15 orang pencari suaka yang dulu tinggal di kamar ini semuanya pergi. (Foto: Kannikar Petchkaew)

15 orang pencari suaka yang dulu tinggal di kamar ini semuanya pergi. (Foto: Kannikar Petchkaew)

Menurut badan PBB urusan pengungsi UNHCR, ada sekitar delapan ribu pencari suaka dari berbagai negara seperti Suriah, Somalia dan Pakistan tinggal di Bangkok dan di berbagai kota di Thailand. 

Banyak dari mereka merupakan pendatang gelap yang lari dari aksi kekerasan di negara asalnya.

Tidak diakui dan terlantar membuat pencari suaka menjadi sasaran empuk kekerasan dan penangkapan.

Dan sejak serangan bom di Kuil Erawan bulan lalu, pemerintah mengintensifkan razia terhadap mereka. Ini membuat hidup para pencari suaka makin tidak pasti dan menakutkan.

** Demi alasan keamanan, semua nama dalam kisah ini disamarkan.

Ketika Nadeem dan keluarganya bernyanyi bersama, mereka melakukannya dengan pelan.

Banyak warga Pakistan yang meninggalkan negaranya demi hidup yang lebih baik kata pencari suaka berusia 35 tahun ini. Tapi mereka tak selalu menemukannya.

Selama tiga tahun terakhir Nadeem tinggal terkatung-katung dan putus asa di Bangkok. “Kami menunggu UNHCR dan ini sudah berlangsung lama sekali. Tidak mudah hidup di sini. Kami tidak punya uang, makanan dan pekerjaan.”

Proses mencari suaka lewat UNHCR bisa berlangsung bertahun-tahun. Dan karena Thailand tidak ikut menandatangani Konvensi Pengungsi tahun 1951, pencari suaka tidak diakui secara resmi.

Nadeem bercerita dia lari dari Pakistan setelah rumahnya dibakar dan keluarganya diancam karena dia bekerja untuk sebuah organisasi Kristen.

Sekarang dia tinggal di Thailand bersama keluarganya. Tapi dia lebih banyak bersembunyi di sebuah rumah susun (rusun) di pinggiran Bangkok.

“Saya meminta warga Pakistan untuk tidak datang ke Thailand. Saya tahu ada banyak masalah di kampung halaman tapi Thailand bukan tempat untuk kami. Kami harus mencari tempat lain,” kata Nadeem.

Menurutnya pencari suaka adalah kelompok ilegal dan rentan menjadi sasaran kekerasan dan penangkapan.

Prakong Pongtech adalah relawan yang mendampingi para pencari suaka di Bangkok. Dia mengatakan sejak aksi bom di Kuil Erawan bulan lalu yang menewaskan 20 orang, pemerintah Thailand merazia imigran ilegal seperti Naeem dan keluarganya.

“300 orang ditangkap dalam satu hari. Sementara yang lain melarikan diri dan bersembunyi. Mereka saat ini sangat ketakutan” ungkap Prakong.

Prakong bercerita apa yang terjadi di hari Polisi Thailand menyergap bangunan rumah susun Nadeem, yang dihuni dua ribu pencari suaka asal Pakistan. 

Setelah pengeboman, polisi menyisir seluruh kota untuk mencari orang asing yang diduga pelaku. Di salah satu gedung, ratusan imigran ditangkap dan 70 diantaranya saat ini masih ditahan.

Pada hari penggerebekan polisi itu, kata Prakong, sekitar 500 pencari suaka lari ke rumah-rumah disekitar rusun untuk bersembunyi.

“Mereka lari dan bersembunyi di sebuah rumah yang kecil selama seminggu. Kami harus yakinkan mereka kalau kondisi sudah membaik dan mereka bisa kembali ke rumahnya,” kata Prakong.

Ketika junta militer berkuasa tahun lalu, mereka sudah mulai merazia komunitas imigran ilegal. Tapi setelah bom Erawan situasinya makin berbahaya bagi para pencari suaka.

Ini adalah Natika pemilik rumah susun saat penyergapan. Dia mengatakan kalau para imigran beberapa telah pergi. Setelah razia polisi itu, banyak imigran yang tinggal di sini melarikan diri dan tidak kembali.

Sekitar seribu pencari suaka asal Pakistan bertahan di bangunan ini. Tapi mereka tidak berani keluar karena takut akan keselamatannya. Beberapa bahkan mengunci pintunya dari luar supaya terlihat tidak ada orang di rumah.

Inilah kehidupan yang harus dijalani Ahmed, pencari suaka yang baru berumur delapan tahun.

Ahmed tinggal bersama lima saudaranya, orangtua dan kakek neneknya di di sebuah rusun yang kotor di pinggiran Bangkok. Menurutnya ukuran rumahnya saat ini sama dengan ukuran dapur mereka di Pakistan.

Keluarganya datang dari Pakistan dua tahun lalu  dan sejak itu Ahmed tidak bersekolah. Dia ingin pulang ke Pakistan tapi orangtuanya tidak mengizinkan. Mereka takut dia akan ditangkap.

Mereka bahkan tidak mengizinkan Ahmed keluar untuk menghirup udara segar. Hanya anak tertua mereka yang boleh naik ke atap. Menurut orangtuanya, Ahmed terlalu kecil bila harus lari dari polisi kalau mereka datang.

Ahmed mengaku tidak banyak yang bisa diingatnya dari Pakistan. Tapi dia ingat sebuah lagu...Ketika dia harus terus bersembunyi di Bangkok, dia akan terus menyanyikan lagu ini agar tidak melupakannya. 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!