Ameeran Bibi, 60 tahun, memegang layang-layang dengan gambar cucu perempuannya bernama Rafia yang hi

Ameeran Bibi, 60 tahun, memegang layang-layang dengan gambar cucu perempuannya bernama Rafia yang hilang pada September 2014. (Foto: Naeem Sahoutara)

Meningkat tajamnya angka penculikan anak sangat mengkhawatirkan orangtua di Pakistan.

Juli tahun ini, ada 680 kasus penculikan anak di kota Karachi saja.

Sistem hukum cacat yang menguntungkan kejahatan terorganisir merupakan salah satu tantangan utama dalam memecahkan masalah ini kata para aktivis.

Kita simak laporan koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, berikut ini.

Ini Minggu pagi yang cerah di Karachi dan Pavilion End Club dipadati para keluarga.

Diiringi lantunan lagu tentang anak yang hilang, beberapa keluarga bersama anak-anak mereka memegang layang-layang bergambar foto anak-anak mereka.

Asghar Wahid salah satunya.

Insinyur komputer berusia 25 tahun ini tidak pernah menerbangkan layang-layang sebelumnya. Tapi hari ini dia melakukannya untuk mengenang keponakannya yang hilang, Rafia.

“Dia baru berusia dua tahun ketika diculik pada September 2014. Sudah dua tahun berlalu, sekarang seharusnya dia sudah berusia empat tahun,” kisah Asghar.

Rafia hilang sebelum ulang tahunnya yang ketiga. Dan setelahnya merupakan masa-masa yang sulit bagi keluarga kata Asghar.

“Ibu gadis itu mengalami gangguan psikologi. Kadang-kadang dia bangun tengah malam, meneriakan nama putrinya, lalu menangis dan melakukan hal-hal yang aneh. Orangtua Rafia sangat khawatir memikirkan apa yang mungkin terjadi padanya,” ungkap Asghar.

Rafia adalah satu dari ratusan anak yang hilang secara misterius di seluruh negeri setiap tahun.

Para korban berasal dari kelompok usia yang berbeda - mulai dari bayi baru lahir hingga remaja.

Hari ini, orangtua mereka menerbangkan ‘Layang-layang Harapan’. Mereka berharap suatu hari nanti bisa bersatu kembali dengan anak-anak mereka.

Putra Sabira Rashid yang berusia 14 tahun, namanya Adeel Rashid, hilang dua pekan lalu.

“Dia sarapan, ganti pakaian, membersihkan tangga seperti biasa dan meninggalkan rumah dengan tersenyum. Apa yang bisa saya katakan? Saya tidak tahu di mana putra saya dan bagaimana kondisinya,” kata Sabira.

Pakistan ikut menandatangani Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak (CRC). Tapi kekerasan terhadap anak terus merajalela di negara itu.

Di kota Karachi saja, LSM, Roshi Helpline mencatat ada lebih dari dua ribu kasus penculikan anak dilaporkan pada 2015.

Muhammad Ali, direktur LSM itu mengatakan motif penculikan bervariasi.

“Jika Anda melihat kasus eksploitasi anak, masalah intinya adalah anak-anak yang hilang. Seseorang di bawah usia 18 tahun yang tidak berkontak dengan orangtuanya masuk dalam kategori hilang. Anak-anak itu bisa saja tenggelam, diculik, jadi korban kekerasan seksual atau perdagangan orang.”

Meski ada Undang-undang tentang pelecehan anak, Ali mengatakan banyak anak yang hilang berakhir sebagai pengemis atau dieksploitasi secara seksual.

“Jika anak di bawah usia sepuluh tahun dan seorang gadis, dari pengalaman kami ada kemungkinan dia diculik dan mengalami ekspolitasi seksual. Anak laki-laki juga sama atau disuruh mengemis. Identitas mereka diubah oleh mafia pengemis, yang beroperasi secara sistematis di seluruh negeri,” ungkap Ali.

Di Provinsi Punjab, hampir setiap hari media nasional melaporkan kasus penculikan anak di bawah umur. Jadi, saya berkunjung ke ibukota provinsi Lahore untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Di sana, saya bertemu ibu dua anak yang sedang panik bernama Syeda Fatima.

“Sepanjang hari sebelum anak saya pulang dari sekolah, saya selalu khawatir. Laporan-laporan yang menyebutkan kalau anak-anak yang diculik untuk diambil organ tubuhnya sangat mengkhawatirkan,” ungkap Syeda.

“Kami bahkan pergi ke sekolah untuk melihat keamanan mereka di sana. Karena ada penjaga bersenjata, ada rumor kalau anak-anak yang naik sepeda motor yang menjadi korban. Jadi kami mengantar anak-anak ke sekolah dengan kendaraan tertutup.”

Kelompok pegiat HAM mengatakan tingkat penculikan di Punjab bahkan lebih tinggi daripada di Karachi karena Punjab sangat padat dan lemahnya penegakan hukum.

Kenaikan tajam kasus penculikan anak ini menarik perhatian Mahkamah Agung Pakistan. 

Mereka menyerukan langkah-langkah keamanan ekstra untuk menjaga anak-anak tetap aman, seperti menyewa penjaga bersenjata di sekolah-sekolah di provinsi ini.

Tapi Waseem Abbas, juru bicara Biro Perlindungan Anak Punjab, mengatakan banyak laporan di media hanya dibuat-buat.

“Sekarang ada sekitar 17 kasus asli. Jadi tidak seperti di Lahore. Sebulan yang lalu, saluran berita dan koran dibanjiri laporan anak hilang tapi saat ini hanya ada satu koran seperti itu. Jadi isu ini sengaja diciptakan,” jelas Waseem.

Tapi kata-kata ini tidak bisa menenangkan ibu yang khawatir seperti Syeda Fatima. 

Saat ini Fatima mengatakan tidak lagi mengajak anak-anaknya ke taman karena takut mereka akan diculik.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!