Ranra Gul . (Foto: Mudassar Shah)

Ranra Gul . (Foto: Mudassar Shah)

Sebuah serangan bunuh diri di daerah kesukuan Pakistan menewaskan 36 orang bulan lalu.

Jamaat-ul-Ahrar, kelompok sempalan dari Taliban Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan di Masjid saat shalat Jumat itu.

Koresponden Asia Calling KBR, Mudassar Shah, belum lama ini mengunjungi daerah itu. Dia menemukan meski masyarakat berkabung tapi mereka juga tidak takut menghadapi teror.

Israr Khan, 12 tahun, berjalan cepat menuju Masjid untuk shalat Jumat. Anak-anak di Desa Paye Khan tidak selalu ikut shalat Jumat. Tapi sejak ledakan bom bulan lalu, Israr pergi ke Masjid setiap pekan.

“Ibu meminta saya mandi sebelum shalat Jumat dan memberi saya pakaian baru. Ibu bilang saya harus berani dan tidak takut dengan militan. Dia juga membacakan ayat Al Quran untuk melindungi saya,” tutur Israr. 

Dua saudara lelaki Israr dan empat sepupunya tewas dalam serangan itu.

Israr tidak bersekolah karena harus membantunya ayahnya di ladang, menanam dan memanen sayur-sayuran.

Tapi di hari Jumat dia libur dan Israr mengatakan kini dia harus ke Masjid untuk menunjukkan kalau dia tidak takut.

“Kami tahu kalau militan mau membuat kami takut. Jadi saya pergi ke Masjid yang sama untuk menantang mereka,” kata Israr. 

Israr tiba di Masjid tepat sebelum shalat Jumat dimulai dan bergabung dengan barisan para pria.

Haji Gul Pur, 53 tahun, juga ada di Masjid. Dia ada di sini saat pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di luar Masjid beberapa pekan lalu.

Saat dia bercerita soal apa yang terjadi, beberapa pria berkumpul di dekatnya ikut mendengarkan.

“Saya dengar dia bilang ‘Allahu Akbar’ diikuti bunyi ledakan keras. Debu dimana-mana. Saya melihat mayat-mayat bergelimpangan di sekitar saya saat saya keluar menuju beranda. Setelah itu baru saya tahu kalau pelaku bom bunuh diri sempat dihentikan dua pria agar tidak masuk ke Masjid, dan ini mengurangi jumlah korban tewas,” kisah Gul.


Empat keponakan Gul ikut tewas dalam kejadian itu. Tapi Gul mengatakan komunitasnya tidak akan menyerah menghadapi teror.

“Kami menentang teroris, kami akan melawan mereka semua dan akan menjaga keamanan daerah ini. Bahkan kaum perempuan juga akan melawan teroris jika semua pria sudah dibunuh teroris. Kami tidak akan menyerah pada teroris. Kami tidak akan membiarkan mereka menguasai tanah kami,” tekad Gul.

Taliban dan kelompok ekstremis lain punya hubungan dengan Negara Islam atau IS yang beroperasi di daerah-daerah kesukuan, daerah utara Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan.

Militer Pakistan berupaya membasmi militansi di daerah itu dan langkah mereka dianggap cukup berhasil. Meski begitu serangan masih saja terjadi.

Warga di desa Paye Khan telah kembali ke rutinitas sehari-hari mereka, meski banyak yang masih berduka.

Ranra Khan, seorang petani berusia 48 tahun, mengatakan teroris ingin menghancurkan masa depan mereka.

“Sebagian besar dari 36 korban tewas berusia di bawah 19 tahun. Kecuali ada satu orang yang berumur 65 tahun. Teroris membunuh anak-anak kami untuk menghancurkan masa depan kami. Teroris itu sangat kejam,” ungkap Ranra.

Malak Sawab Khan adalah tetua desa. Dia mengaku diancam akan dibunuh oleh militan.

“Pesan kami untuk teroris cukup jelas dan keras, kami tidak akan pernah menyerah kepada mereka! Kami bersatu dan saling mendukung melawan teroris,” kata Malak.

Menurut militer Pakistan, jumlah serangan teroris di negara itu telah menurun dari 128 kasus di tahun 2013 menjadi 74 kasus tahun lalu.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!