Pusat bisnis Hong Kong. (Foto: Kwoka Wingo Chungi)

Pusat bisnis Hong Kong. (Foto: Kwoka Wingo Chungi)

Hong Kong kembali menjadi berita utama setelah pemilu baru-baru ini menunjukkan perpecahan politik di kota ini.

Situasi politik ini juga berimbas pada bisnis dan merusak peran tradisional kota itu sebagai ibu kota bisnis dan pintu masuk ke Tiongkok.

Selain itu, Hong Kong kehilangan posisi sebagai tujuan belanja favorit warga Tiongkok daratan. Ini adalah imbas dari aksi protes terhadap campur tangan daratan terhadap Hong Kong dan kuatnya nilai tukar dolar Hong Kong.

Mark Godfrey berbicara dengan beberapa pelaku usaha di kota itu untuk mencari tahu nasib ekonomi Hong Kong.

Suasana meriah mewarnai pembukaan pameran tahunan makanan dan minuman berkualitas di sebuah convention centre di Hong Kong. Di sini, para pengunjung bisa menikmati anggur berkualitas dan seni menghias makanan sambil dihibur pertunjukan Barongsai.

Stuart Bailey, penyelenggara acara, mengatakan keadaan ekonomi Hong Kong saat ini berdampak pada sektor perhotelan.

“Dua belas bulan ini kondisinya buruk. Tapi kita melihat tumbuhnya optimisme. Data pemerintah soal penerimaan restoran untuk kuartal kedua 2016 menunjukkan kenaikan. Itu berarti jumlah uang juga naik. Meski belum maksimal tapi setidaknya mulai naik,” kata Bailey.

Kondisi pedagang ritel di kota itu lebih sulit lagi, kata Bailey, karena wisatawan dari daratan Tiongkok pergi ke tempat lain untuk berbelanja.

“Orang-orang yang datang untuk membeli jam tangan, sepatu dan tas di Hong Kong turun 12,5 persen. Memang warga Tiongkok membelanjakan uangnya di Hong Kong di bidang ritel bukan makanan dan minuman,” tutur Bailey.

“Mereka adalah orang yang sangat cerdas dan memahami nilai tukar uang serta tahu di mana mereka akan dapat keuntungan lebih. Ketika yen di Jepang turun, mereka akan ke Jepang atau ke Thailand kalau biayanya lebih murah.”

Salah satu peserta pameran makanan dan minuman ini adalah Chris Hanselman. Dia puluhan tahun tinggal di Hong Kong dan memasok makanan laut impor ke maskapai penerbangan dan restoran di sana.

“Penjualan saya ke maskapai penerbangan tetap stabil. Saya pikir pasar domestik sudah stabil. Yang membuat Hong Kong menderita adalah berkurangnya orang Tiongkok yang kemari. Penyebabnya karena uang makin sulit didapat dan mereka lebih spesifik dengan apa yang mau dibeli,” kata Chris.

Di kawasan keuangan kota itu, Alicia Herrero dari bank investasi Perancis Natixis menjelaskan bagaimana nasib ekonomi Hong Kong berkaitan erat dengan nasib dolar Amerika Serikat dan tingkat bunga.

Hubungan Hong Kong terhadap dolar menentukan suku bunga lokal.

“Ketakutan kalau wisatawan Tiongkok tidak lagi datang ke Hong Kong adalah berlebihan. Meskipun benar jumlahnya turun. Alasan lain sikap negatif terhadap Hong Kong adalah karena biaya di Hong Kong sangat mahal karena harga dolar mahal. Ini menurunkan daya saing Hong Kong,” jelas Herrero .

Herrero menjelaskan bagaimana Hong Kong menarik investasi karena suku bunga rendah dibandingkan negara utama lain seperti Uni Eropa.

“Tarif negatif di Eropa dan Jepang mendorong uang ke Hong Kong. Kami mulai melihat pembalikan pasar perumahan yang terus bergerak naik dan harganya makin mahal. Tidak ada tempat lain. Sementara masyarakat lebih suka properti di lingkungan tarif yang sangat rendah. Dan itu adalah Hong Kong,” tambah Herrero. 

Para konsumen dari Tiongkok mungkin saja bisa menjauh, tapi Hong Kong terlihat seperti baru keluar dari badai ekonomi.

“Ada tujuh juta orang yang punya banyak uang untuk dibelanjakan. Anda hanya perlu melihat real estate di mana ada ribuan orang mengantri untuk membeli rumah karena mereka berpikir harga akan naik. Mereka punya uang tapi pertanyaanya adalah seberapa percaya mereka. Hang Seng berjalan buruk setahun lalu tapi dalam tiga bulan terakhir sudah ada tren,” kata Bailey.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!