Asrama khusus mahasiswi di Universitas Nangarhar Afghanistan. (Foto: Mudassar Shah)

Asrama khusus mahasiswi di Universitas Nangarhar Afghanistan. (Foto: Mudassar Shah)

Universitas Nangarhar adalah universitas terbesar kedua di Afghanistan dan mempunyai tiga ribu mahasiswa.

Bulan lalu, sebuah asrama bagi mahasiswi dibangun di kampus itu. Tujuannya agar makin banyak mahasiswi yang masuk universitas itu.

Reporter Asia Calling KBR Mudassar Shah mengunjungi asrama itu dan menyusun laporannya untuk Anda.


Hari ini hari Sabtu dan di Afghanistan ini adalah awal pekan. Saat ini saya berada di sebuah pasar di Nangarhar di sebelah timur Afghanistan. Dua perempuan muda dan seorang pria baru saja lewat di depan saya.

Di sini ada kebiasaan kalau perempuan ingin keluar rumah harus ditemani anggota keluarga laki-laki.

Idrees Ahmad yang berusia 24 tahun sedang menemani dua saudara perempuannya menuju sebuah bangunan bercat oranye. Itu adalah asrama baru bagi para mahasiswi di Universitas Nangarhar.

Bangunan berlantai tiga ini punya 130 kamar dan bisa menampung 1200 mahasiswi. Idrees mengatakan mendukung saudara perempuannya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Pembangunan asrama ini memecahkan beberapa masalah keluarga kami. Saya hanya perlu datang sebulan sekali untuk menjemput saudara perempuan saya. Kaum pria mengatakan perempuan seharusnya tinggal di rumah, sehingga asrama ini seperti rumah bagi saudara saya.

Mereka bisa melanjutkan studi tanpa memberikankan kesempatan kepada saudara-saudara kami untuk menyalahkan mereka karena harus keluar rumah untuk kuliah setiap hari.”

Idrees bertanggung jawab mengantar dan menjemput dua saudara perempuannya dari asrama universitas pada akhir pekan terakhir setiap bulan.

Idrees baru saja pamit pada dua saudara perempuannya, Shughla dan Arzo. Biasanya laki-laki tidak bersalaman dengan perempuan, bahkan saudara sendiri, di luar rumah.

Militan Taliban punya markas di sebagian besar daerah terpencil di Afghanistan timur. Karena itu keberadaan asrama ini adalah secercah harapan bagi perempuan muda di Nangarhar.

Shughla Ahmad kembali kuliah setelah setahun berhenti. Dia terpaksa cuti kuliah karena saudara lelakinya tidak bisa mengantar dan menjemputnya kuliah setiap hari.

“Saya baru tingal di asrama ini selama beberapa bulan tapi saya merasa kuliah saya makin baik. Saya bertemu beberapa gadis lain dari daerah terpencil dan belajar bagaimana sulitnya menjadi perempuan yang tinggal di daerah terpencil. Tinggal di asrama memberikan pengalaman yang unik. Saya merasa bebas menjalani hidup saya sesuai dengan budaya dan agama kita. Dan ini pertama kali saya rasakan perasaan seperti ini,” kata Shughla Ahmad.

Bila mahasiswi seperti Shughla menikmati keberadaan asrama ini, tidak halnya dengan beberapa warga sekitar asrama.

Warga setempat Torab Gul mengatakan dia menentang keberadaan asrama khusus perempuan ini.

“Ketika laki-laki dan perempuan berbaur dalam masyarakat, sikap tidak sopan akan merajalela. Perempuan jadi sulit menyesuaikan diri dengan budaya dan tradisi keluarga jika mereka tinggal di luar struktur keluarga, seperti di asrama, tanpa anggota keluarga. Saya sangat menentang asrama ini walaupun tujuannya untuk pendidikan,” kata Torab Gul.

Tapi bagi Shughla yang berusia 21 tahun, tinggal di asrama adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Dia tidak pernah berpikir bisa melanjutkan studinya di bidang ilmu hewan. Begitu pula adiknya Arzo, yang mempelajari kesusteraan Pashto.

Sekarang Shughla berharap bisa segera lulus dan bekerja untuk meningkatkan pendidikan perempuan.

“Pendidikan adalah satu-satunya cara bagi perempuan di daerah kami untuk mengubah hidup mereka dan punya kekuatan. Perempuan dari daerah kami punya kapasitas dan potensi, tapi mereka tidak punya peluang. Kebanyakan gadis mendukung pembangunan asrama ini. Ini mungkin satu hal yang biasa di belahan dunia lain, tapi di sini, asrama ini bisa mengubah kehidupan seorang gadis,” ungkap Shughla Ahmad.

Pembangunan asrama perempuan ini menelan biaya sekitar 33 milyar rupiah dan didanai oleh Kementerian Narkotika dan Pengawasan Obat. Menterinya adalah seorang perempuan bernama Salamat Azimi. Dia melihat pentingnya mendanai pembangunan fasilitas ini.

Sejak asrama dibuka bulan lalu, pihak universitas mengatakan jumlah mahasiswi yang mendaftar meningkat dua puluh persen.

Pemerintah akhirnya mengambil langkah yang tepat untuk mempromosikan pendidikan perempuan Afghanistan, kata Saida Jan. Dia adalah warga yang tinggal di dekat kampus dan putrinya juga tinggal di asrama itu.

“Pembangunan asrama baru akan mendorong orangtua untuk mengijinkan anak perempuannya mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Situasi asrama aman dan lingkungannya sehat dan bersih. Para gadis bisa melanjutkan studi mereka tanpa kekhawatiran karena staf pengajarnya sangat mendukung. Pemerintah telah melakukan sesuatu yang berguna bagi anak perempuan kami setelah sekian lama,” kata Saida Jan.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!