Kamp pengungsi Rohingya di Sittwe. (Foto: Phyu Zin Poe)

Kamp pengungsi Rohingya di Sittwe. (Foto: Phyu Zin Poe)

Seiring akan berakhirnya musim angin di barat daya Asia, organisasi bantuan internasional mengatakan eksodus Rohingya akan kembali terjadi. 

Dalam beberapa pekan mendatang, rute Teluk Benggala di Laut Andaman menuju Asia Tenggara akan kembali terbuka. Diperkirakan ribuan etnis Rohingya akan melarikan diri ke negara baru dengan perahu.

Dalam laporan lintas batas khusus dari Thailand dan Myanmar, koresponden Kannikar Petchkaew dan Phyu Zin Poe melihat kenyataan pahit yang membuat mereka terpaksa menempuh perjalanan berbahaya itu.

Tubuh Tudon Sha sangat kurus dan dia terlihat seperti tengkorak hidup. Dia tengah terbaring di sebuah Rumah Sakit di Thailand selatan. Dia mencoba bercerita tentang siksaan yang dialaminya tapi dia terlalu lemah.

Dia dibawa kemari setelah disiksa dan kelaparan selama sebulan di sebuah kamp pengungsi di dalam hutan. Tempat itu didirikan para penyelundup manusia.

Pihak berwenang menemukan 26 kuburan di kamp itu. Di sana banyak orang Rohingya seperti Tudon dikubur karena tidak bisa bertahan menghadapi penyiksaan.

“Beberapa meninggal karena kelaparan. Kondisi mereka sudah sangat lemah selama perjalanan dan mereka dengan mudah meninggal karena makanan langka di kamp ini,” ungkap Muhammed. 

Itu adalah Muhammed Nasim. Dia adalah orang Rohingya yang tinggal di Thailand selama 12 tahun terakhir.

Sebagai penerjemah yang bekerja pada pemerintah saat penggerebekan, dia melihat langsung bagaimana perlakuan para penyelundup manusia terhadap orang Rohingya.

“Mereka memukuli mereka sampai mati. Dan siapa saja yang mencoba lari dari kamp ini akan ditembak,” tambahnya.

Thailand menjadi tempat transit penting bagi jaringan penyelundup manusia. Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 100 ribu orang Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh melarikan diri untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Minoritas Muslim Etnis Rohingya adalah kelompok etnis tanpa kewarganegaraan...  

Siwawong Suktawi berasal dari organisasi migrasi lintas perbatasan di Bangkok. Menurut datanya, ribuan orang Rohingya masih terkatung-katung di lautan.

“Ada sekitar 40 ribu orang hilang di Laut Andaman. Saya tidak tahu keberadaan mereka. Tapi lembaga keamanan kami hanya khawatir soal gelombang baru orang Rohingya yang akan tiba di Thailand,” jelas Siwawong.

Seiring angin dan musim hujan mereda di Laut Andaman, Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau UNHCR memperkirakan akan ada eksodus baru orang Rohingya.

Abdul Kalam yang berusia 58 tahun berasal dari negara bagian Rakhine Myanmar. Dia juga adalah bekas presiden Asosiasi Orang Rohingya di Thailand. Menurutnya perjalanan itu sudah dimulai.

“Satu perahu sudah berangkat bulan ini menuju Thailand. Setelah ini akan banyak perahu yang menyusul,” kata Abdul.

Di kamp pengungsian Rohingya di Sittwe, anak-anak sedang bermain di tanah berlumpur yang mengelilingi gubuk bambu mereka. Kondisi mereka sangat memprihatinkan.

Selama tiga tahun terakhir, mereka hidup tanpa listrik. Mereka hidup bergantung pada bantuan ransum beras, kacang-kacangan dan minyak setiap bulannya.

Cho Cho yang berusia 20 tahun sedang memasak. Dia adalah satu dari 120 ribu orang Rohingya yang tinggal di kamp itu.

Ibu dua anak ini April lalu meninggalkan dua anaknya pada orangtuanya dan berjanji akan segera kembali. Di satu malam dia naik perahu dan berharap bisa tiba di Malaysia.

Cho Cho tahu perjalanan ini berbahaya tapi dia tidak menyadari betapa beratnya ini bagi perempuan.

“Para perempuan dalam perahu dibawa naik ke lantai atas. Mereka kembali ke bawah dalam keadaan menangis. Saat saya tanya apa yang terjadi mereka tidak mau bercerita,” kisah Cho Cho.

Tapi dari bawah, Cho Cho bisa mendengar perempuan itu berteriak ‘Tidak’ dan kemudian mereka dipukuli.

“Saat itu beberapa pria anak buah kapal juga menyuruh saya ke bagian atas perahu. Saya berteriak tidak mau, bahkan bila itu membuat saya harus mati.” 

Tiga tahun lalu suami Cho Cho meninggal saat melakukan perjalanan serupa dengan kapal ikan.

Setelah perjalanan menakutkan itu, Cho Cho ditangkap Angkatan Laut dan dipulangkan kembali ke kamp. Tapi dia berencana akan kembali naik perahu bila musim angin telah berhenti.

“Saya putus asa karena tidak punya uang untuk memberi makan anak-anak saya. Tidak ada pekerjaan di sini. Saya tidak punya pilihan selain pergi dari sini,” tekad Cho Cho. 

Di Myanmar orang Rohingya menghadapi diskriminasi dan dianiaya. Saat negara itu akan menyelenggarakan pemilu bersejarah bulan depan, tidak ada orang Rohingya yang bisa memberikan suara.

Karena tidak mendapat kewarganegaraan dan akses ke pendidikan, banyak dari mereka pergi dari negara itu.

Kamp pengungsi itu dijaga dengan ketat. Tidak ada yang boleh melewati radius delapan kilometer. Mereka yang lari dari kamp memilih melakukannya di malam hari.  

Kepala Kantor Imigrasi, Khin Soe, mengatakan mereka ingin mencegah orang Rohingya keluar dari kamp itu.

“Kami semampu kami menjaga pintu masuk sepanjang pantai Rakhine. Tapi kadang kami kebobolan, karena pantai Rakhine sangat panjang.”

Di sebuah Masjid bambu kecil di kamp pengungsi ini, orang-orang berdoa demi hidup yang lebih baik.

“Mereka tidak mau hidup mereka berakhir dalam keadaan tidak punya apa-apa. Jadi meski perjalanan keluar negeri sangat berbahaya, mereka ingin hidup yang lebih baik. Bahkan bila itu harus mengorbankan hidup mereka,” kata Thein.

Seperti yang dijelaskan pemimpin Muslim di kamp ini, bagi beberapa orang Rohingya, perjalanan berat akan segera dimulai....

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!