Setelah 40 Tahun, Tragedi Pembantaian Mahasiswa Thailand Masih Gelap

Hampir tidak ada catatan resmi soal peristiwa itu dan keluarga korban tetap bungkam karena takut.

Senin, 31 Okt 2016 11:10 WIB

Penangkapan mahasiswa Thailand pasca tewasnya 46 mahasiswa pada 6 Oktober 1976 di Universitas Thamma

Penangkapan mahasiswa Thailand pasca tewasnya 46 mahasiswa pada 6 Oktober 1976 di Universitas Thammasat. (Foto: www.2519.net)

Bulan Oktober 40 tahun yang lalu, para pelajar di Thailand dipukuli, ditembak, diperkosa dan dibunuh di Universitas Thammasat Bangkok. 

Anda mungkin telah melihat sebuah foto hitam putih terkenal yang ada di kampus itu. Foto itu berlatar belakang lapangan sepak bola universitas dan ada kerumunan orang di sekitar situ.

Adegan itu juga disiarkan di TV secara nasional.

Puluhan dekade berlalu, belum ada pelaku yang divonis. Bahkan hampir tidak ada catatan resmi soal peristiwa itu dan keluarga korban tetap bungkam karena takut.

Kannikar Petchkaew mencari tahu lebih jauh soal peristiwa yang masih gelap dalam sejarah Thailand ini.

Acara peringatan 40 tahun pembantaian mahasiswa diakhiri dengan lagu ini.

Lagu itu dibuat seorang tahanan politik di penjara. Liriknya mengatakan ‘melewati hari-hari gelap dan badai berat, orang akan bertahan. Dengan bintang-bintang yang besinar cerah di atas sana, hati dan jiwa mereka akan diringankan.’

Peringatan ini diadakan di Universitas Thammasat, tempat pembantaian terjadi tahun 1976.

Setidaknya 46 mahasiswa ditembak, dipukuli sampai mati atau digantung di pohon setelah mereka berunjuk rasa menentang kembalinya seorang penguasa militer dari pengasingan.

Militer dan pendukung raja menuduh para mahasiswa itu sebagai komunis dan melawan monarki.

Militer dan disusul pasukan paramiliter lalu mengepung kampus dan memulai baku tembak.

Derek Williams adalahseorang jurnalis foto muda yang pada saat itu baru saja tiba di Thailand, yang juga dikenal sebagai 'tanah senyuman’. Dia meliput tragedi di universitas itu bersama seorang temannya.

“Saat kami duduk diam di dalam mobil, dia mengatakan ini akhir dari tanah senyuman bagi saya,” kisah Derek. 

Dan Neal Ulevich adalah jurnalis foto yang mengambil foto ikonik tersebut.

“Saya tidak melihat ada yang memperhatikan saya, semua orang terpaku pada seorang pria dengan kursi lipat yang memukuli kepala mayat. Jadi saya mengambil beberapa foto. Saya kemungkinan sadar kalau kerumunan bisa berbalik pada saya, maka saya pergi untuk memotret pohon-pohon lalu menyetop taksi,” tutur Neil.

Foto itu mengejutkan warga dunia. Tapi di sini di Thailand, hari itu seolah-olah tidak pernah terjadi.

Negara tidak pernah menyatakan permintaan maaf dan tidak ada pejabat yang dimintai pertanggungjawaban atas kematian para korban. Masyarakat juga terkesan tutup mata.

Thongchai Winichakul adalah pemimpin mahasiswa pada 1976. “Penting diingat kalau 6 Oktober bukanlah kasus kejahatan serius pertama dan para pelakunya mendapat impunitas.”  

Tahun itu juga Thongchai meninggalkan Thailand dan kini menjadi profesor di Amerika Serikat.

“Dari apa yang kami lihat, tanggal 6 Oktober merupakan kebalikan dari nilai-nilai yang dianut orang Thailand. Kebrutalan adalah dehumanisasi ekstrim dan setelah 40 tahun keheningan dan kesunyian parsial masih berlangsung,” kata Thongchai. 

“Ini memberitahu kita tentang masyarakat Thailand. Bagaimana berurusan dengan kekejaman dan ketidakadilan.”

Tapi yang lain berpendapat ini lebih rumit.

“Mengapa kami tetap diam dan bungkam sampai saat ini? Itu karena kami tidak bisa bicara , tidak bisa mengungkap kebenaran. Itulah yang terjadi,” ungkap Anjana Suvarnananda, yang saat tragedi itu terjadi masih mahasiswa.

“Selama bertahun-tahun setelah itu, kami hidup dan tumbuh besar dalam kegelapan. Satu-satunya cara yang aman agar bisa hidup adalah dengan tetap diam dan menghindari masalah.”

Tindakan keras itu mengakhiri hubungan singkat tiga tahun dengan demokrasi dan mengantar rakyat berada di bawah kekuasaan militer selama 16 tahun berikutnya.

Dan pembantaian itu tidak pernah disebutkan dalam sejarah modern Thailand.

“Dan bagaimana dengan orang-orang setelah generasi saya? Yang tidak diizinkan untuk mengetahui apa yang terjadi pada hari itu? Yang tidak menemukan soal ini di buku sejarah mereka. Jadi bagaimana mereka bisa tahu?” tanya Anjana.

Ketidaktahuan ini kemudia membuat beberapa pihak berupaya mencarinya dari arsip, untuk mengidentifikasi bukti dan saksi. Ini untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun.

Rincian kunci tentang apa yang terjadi hari itu masih belum diketahui, kata Thongchai. “Ada lima orang digantung. Tidak satu, bukan dua, tapi lima. Dua dari mereka belum kita ketahui identitasnya.”

Thailand sekali lagi berada di bawah kekuasaan militer. Kudeta terakhir terjadi pada 2014, empat tahun setelah tentara kembali menembaki demonstran pro-demokrasi di jalan-jalan Bangkok.

Rakyat di seluruh negeri sangat berhati-hati dengan apa yang mereka katakan. 

“Kami sudah menghubungi puluhan kerabat korban. Sejauh ini hanya dua yang mau tampil, sisanya tidak mau. Mereka tidak ingin masyarakat tahu tentang mereka. Karena mereka tahu peristiwa 6 Oktober terlalu sensitif,” kata Thongchai.

Asia Calling juga mendapatkan respon yang sama ketika bertanya soal peristiwa 6 Oktober 1976. Banyak permintaan untuk wawancara dengan keluarga korban ditolak.

Para penyintas juga tidak berpikir untuk meminta keadilan.

Mereka hanya ingin melihat para korban diakui, nama mereka diketahui masyakat umum, setelah bertahun-tahun. Nama-nama korban yang tidak pernah didengar Thailand.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR