Puluhan Juta Warga Lembah Indus Pakistan Terancam Keracunan Arsenik

Arsenik tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Jadi sulit untuk mengetahui apakah air sudah terkontaminasi atau tidak.

Senin, 09 Okt 2017 08:05 WIB

Tingkat arsenik di cadangan air di Lembah Indus jumlahnya 10 kali lebih tinggi dari tingkat aman yan

Tingkat arsenik di cadangan air di Lembah Indus jumlahnya 10 kali lebih tinggi dari tingkat aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia. (Foto: Mudassar Shah)

Keracunan arsenik sering dikaitkan dengan plot pembunuhan dan bunuh diri terutama di layar lebar. Sekarang, zat mematikan itu ditemukan di level yang sangat mengkhawatirkan di Lembah Indus Pakistan. Ini membuat 60 juta orang berisiko mengalami keracunan. Mudassar Shah mengunjungi Provinsi Sindh dan Punjab dan menyusun laporan berikut.

Cuaca di Gurun Thar di Pakistan hari ini sangat terik. Sharief Burfat berusia 45 tahun. Dia bergerak pelan-pelan dengan tongkatnya, wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Dia bermandi keringat … tapi lebih karena penyakitnya bukan cuaca panas. Sharief mengalami keracunan arsenik.

“Tulang-tulang saya menjadi lemah. Tapi saya tetap bersyukur kepada Tuhan karena banyak penduduk lain yang lebih parah. Tulang mereka mudah patah meski hanya bergerak lambat atau jatuh,” tutur Sharief.

Ketika saya bertemu dengannya, Sharief baru kembali dari Provinsi Sindh untuk bertemu dokter di Hyderbad, yang jaraknya lima jam perjalanan dengan bus.

“Saya sudah lama sakit dan sudah berkonsultasi dengan dokter di sini beberapa kali tapi mereka gagal mendiagnosis penyakit saya. Di rumah sakit yang lebih besar, saya didiagnosis menderita penyakit yang disebabkan oleh racun arsenik yang berasal dari air,” ujarnya.



Arsenik tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Jadi sulit untuk mengetahui apakah air sudah terkontaminasi atau tidak.

“Air minum merupakan salah satu penyebab utama penyakit ini, karena kami minum air yang sudah terkontaminasi. Warga di sini tidak sadar bahwa airnya beracun. Penyakit menyebar di daerah ini karena air yang terkontaminasi,” jelas Sharief.

Dulu di Provinsi Punjab dan Sindh di Pakistan, warga mengambil air minum dari bendungan terbuka dan saluran irigasi. Pada tahun 1980an, kasus diare dan kolera marak terjadi. Karena itu warga mulai menggali sumur untuk mendapatkan air. Tapi itu menimbulkan masalah baru: keracunan Arsenik.

”Saya merasa tulang saya masih lemah. Saya juga merasakan sakit pada sendi. Saya merasa sangat lelah,” kata Sharief.

Orang-orang terkena racun arsenik saat mereka minum air yang terkontaminasi. Atau saat mereka makan buah, sayuran dan produk hewani yang telah bersentuhan dengan air yang terkontaminasi.

Keracunan arsenik mempengaruhi seluruh organ tubuh. Dampaknya: menyebabkan muntah dan diare, luka di kulit, melemahnya sumsum tulang, masalah neurologis dan sirkulasi, dan gagal pernafasan.

“Arsenik itu murni racun. Sejumlah kecil arsenik murni bisa menyebabkan kematian. Ini menyebabkan penyakit yang ditularkan oleh air, kanker kandung kemih, kanker paru-paru, kanker kulit dan penyakit jantung,” jelas Lubna Bukhari, Direktur Jenderal Dewan Riset Pakistan bidang Sumber Daya Air.

 

Arsenik terbentuk secara alami, mencair dari batuan ke tanah dan air tanah. Irigasi kemudian menyebarkan air yang terkontaminasi ke tanaman pangan. Dangkalnya sumur air yang digali membuat arsenik lebih banyak masuk ke tempat persediaan air.

Sebuah studi yang baru-baru ini dilakukan Ilmu dan Teknologi Air di Institut Federal Swiss menunjukkan tingkat arsenik di cadangan air di Lembah Indus jumlahnya 10 kali lebih tinggi dari tingkat aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Lima puluh hingga 60 juta orang yang berada di wilayah itu terancam keracunan arsenik.

Berikut penjelasan Dr Naveed Ullah, ahli kualitas air di Universitas Peshawar.

“Saya khawatir dengan situasi yang memprihatinkan ini, yang membutuhkan perhatian segera dari pemerintah. Ini sangat berisiko karena masyarakat belum punya kesadaran atau kesadarannya masih sedikit tentang arsenik. Kita harus segera memulai kampanye penyadaran.”

Tidak ada obat untuk keracunan arsenik. Karena itu menghindari kontaminasi adalah solusi terbaik. Menggali sumur yang lebih dalam bisa membantu menghindari tingginya tingkat arsenik. Saringan arsenik juga akan mengurangi risiko keracunan.


Sementara itu, karena lelah menunggu tindakan pemerintah, Sharief mengatakan ingin menjual tanahnya sehingga bisa membeli instalasi penyaringan air untuk tetangga dan keluarganya.

“Penyakit ini tidak bisa diatasi sepenuhnya tapi setidaknya bisa dikurangi. Jika pemerintah bisa menyediakan instalasi penyaringan air, orang miskin bisa mendapatkan air bersih,” kata Sharief.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi