Penyerang yang Memotong Rambut Meneror Perempuan India

Serangan ini memicu protes secara luas dan tuduhan kalau agen-agen India berada di belakang serangan ini.

Senin, 16 Okt 2017 15:13 WIB

Aksi di India menuntut teror, dimana penyerang memotong rambut perempuan. dihentikan. (Foto: Bismill

Aksi di India menuntut teror, dimana penyerang memotong rambut perempuan. dihentikan. (Foto: Bismillah Geelani)

Sejak Agustus lalu, gelombang serangan misterius yang menargetkan perempuan terjadi di India utara. Para penyerang tak dikenal, yang muncul entah dari mana, memotong rambut para perempuan lalu menghilang tanpa jejak.

Fenomena mengerikan ini kini muncul di wilayah Kashmir yang dikuasai India. Di sana konflik antara otoritas India dan separatis lokal telah berlangsung puluhan tahun. Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, serangan ini memicu protes secara luas dan tuduhan kalau agen-agen India berada di belakang serangan ini.

Di Distrik Anantnag Kashmir Selatan, puluhan perempuan berkumpul di rumah Dilshada Begum, 38 tahun. Tetangga sedang mencoba menghibur perempuan yang terus terisak-isak itu. Sementara ibunya meratap dan mengutuk musuh yang tidak dikenal, yang telah menyakiti putrinya.

Masih dalam keadaan syok, Dilshada menceritakan apa yang dialaminya. ”Setelah menyuruh anak saya ke pasar untuk membeli roti, saya pergi ke dapur untuk membuat teh. Saat berada di dapur, tiba-tiba seseorang menaruh kain di mulut saya dan menarik rambut saya. Saya pikir anak saya sedang becanda. Saya ingin mengatakan kepadanya untuk tidak melakukan itu tapi sebelum saya selesai bicara, saya jatuh pingsan,”kisahnya.

Ketika terbangun, dia mendapati separuh dari rambut ekor kudanya sudah terpotong dan tergeletak di sampingnya.

Di distrik yang sama, Shameema, 17 tahun,  juga mengalami hal yang sama. Bedanya, dia sempat melihat penyerangnya dan memberikan perlawanan.

“Saya akan jalan-jalan setelah makan malam. Tapi begitu saya melangkah keluar, seseorang meletakkan tangannya di mulut dan membekap saya. Saya melawan dan mencoba melepaskan diri tapi dia memaksa saya menelungkup di lantai. Saya mendongak dan melihat matanya lalu saya menggigit tangannya,” tutur Shameema.

Lebih dari 60 perempuan yang rambutnya dipotong dalam serangan serupa di Kashmir dalam waktu kurang dari sebulan.



Kashmir adalah wilayah mayoritas Muslim dan menurut kepercayaan Islam, perempuan Muslim seharusnya menutupi rambut mereka. 

Praktik ini dianggap sebagai simbol kerendahan hati dan martabat sehingga serangan ini dipandang sebagai upaya untuk mempermalukan para perempuan.

Warga setempat menanggapi kejadian ini dengan unjuk rasa. Mereka mengancam pihak berwenang jika pelaku kejahatan tidak segera ditangkap dan diadili, akan terjadi hal mengerikan.

“Ini bukan masalah politik. Ini tentang kehormatan kami yang secara terang-terangan dinodai secara terencana. Rambut kami bukan hanya kecantikan kami; itu adalah bagian dari tubuh dan keberadaan kami,” kata salah satu pengunjuk rasa di ibu kota Kashmir, Srinagar, Tabassum.

“Kami dilahirkan membawa rambut dan meninggal juga harus membawanya. Memotong rambut kami seperti menelanjangi kami dan itu tidak bisa ditolerir. Jika ini tidak berhenti maka akan terjadi kerusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Insiden pemotongan rambut ini awalnya terjadi di Negara Bagian utara Haryana dan segera menyebar ke seluruh India bagian utara. Ratusan kasus dilaporkan terjadi di beberapa negara bagian, termasuk di ibu kota New Delhi.

Di luar Kashmir, tidak ada korban yang melihat penyerang mereka. Kebanyakan mengaku mengalami sakit kepala parah sebelum kehilangan rambut mereka. Ada yang bilang mereka melihat kilasan cahaya, atau pria berpakaian cerah, atau bahkan seekor kucing yang berubah menjadi manusia.

Investigasi polisi dan pemeriksaan medis menyatakan kalau klaim ini tidak berdasar.

Namun di Kashmir, situasinya berbeda. Konflik sengit yang telah berlangsung lama antara  otoritas India dan separatis lokal ini membayangi setiap peristiwa, tak terkecuali insiden pemotongan rambut misterius itu. 

Penduduk setempat secara luas percaya bahwa tentara India dan badan intelijen terlibat. Banyak perempuan korban mengaku melihat penyerangnya dan beberapa bahkan mengklaim mereka berseragam tentara.

Kashmir adalah wilayah dengan personil militer terbanyak di dunia. Dan banyak warga Kashmir, termasuk politisi arus utama merasa sulit untuk menerima bahwa serangan yang kurang ajar itu bisa terjadi tanpa sepengetahuan pihak berwenang India.

Mustafa Kamal adalah pemimpin partai oposisi, The National Conference.

“Kami melihat apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Dalam satu kejadian, para penyerang dikejar dan orang-orang melihat mereka berlindung di sebuah kamp militer. Dalam insiden lain, penyerang dikejar dan tentara berhasil menyelamatkannya dan mereka melepaskan tembakan senjata ke udara,” kata Kamal. 

“Sekarang kejadian ini banyak dilaporkan di media. Jelas kalau instansi pemerintah terlibat. Dan jangan lupa kalau ada tentara di setiap sudut Kashmir. Ini tidak mungkin terjadi tanpa dukungan mereka.”

Namun pihak berwenang membantahnya. Muneer Khan, Inspektur Jenderal Polisi Kashmir mengatakan mereka sedang berupaya memecahkan masalah ini.

“Semua sumber daya, tenaga kerja dan waktu sekarang hanya terfokus pada penelusuran kasus ini. Operasi anti-militansi dan pengumpulan informasi intelijen terabaikan karena kasus-kasus ini,” jelas Khan.

Tapi sejauh ini penyelidikan polisi belum membuahkan hasil dan serangan yang memotong rambut perempuan terus berlanjut tanpa henti. Sementara itu, ketakutan dan kemarahan publik terus meningkat.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi