Penduduk Desa Korea Selatan Protes Pangkalan Misil Baru AS

Beberapa warga desa juga mengklaim para pemimpin mereka menyembunyikan informasi soal resiko kesehatan yang ditimbulkan senjata-senjata ini.

Senin, 31 Okt 2016 10:59 WIB

Penduduk desa di Seongju memprotes menempatan sistem misil Amerika Serikat yang baru di daerah merek

Penduduk desa di Seongju memprotes menempatan sistem misil Amerika Serikat yang baru di daerah mereka. (Foto: Jason Strother)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Ratusan warga sebuah desa di Korea Selatan khawatir komunitas mereka akan menjadi target militer.

Diperkirakan tahun depan, militer Amerika Serikat akan menempatkan sistem perisai misil di area itu. Tujuannya untuk melindungi diri dari serangan Korea Utara. 

Beberapa warga desa juga mengklaim para pemimpin mereka menyembunyikan informasi soal resiko kesehatan yang ditimbulkan senjata-senjata ini. 

Sengketa ini menyoroti ketegangan lama antara militer Korea Selatan dan Amerika Serikat yang menempatkan 30an ribu pasukannya di negara ini. 

Koresponden Jason Strother belum lama ini berjumpa dengan penduduk desa yang terletak di daerah Seongjiu, 220 kilometer selatan Seoul.

Kim Won-myung memandu saya menuju sebuah ruang meditasi kecil. Biksu Buddha itu lalu menghidupkan lilin dan dupa lalu membungkuk di depan kuil.

Kuil kecil dan beratap genteng ini dikelililingi tanah pertanian. Letaknya sekitar satu kilometer dari sebuah lapangan golf yang nantinya akan diubah menjadi pangkalan misil Amerika Serikat yang baru. 

Dia mengatakan ini bukan tempat yang tepat untuk berperang.

“Jika misil ini dipasang, kami akan semakin dekat dengan perang padahal kami ingin suasana damai. Ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah antara Korea Utara dan Korea Selatan, seperti lewat dialog. Kami hanya tidak ingin misil ini ada di tengah masyarakat kami," kata Kim.

Sistem misil itu disebut Pangkalan Pertahanan Daerah Ketinggian atau THAAD. 

Di sepanjang jalan menuju lapangan golf ada spanduk-spanduk merah yang bertuliskan 'TOLAK THAAD' dan "Kirim kembali misil ke Amerika'. 


Balai pertemuan warga menjadi markas gerakan anti-THAAD warga lokal.

Lee Jeong-hee, petani melon berusia 59 tahun, sedang bersiap untuk memimpin aksi protes hari itu. 

Dia mengatakan masalah keamanan adalah salah satu alasan dia dan penduduk desa lainnya, menolak ada misil di tanah mereka Tapi Lee mengatakan THAAD mungkin lebih berbahaya dari yang disampaikan pemerintah.

“Pemerintah Korea Selatan dan Amerika tidak memberikan informasi yang jujur soal sistem misil ini. Mereka tidak mengatakan pada kami seberapa berbahaya gelombang elektromagnetik radar itu terhadap kesehatan masyarakat,” keluh Lee. 

Militer Korea Selatan dan Amerika mengatakan THAAD tidak memancarkan level gelombang elektromagnetik yang berbahaya. Tapi sebagian besar warga daerah ini yang saya tanyai yakin, mereka akan mengalami dampak dari meningkatnya level radiasi dari baterai misil.

Secara nasional, jajak pendapat menunjukkan sebagian besar warga Korea Selatan menerima penempatan itu, meski sulit untuk melihatnya di daerah ini.

Tapi seorang supir taksi yang saya temui tidak percaya dengan teori radiasi ini. Namanya Shin Sang-won dan berusia 58 tahun. 

Dia mengatakan THAAD adalah isu yang bisa memecah belah di sini. Menurutnya sejak pemerintah Korea Selatan memilih daerah itu sebagai lokasi sistem misil bulan lalu, berbagai arumen terus bermunculan.

Jadi dia mencoba untuk menghindari topik itu saat berbincang dengan para penumpang.

"Saya hanya supir dan saya tidak mau ada masalah. Saya hanya bicara soal ini kalau penumpang yang memulainya. Kalau mereka bertanya, saya akan bilang mendukung THAAD tapi saya tidak akan berdebat dengan mereka. Tapi saya pernah membawa pasangan yang berdebat di dalam taksi saya soal misil ini,” cerita Shin. 

Beberapa warga Seongju dan kota tetangga, Gimcheon, mencukur rambut mereka sebagai bentuk protes terhadap proyek misil itu. Bahkan walikota melakukan aksi mogok makan.  

Rencana unjuk rasa juga makin banyak untuk dilakukan di sini dan di Seoul.

Manager supermarket bernama Kim Hee-soo, 45 tahun, ikut bergabung dengan aksi unjuk rasa. Dia merasa kemarahan warga setempat makin meningkat. 

“Sejauh ini aksi protes berjalan damai. Tapi jika misil itu benar-benar dibawa kemari, saya kira masyarakat akan makin agresif. Saya tidak ingin orang-orang Amerika ini ada di sekitar kota kami,” kata Kim.

Meski begitu, ibu dua anak ini mengaku dia tidak punya masalah dengan militer Amerika. Dia hanya tidak ingin ada lebih banyak senjata di sini.

Penempatan THAAD ke Korea Selatan bisa menyalakan kembali kemarahan lama terhadap pasukan Amerika, kata Geoffrey Cain. Dia adalah penulis buku tentang sejarah pangkalan Amerika di negara ini.

Dia mengatakan selama 70 tahun pasukan Amerika berada di sini, aksi unjuk rasa besar-besaran menentang kehadiran mereka meletus beberapa kali.

“Penduduk lokal selalu khawatir dengan prostitusi, kerusakan lingkungan, dan masalah lainnya. Mereka juga khawatir dengan dugaan soal perlakuan yang berbeda terhadap pasukan Amerika di bawah hukum Korea. Kekhawatiran makin sering muncul dan jadi gerakan sipil,” jelas Cain.

Cain mengatakan saat pemilu presiden Korea Selatan tahun depan, misi THAAD bisa menjadi bahan kampanye.

Kembali ke balai warga Seongju. Sekitar 100 orang duduk di kursi-kursi plastik sedang mendengarkan pemimpin unjuk rasa Lee Jeong-hee berbicara.

Sebelum unjuk rasa dimulai, dia mengatakan jika rencana penempatan THAAD tetap dilanjutkan, itu artinya perang.

“Jika misil-misil itu dibawa kemari, kami akan memblokir jalan menuju pangkalan,” tekad Lee.

Lee menambahkan jika terjadi perseteruan antara pengunjuk rasa dan pemerintah, Amerika Serikatlah yang harus disalahkan.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Periksa Saksi Meringankan Setnov Pekan Depan

  • Polda Metro Rilis 2 Sketsa Terduga Penyerang Novel
  • Polda Papua Akui Ada Perintah Tembak di Tempat di Tembagapura
  • Pemprov Akan Pelajari Investigasi Ombudsman

Program diharapkan dapat mendukung ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan lahan di daerah masing-masing