Marawi Direbut Kembali, Tantangan Baru Muncul

Pertempuran itu telah menghancurkan kota Marawi dan memaksa 90 persen penduduknya mengungsi.

Senin, 23 Okt 2017 08:10 WIB

Tempat penampungan sementara pengungsi Marawi di kota Iligan. (Foto: Madonna Virola)

Tempat penampungan sementara pengungsi Marawi di kota Iligan. (Foto: Madonna Virola)

Lima bulan terakhir, Kota Marawi di Filipina Selatan dikepung milisi.

Pejuang yang didukung oleh ISIS berperang melawan pasukan Filipina untuk menguasai wilayah tersebut. Ini akan memberi pijakan bagi kelompok teroris di Asia.

Pertempuran itu telah menghancurkan kota Marawi dan memaksa 90 persen penduduknya mengungsi. Tapi Selasa lalu, pertempuran akhirnya dinyatakan berakhir.

Koresponden Asia Calling KBR, Madonna Virola, menyusun laporannya dari Kota Iligan Filipina.

Bulan Mei tahun ini, milisi yang didukung ISIS melakukan serangan berdarah terencana ke kota Marawi, Filipina.

Setelah lima bulan pertempuran dengan korban lebih dari seribu orang, pasukan Filipina berhasil menewaskan dua pemimpin milisi, Isinilon Hapilon dan Omar Maute, bersama dengan sekitar 50 milisi lainnya dan sandera mereka.

Hampir 400 ribu jiwa atau 90 persen penduduk kota itu terpaksa mengungsi karena pertempuran tersebut. 

Mereka mengungsi ke kota-kota tetangga. Di sana mereka tinggal di kamar seadanya yang suram dan sempit. Lantai semennya dialasi kardus sementara atap dan dindingnya terbuat dari lembaran plastik hasil sumbangan.

Di Saguiran, kota terdekat dari Marawi, pengungsi sedang mengantri untuk mendapatkan makanan dan persediaan bahan pokok.


 

Para ibu mengambil kaleng sarden dan menjualnya dengan harga rendah dan uangnya untuk membeli susu dan popok untuk bayi mereka.

Saat meninggalkan rumah, para perempuan ini tidak sempat membawa apa-apa.

Sahara, 32 tahun, menangis saat bercerita tentang ketegangan hidup dalam pelarian dan tinggal di tempat penampungan sementara.

“Suami saya melakukan kekerasan terhadap saya. Dia memukul dan menghina saya. Saya sudah lapor ke polisi tapi mereka hanya memperingatkan dia. Saya ingin meninggalkan dia tapi saya tidak punya uang dan ketiga anak saya masih kecil” kisah Sahara.

Organisasi kemanusiaan membantu menyediakan kebutuhan dasar seperti air, makanan, tempat tinggal dan sanitasi. Tapi setelah lima bulan, masalah yang lebih kompleks pun muncul.

Ribuan orang menghabiskan bulan puasa Ramadhan dalam pelarian. Dan banyak perempuan melahirkan di tempat penampungan.

Relawan Anefel Granada mengatakan mereka telah melakukan yang terbaik untuk mengakomodasi pengungsi.

“Kami harus menyediakan barang-barang yang ada tidak dalam pengajuan, seperti kayu lapis untuk lantai. Ini terutama untuk ibu hamil dan anak-anak yang merasa kedinginan. Kami juga memberikan perlengkapan bayi baru lahir karena ada beberapa ibu hamil dengan anak kecil di tempat penampungan,” jelas Anefel.



LSM perempuan yang berbasis di Marawi, Yayasan Pengembangan Al-Mujadilah atau AMDF mendirikan kantor sementara di kota Iligan.

Para staf lembaga ini ikut melarikan diri dari rumah mereka. Setelah menemukan tempat berlindung bagi keluarganya, mereka pun turun tangan membantu yang lain.

Namun, penanggung jawab program AMDF, Noraisah Sani, mengatakan masyarakat akan menghadapi tantangan lebih besar di masa depan.

“Kita harus memastikan kalau pemuda di sekolah-sekolah berbahasa Arab diajarkan prinsip-prinsip Islam yang benar. Dan tidak direkrut menjadi teroris,” kata Noraisah.

Ahmed Harris Pangcoga dari kantor Badan urusan Pengungsi PBB di Iligan.

Dia menjelaskan ISIS dan sekutu lokalnya, kelompok Maute, menargetkan kota Marawi yang berpenduduk mayoritas Muslim dalam sebuah serangan terencana. Tujuannya untuk memperluas pengaruhnya di Asia.

“Marawi menjadi sasaran kelompok ekstremis karena jika Anda melihat contoh di Timur Tengah atau di Afrika, ini merupakan strategi untuk mengendalikan pusat kota yang didominasi Muslim. Harapannya mereka mendapat simpati dari populasi Muslim di sana,” jelas Ahmed.

Para milisi itu merupakan gabungan dari jihadi asal Indonesia, Malaysia dan sejauh ini dari Chechnya.

Ahmed berpendapat deradikalisasi harus masuk dalam agenda di Marawi, bahkan setelah pertempuran berakhir.

“Dari perspektif non-pemerintah, meski perlu untuk mengatasi tindakan terorisme, tapi pencegahan juga harus dilakukan. Karena kota Marawi adalah salah satu kota Muslim selain Lamitan.”

Ketika pertempuran pecah di Kota Marawi, Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan Darurat Militer, di seluruh wilayah Mindanao. Dia bahkan mengancam akan memberlakukannya secara nasional.

Pertempuran kini sudah berakhir tapi darurat militer masih berlaku dan belum ada tanda-tanda akan dicabut.



Kembali ke tempat penampungan Saguiran, perempuan dan anak perempuan mengatakan mereka hanya ingin kembali bersekolah, bekerja, dan hidup normal lagi.

Tapi dengan kondisi Marawi yang porak poranda, tugas besar terbentang di depan mata yaitu membangun kembali kota itu. Dan itu artinya kehidupan normal belum akan tercipta dalam waktu dekat.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Bamus Tunda Penggantian Setnov

  • Hoaks 8 Penyakit Tak Ditanggung BPJS Resahkan Warga Bengkulu
  • Salah Sasaran, Puluhan Ribu Penerima PKH Dihapus
  • Koresponden Asia Calling di Pakistan Terima AGAHI Award

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur