Sungai Gangga Terancam Menyusut

Menurut laporan terbaru PBB, Gletser Himalaya yang mengalirkan airnya ke sungai itu bisa lenyap pada 2030.

Senin, 31 Okt 2016 11:17 WIB

Sungai Gangga India (Foto: Jasvinder Sehgal)

Sungai Gangga India (Foto: Jasvinder Sehgal)

 

Di India, Sungai Gangga tidak hanya sekedar sungai.

Ini adalah tempat yang punya nilai spiritual yang mendalam, dipuja sebagai dewi dan dianggap sebagai ibu yang suci.

Tapi Gangga tengah terancam.

Menurut laporan terbaru PBB, Gletser Himalaya yang mengalirkan airnya ke sungai itu bisa lenyap pada 2030.

Koresponden Asia Calling KBR, Jasvinder Sehgal, menyusuri tepi Sungai Gangga di kota utara Rishikesh untuk mengetahui lebih jauh.

Matahari hampir terbenam. Ratusan orang tengah berkumpul di tepi Sungai Gangga.

Sebagian besar mengenakan pakaian berwarna jingga dan duduk mengitari tumpukan kayu bakar. Mereka menyanyikan himne untuk memuji dewi sungai.

Bau dupa cendana tercium pekat.

Tapi ritual doa yang dilakukan di tepi sungai ini mungkin tidak bisa berlangsung selamanya atau bisa dilakukan generasi berikutnya.


Swami Chidanand Saraswati yang memimpin doa mengatakan India wajib melindungi sungai suci ini.

“Bagi saya jika Gangga mati, India juga mati. Jika Gangga tumbuh subur, India tumbuh subur. Kehilangan gletser berarti kehilangan kehidupan. Air adalah kehidupan, air adalah berkat. Itulah mengapa tugas utama kita adalah untuk menyelamatkan gletser,” tutur Swami.

Sungai Gangga telah lama mengalir deras dan kuat. Tapi para peneliti mengatakan perubahan iklim berdampak serius pada sungai suci ini.

Suhu yang meningkat menyebabkan gletser, yang mengalirkan airnya ke sungai, mencair dengan kecepatan yang cepat, jelas Profesor geografi BG Sharma.

“Di daerah ini, suhu naik sebesar 0,9 derajat. Karena suhu naik, gletser mencair dengan cepat. Dengan kecepatan ini, ada kemungkinan pada tahun 2030 gletser ini akan hilang.”

Profesor Sharma telah mempelajari gletser di pegunungan Himalaya selama enam belas tahun.

Secara global, Himalaya merupakan daerah yang signifikan untuk gletser.

“Ada 46 ribu gletser di wilayah Himalaya dan ada 614 gletser yang mengalir ke Sungai Gangga. Tapi dari jumlah itu lebih dari 400 gletser mencair dengan kecepatan yang sangat tinggi,” jelas Sharma.

Profesor Sharma mengatakan gletser menyusut sebesar 23 meter setiap tahun.

 

 

Kembali ke acara doa di pinggir sungai, saya bertemu jurnalis senior Mahesh Sharma.

Dia menulis sebuah buku tentang sejarah Himalaya dan perjalanan ke gletser setiap tahun.

Dalam tiga dekade terakhir, dia telah melihat perubahan radikal terhadap gletser-gletser itu.

“Tahun 1983, saya pergi ke Gletser Gomukh untuk pertama kalinya. Ini adalah gletser yang merupakan sumber air Sungai Gangga. Tahun ini ketika saya kembali ke sana, saya melihat perubahan radikal. Gletser itu telah rusak dan berkurang 1,5 kilometer. Karena Himalaya punya jumlah gletser terbanyak di dunia, pemanasan global akan mempengaruhi seluruh dunia,” kata Mahesh.

Ada banyak gletser di wilayah Himalaya. Salah satunya disebut Gangotri yang menyediakan 70 persen air Sungai Gangga selama bulan-bulan musim panas yang kering.

Gletser ini menyusut 36 meter per tahun, hampir dua kali lebih cepat ketimbang 20 tahun yang lalu.

Chote Lal Chaurasia, 68 tahun, membuka toko reparasi sepatu di tepi Sungai Gangga selama 45 tahun terakhir. Dia juga melihat perubahan sungai itu.

“Empat bulan lalu, permukaan Sungai Gangga tiba-tiba turun. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya melihat orang-orang bisa menyebrangi Sungai Gangga dengan berjalan kaki. Airnya tidak sampai ke pinggang,” kisah Chote.


Sungai Gangga yang mengalir sejauh lebih dari 2500 kilometer menyediakan air untuk minum dan pertanian bagi lebih dari 500 juta jiwa.

World Wildlife Fund memasukkan Sungai Gangga sebagai sungai paling terancam punah di dunia. Dan warga Rishikesh sangat khawatir dengan nasib sungai itu.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berbincang dengan supir taksi bernama Bharose Nand Kukreti.

Bharose, 48 tahun, bercerita saat dia masih kanak-kanak, ada air terjun besar yang mengalir ke sungai. Dia biasa bermain di sana. Sekarang, katanya, hanya ada aliran kecil dan sungai yang tercemar.

Seperti lirik lagu dari sebuah film India, ‘Dewa, Sungai Gangga-mu menyusut dan kotor karena terus menerus mencuci dosa orang-orang.’

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau