LSM di India mengajak masyarakat menunjukkan solidaritas pada para tunawisma dengan menghabiskan mal

LSM di India mengajak masyarakat menunjukkan solidaritas pada para tunawisma dengan menghabiskan malam di jalanan. (Foto: Bismillah Geelani)

Pekan lalu dunia merayakan Hari Tunawisma, yang dimasudkan untuk meningkatkan perhatian masyarakat pada masalah tunawisma secara global.

Tahun ini sebuah kelompok di New Delhi melakukan pendekatan yang tidak biasa untuk melakukannya. 

Mereka meminta orang-orang menunjukkan solidaritas pada para tunawisma dengan menghabiskan malam di jalanan. Dan ternyata ajakan ini mendapatkan tanggapan positif.

Koresponden Asia Calling KBR, Bismillah Geelani, menyusun laporannya untuk Anda.

Saat ini sekitar jam 1 malam dan ada lebih dari seratus orang berada di trotoar di sepanjang jalan Bahadur Shah Zafar di New Delhi.

Menggunakan karung plastik kosong sebagai alas, beberapa dari mereka tampak tertidur sementara yang lain terlibat diskusi hangat.

Acara yang tidak biasa ini diberi nama, ‘Feel the Footpath’ atau ‘Merasakan Trotoar’. Acara ini digagas Marham, sebuah LSM pendamping tunawisma.

Irtiza Qureishi, 30 tahun, adalah pendiri kelompok itu.

“Kami mengundang warga dari penjuru Delhi untuk menghabiskan satu malam di trotoar dan merasakan apa yang dirasakan para tunawisma. Bagaimana rasanya tidur di jalanan dengan nyamuk dan serangga di sekitar kita, rasa takut kalau-kalau ditabrak mobil atau truk, atau tidur beratapkan langit,” jelas Qureishi.

Menurut sensus 2011, ada sekitar 1,7 juta tunawismadi India. Jumlah ini kurang dari satu persen dari total penduduk negara itu.

Tapi aktivis sosial seperti Induprakash Singh mengatakan angka ini sangat tidak bisa diandalkan dan menyesatkan.

”Angka sensus itu adalah penipuan terbesar di negara ini. Kami melihat ratusan ribu tunawisma tidak dihitung, baik pada sensus 2001 ataupun 2011, padahal kami berada di sana sebagai relawan. Angka sebenarnya lima kali lebih besar dari itu; jika Anda melakukan penghitungan yang tepat setidaknya ada 10 juta tunawisma,” tutur Induprakash.

Kelompok Induprakash, Action Aid, adalah organisasi pertama yang melakukan survei soal kondisi hidup para tunawisma beberapa tahun yang lalu. 

Hasinya, kata Induprakash, sangat memprihatinkan.

“Kami melihat polisi memukuli para tunawisma di jalanan, baik perempuan, anak, orang cacat mental atau sakit. Ini masalah terbesar. Kedua adalah penyakit. Bagaimana mereka bisa tertular penyakit, kami melihat mayat di jalanan,” papar Induprakash.

“Selain itu juga soal makanan, karena banyak dari mereka sering tidak punya makanan dan air, serta akses ke fasilitas sanitasi. Juga soal keamanan diri dan barang-barang yang mereka miliki.”

Tapi keadaan mereka tetap tidak berubah setelah bertahun-tahun.

Jadi kelompok-kelompok seperti Marham berupaya membantu agar masyarakat peduli dengan kesulitan yang dihadapi tunawisma. Kelompok ini juga telah merehabilitasi belasan tunawisma.

”Kami memilih 11 tunawisma dewasa dari jalanan. Kami memberi mereka tempat tinggal, makanan, pakaian dan semua yang mereka butuhkan. Hanya dalam satu tahun,mereka sudah bisa hidup dengan baik,” kata Qureishi.

Marham juga menawarkan pelatihan kepada mereka, kata Qureishi.

“Setengah dari mereka ikut pelatihan jadi tukang pipa dan yang lainnya jadi tukang listrik. Kedua keahlian ini sangat dibutuhkan dan tak lama setelah pelatihan, mereka dapat pekerjaan.” 

Di antara mereka yang ikut kegiatan ‘Merasakan Trotoar’, ada yang mengaku mendapat manfaat dari kegiatan yang diadakan LSM Marham ini.

Orang-orang meneteskan air mata saat para bekas tunawisma menceritakan kembali kisah hidup mereka.

Mendengarkan cerita mereka, Wakil Gubernur Delhi Manish Sisodia menyesalkan apa yang disebutnya sebagai urusan negara yang mengejutkan.

“Ini adalah sesuatu yang harus kita atasi bersama. Jika kita menunggu pemerintah, mereka punya rencana bagus tapi hanya di atas kertas.  Jadi ini sesuatu yang masyarakat bisa lakukan dengan lebih baik tapi tentu saja pemerintah perlu membantu dan kami wajib melakukannya,” kata Sisodia.

Marham juga meluncurkan kampanye bertajuk “Each Blessed Adopt a Homeless”.  atau “Setiap Orang Mampu Mengadopsi Seorang Tunawisma”.

Di bawah inisiatif ini, orang-orang dari kelas ekonomi yang mapan didorong untuk menanggung biaya hidup minimal satu orang tunawisma dan membantu mereka memperoleh beberapa keterampilan sehingga mereka bisa memulai hidup baru.

Saat ini ada sekitar 200 ribu tunawisma di New Delhi dan Qureishi mengatakan kasih sayang kecil yang diberikan bisa berdampak besar.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!