Thailand Pasca Keluarga Shinawatra

Pada 25 Agustus lalu, bekas Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, meninggalkan negara itu secara diam-diam.

Senin, 02 Okt 2017 08:05 WIB

Terakhir kali Yingluck Shinawatra muncul di pengadilan ditemani para pendukungnya. (Foto: Kannikar P

Terakhir kali Yingluck Shinawatra muncul di pengadilan ditemani para pendukungnya. (Foto: Kannikar Petchkaew)

Belum lama ini, bekas Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, meninggalkan negara itu secara diam-diam.

Dalam 12 tahun terakhir, Thailand telah dirusak oleh kerusuhan politik, termasuk dua kudeta militer. Dan di pusat perpolitikan yang tak terprediksi itu ada keluarga Shinawatra, yang pengaruhnya menguasai Thailand selama lebih dari satu dekade. 

Mereka dicintai sekaligus dibenci. Tiga anggota keluarga itu dipilih menjadi Perdana Menteri dan ketiganya digulingkan dari posisi mereka. 

Koresponden Asia Calling KBR di Thailand, Kannikar Petchkaew, mencari tahu apakah pengaruh keluarga ini akan tetap ada meski sudah tidak berkuasa lagi di sana.

Mayuri harus berkendara selama lima jam agar bisa sampai di pengadilan Bangkok saat subuh. Dia memegang sekotak kari ikan buatan rumah dan membanggakan kalau yang dia sebut “Ibu Perdana Menteri” menyukai masakannya.

“Tanya saja sendiri,” tantangnya. Mayuri mengacu pada bekas Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, yang digulingkan dari jabatannya tiga tahun lalu. 

Di luar pengadilan, kami menunggu kedatangan Yingluck dan untuk mendengarkan keputusan pengadilan atas masa depannya. Kami menunggu dan terus menunggu. Tapi Yingluck tidak datang-datang.

Belakangan kami tahu kalau dia sudah meninggalkan negara ini, di pagi hari tanggal 25 Agustus. Pendukung Shinawatra, Hansak Benjasripitak, mengatakan dia pergi karena terpaksa.

“Sistem peradilan: saksi-saksi palsu, penghancuran barang bukti, dan informasi yang tidak memihak diperhitungan. Jika saya harus dihukum di dalam situasi seperti ini, saya juga akan pergi,” bela Hansak.



Yingluck Shinawatra dituntut karena melalaikan kewajibannya atas skema subsidi beras yang seharusnya mendukung petani Thailand. Tapi skema ini berakhir dengan kegagalan. Dia dinyatakan bersalah dan dihukum lima tahun penjara.

Tapi pendukung Shinawatra seperti Hansak mengklaim tuntutan itu bermotif politik. Sebuah upaya untuk menyingkirkan keluarga Shinawatra dan pendukungnya.

“Siapa saja, bukan hanya anggota keluarga Shinawatra tapi semua orang yang dekat dengan mereka, siapa saja yang dicurigai berada di belakang Shinawatra, mereka akan disingkirkan,” kata Hansak.

Yingluck Shinawatra adalah Perdana Menteri kedua yang meninggalkan negara itu dalam 10 tahun terakhir. Yang pertama adalah kakaknya, Thaksin Shinawatra.

Miliader yang beralih profesi menjadi politisi, Thaksin Shinawatra, membuat nama keluarganya harum saat ikut pemilu pada 2001. Dia mendapatkan dukungan yang sangat besar terutama dari warga miskin pedesaan.



Partainya, Pheu Thai, meraih kemenangan telak dan Thaksin menjadi Perdana Menteri terpilih pertama yang bisa menyelesaikan masa kerjanya.

Pada 2006, Thaksin Shinawatra digulingkan lewat kudeta militer. Dia pun meninggalkan negera itu. Tapi kepopulerannya tetap kuat dan Thailand pun terbelah, antara mereka yang mendukung Thaksin dan mereka yang ingin melihat dia pergi.

Kedua pihak pun turun ke jalan. Konfrontasi yang diwarnai kekerasan membawa negara itu diambang perang sipil.

Meski terjadi kerusuhan politik dan Thanksin pergi, keluarga Shinawatra tetap eksis. Saudara ipar dan saudara perempuan Thanksin terpilih menjadi Perdana Menteri. Meski keduanya digulingkan dari posisisnya lewat putusan pengadilan.

Bahkan rival mereka, seperti bekas Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva setuju kalau pengaruh keluarga itu masih besar. 

“Ditambah pengaruh keluarga itu yang tetap berkecimpung di dunia politik dan juga masih adanya dukungan masyarakat. Ini berarti mereka akan terus menjadi kekuatan dalam politik Thailand. Kita harus realistis mengenai hal itu,” kata Abhisit.

Junta militer sudah berkuasa selama tiga tahun. Pemilu yang demokratis dijanjikan berlangsung tahun depan tapi tidak ada yang menantinya. Hak-hak sipil dan kebebasan politik telah terkikis dan lawan politik sudah dihancurkan.

Tapi jurnalis ternama Thailand, Thepchai Yong, mengatakan situasinya jauh dari berakhir.

“Fakta bahwa Yingluck pergi dari negara ini tidak berarti  dukungan masyarakat terhadap keluarga ini juga berakhir. Mungkin justru sebaliknya. Yingluck yang dianggap terpaksa pergi, mungkin akan dimanfaatkan oleh keluarganya, dalam arti ini akan memberi kesan kalau anggota keluarga mereka, terutama Yingluck, mengalami persekusi,” ujar Tepchai.



Meski masih banyak yang mendukung keluarga Shinawatra tapi di bawah junta militer, jalan mereka tidak akan mudah.

Pendukung Shinawatra, Hansak, mengatakan dia ingin melihat rekonsiliasi antara militer dan pendukung Shinawatra. Menurutnya, kalau perpecahan ini tidak diselesaikan secara adil, mereka akan terus mendominasi politik Thailand. 

“Jika kita menginginkan rekonsiliasi yang nyata dan terus berlanjut, semua fakta harus dipertimbangkan, fakta tentang korban dan pelaku. Jika Anda tidak mempertimbangkan kebenaran dari semua sisi, kita akan terjebak selamanya,” kata Hansak.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi