Jalan Kaki Untuk Keadilan Bagi Komunitas Aborigin

Clinton Pryor selama setahun berjalan kaki menjelajahi Australia, mengunjungi berbagai komunitas Aborigin terpencil di sepanjang perjalanannya.

Senin, 16 Okt 2017 14:36 WIB

Clinton Pryor sedang bercerita tentang pengalamannya melakukan Jalan Kaki untuk Keadilan yang berlan

Clinton Pryor sedang bercerita tentang pengalamannya melakukan Jalan Kaki untuk Keadilan yang berlangsung selama selama satu tahun. (Foto: Jake Atienza)

Clinton Pryor selama setahun berjalan kaki menjelajahi Australia, mengunjungi berbagai komunitas Aborigin terpencil di sepanjang perjalanannya. Karena aksinya ini dia kenal sebagai “Spirit Walker” atau “roh”.

Pada September lalu, dia tiba di tempat tujuannya, ibu kota Australia. Dia menuntut untuk bertemu dengan Perdana Menteri, Malcolm Turnbull, pemimpin oposisi dan anggota parlemen lainnya.

Dari Sydney, Jake Atienza mencari tahu lebih jauh soal Jalan Kaki Untuk Keadilan yang dilakukan Clinton Pryor.

Clinton Pryor telah berjalan hampir enam ribu kilometer, dari satu sisi Australia ke sisi lain, melewati padang pasir dan medan yang keras.

Disertai paman dan pendukungnya, pria Aborigin berusia 27 tahun asal Australia Barat ini tiba di ibu kota negara bagian Canberra, setelah berjalan selama satu tahun. Tujuan aksinya adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu di masyarakat Aborigin.

“Kami tinggal di negara dunia pertama tapi di sini masih ada orang-orang yang hidup seperti masyarakat di dunia ketiga,” tutur Clinton.



Clinton melakukan Jalan Kaki untuk Keadilan karena pemerintah Australia menolak melayani 150 komunitas Aborogin yang tinggal di wilayah terpencil. Berpidato di depan pendukung di Sydney bulan lalu, Clinton menjelaskan rencana itu sangat merugikan masyarakat adat.

“Banyak orang di luar sana yang bunuh diri. Dua orang kulit hitam bunuh diri setiap minggu. Tidak ada layanan untuk konseling, tempat orang-orang kami bisa bercerita,” katanya.

Masyarakat adat  yang tinggal di daerah terpencil menghadapi tingkat pengangguran yang tinggi, masalah kesehatan mental dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut laporan pemerintah federal tahun 2015 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Adat, tingkat bunuh diri dikalangan kaum muda penduduk asli lima kali lebih besar dari kaum muda bukan penduduk asli.

Sementara angka pengangguran penduduk asli empat kali lebih tinggi daripada bukan penduduk asli. Dan penduduk asli Australia enam kali lebih mungkin untuk tinggal di perumahan umum. Karena jauh dari pusat ekonomi, peluang untuk pembangunan pun langka.

“Banyak orang di luar sana bahkan tidak punya air tawar. Tak satu pun dari mereka bahkan punya air. Mereka juga kelaparan. Harga makanan semakin tinggi dan tidak terjangkau,” jelas Clinton.

Sejak kedatangan penjajah Inggris, warga Aborigin Australia kehilangan tanah dan anak-anak mereka. Masuknya penyakit dan alkohol juga merusak komunitas itu.



Pada awal abad ke-20, ribuan orang asli Australia diusir dari tanah mereka, dikumpulkan dan dimasukkan ke kamp yang dikelola misionaris Kristen. Di sana bahasa dan budaya mereka ditekan.

Meski kebijakan tersebut telah berakhir secara resmi, kerugian sistemik masih berlanjut. Ada ketidakpuasan yang berkembang di kalangan Orang Aborigin dan Penduduk Selat Torres, yang merasa pemerintah secara sistematis mengabaikan mereka.

“Sepanjang hidup, kami hidup dengan janji dan kebohongan. Kami tahu apa yang mereka lakukan. Saya tahu apa yang mereka lakukan. Dan saya tidak suka dengan mereka,” kata Bronwyn Nawland, seorang perempuan Aborigin dari Kalgoorlie di Australia Barat.

Ketika remaja ini mengalami kecelakaan parah ditabrak mobil pada 2016, pengemudi kendaraan hanya dikenai pasal mengemudi secara sembrono dan tidak terbukti melakukan pembunuhan.

Bronwyn Nawland merasa keadilan tidak ditegakkan. Dia menjelaskan kejadian seperti ini membuat ketidakpercayaan terhadap pemerintah makin meningkat.

“Kejadian di Kalgoorlie dan banyak isu lain di sana tidak bisa dipecahkan secara tergesa-gesa. Mereka tidak akan memecahkan masalah-masalah itu. Kami yang harus memecahkan masalah sendiri. Jadi mari kita selesaikan masalah kita sendiri,” tegas Bronwyn.



Herbert Bropho adalah seorang pria Aborigin dari Australia Barat dan paman dari Clinton Pryor. 

Dia mengatakan Jalan Kaki Untuk Keadilan ini telah membuat masyarakat Aborigin lebih terlihat. Dan sekarang dia ingin mereka juga lebih didengarkan. “Mungkin akan berdampak besar bila pemerintah bersikap dan mendengarkan masalah orang-orang Aborigin.”

Jalan Kaki Untuk Keadilan yang dilakukan Clinton Pryor dilakukan saat terjadi perubahan dalam isu Aborigin.

Pryor menegaskan kesepakatan antara pemerintah Australia dan Masyarakat Adat harus menjadi prioritas utama agenda politik. “Kami lebih mendukung sebuah perjanjian yang memungkinkan kami bisa mengatur diri sendiri dan mengurus rakyat kami sendiri.”

September lalu, Clinton Pryor bertemu dengan Perdana Menteri, Malcolm Turnbull dan Pemimpin Oposisi, Bill Shorten.

Tujuan pertemuan ini kata dia untuk mengangkat isu-isu yang  dihadapi masyarakat Aborigin dan mendorong negosiasi adanya perjanjian.

Tapi setelah berjalan hampir enam ribu kilometer dalam 12 bulan, dia masih merasa suara penduduk asli tidak didengarkan.

“Masa lalu harus diajarkan di sekolah dan universitas sehingga kita tidak membuat kesalahan yang sama dengan apa yang terjadi di masa lalu. Kita belajar dari situ sehingga bisa membangun masa depan yang lebih baik untuk diri sendiri. Dan juga mendidik orang-orang bukan penduduk asli,” kata Clinton.

Ini bukan akhir dari perjalanan. Clinton Pryor mengatakan dia akan terus menyuarakan masalah dan suara orang Aborigin agar bisa didengar.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Pemerintah Godok Opsi Format Pencantuman Agama Kepercayaan Di KTP

  • PLN Siap Jalani Putusan MK Soal Aturan Nikah Teman Sekantor
  • Polisi Banyuwangi Perketat Keamanan Objek Vital
  • Statistik Opta: Rooney Masih Garang Cetak Peluang Menjadi Gol

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi