu,” jelas Virgilho.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

BPS : Upah Buruh Tani Naik Tipis Pada Bulan Desember

  • ICEL Desak Jokowi Undang-Undang Aturan Pengendalian Lingkungan
  • Antisipasi Lonjakan Penumpang, PT KAI Daop 5 Siapkan Dua Kereta Api Tambahan

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi