Upaya penyelamatan korban gempa Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Upaya penyelamatan korban gempa Afghanistan. (Foto: Ghayor Waziri)

Pekan ini gempa besar melanda Afghanistan, Pakistan utara dan wilayah India, menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai ribuan orang. 

Pusat gempa berkekuatan 7,5 SR itu adalah pegunungan Hindu Kush di wilayah utara Afghanistan.

Seperti yang dilaporkan Ghayor Waziri dari Kabul, upaya pemulihan sedang berlangsung dan jumlah korban tewas diperkirakan terus meningkat.

Pada 26 Oktober siang gempa besar mengguncang Afghanistan. Getaran gempa terasa hingga negara tetangga seperti Pakistan, Tajikistan dan India. 

Saat gempa terjadi, masyarakat Kabul bergegas keluar dari rumah dan kantor dalam keadaan syok.

Muhammad Zaher yang berusia 55 tahun mengatakan ini adalah gempa terburuk yang pernah dialaminya. 

“Sepanjang hidup saya, saya tidak pernah mengalami gempa sebesar ini. Saat saya keluar dari rumah, saya melihat semua orang kaget dan berlarian ke jalan. Saya merasa sangat takut tapi Tuhan masih melindungi saya,” kisah Muhammad Zaher.

Muhammad mengatakan setelah gempa jaringan komunikasi mati sehingga dia tidak bisa menghubungi keluarganya untuk mencari tahu apakah mereka baik-baik saja.

Warga Kabul lainnya Abdul Ahmad sedang mengemudikan mobil saat gempa terjadi.

“Awalnya saya pikir ada tabrakan. Saya bingung melihat orang berlarian. Orang-orang dari dalam gedung juga berlarian ke luar. Lalu saya pikir ada serangan bom bunuh diri dan suasana terasa sangat menakutkan.”

Upaya penyelamatan masih berlangsung tapi pemerintah mengatakan butuh waktu berhari-hari untuk memeriksa kerusakan secara menyeluruh dan mendata korban jiwa di daerah terpencil.

Pusat gempa berada di Badakhshan, sebuah provinsi yang dikuasai milisi Taliban. Ini membuat akses untuk penyelamatan dan pengiriman bantuan menjadi sulit.

Juru bicara kepresidenan Zafer Hashimi mengatakan koban jiwa di Afghanitan saat ini sekitar 100an orang. 

“Laporan yang kami terima menunjukkan sejauh ini lebih dari 115 orang meninggal dan lebih dari 550 orang luka-luka. Di beberapa provinsi Afghanistan, lebih dari empat ribu rumah rusak atau hancur akibat gempa ini,” papar Zafer Hashimi.

Sementara gempa itu diklaim menewaskan 200 orang di negara tetangga Pakistan. 

Fareed Jabarkhil adalah warga provinsi Nangarhar, sebuah daerah terpencil di Afghanistan timur yang terkena dampak terparah.

Puluhan rumah di desa tempat tinggal Fareed hancur dan dia harus menggendong putranya ke rumah sakit.

“Saat itu jam 2 siang, kami merasa guncangan gempa. Lalu ketika akan keluar dari rumah, putra saya terluka tertimpa dinding rumah yang roboh. Beberapa anggota keluarga saya juga luka-luka tapi tidak separah putra saya. Saya segera membawanya ke rumah sakit,” kata Fareed.

Abdul Razeeq yang berusia 28 tahun juga berhasil selamat. Dia dibawa ke rumah sakit Nangarhar karena terluka akibat melompat dari lantai dua sebuah pasar.

“Saya punya kios di pasar Alkoze. Saat itu pasar sedang ramai pengunjung. Saya merasa tidak akan bisa segera keluar saat gempa terjadi, maka saya melompat keluar lewat jendela. Akibatnya kaki saya patah.”

Afghanistan tidak siap dalam menghadapi bencana alam ini. Kondisi negara yang masih berperang dengan Taliban dan daerah pegunungan menyulitkan pemerintah memobilisi bantuan dengan cepat.

Menteri Kesehatan Afghanistan Dr. Ferozoden Feroz meminta semua rumah sakit di seluruh negeri tetap waspada.

“Kebanyakan korban jiwa berada di Provinsi Nangarhar, Kuner, Noristan, Badakhshan dan Takhar. Semua rumah sakit di negara itu, terutama di daerah-daerah yang disebutkan, agar tetap waspada. Tim penyelamat terus mencari para korban yang tertimbun bangunan.” 

Pemerintah Afghanistan mengadakan pertemuan untuk mengkoordinasikan mobilisasi dan upaya penyelamatan. Biro Nasional Keadaan Darurat dan Bencana menawarkan bantuan kepada warga yang rumahnya rusak.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, juga menjanjikan bantuan untuk Afghanistan dan Pakistan, karena negara itu punya organisasi internasional.

Presiden Afghanistan Muhammad Ashraf Ghani mengatakan bersyukur atas semua dukungan.

Korban tewas diperkirakan akan meningkat apabila laporan dari sebagian daerah terpencil negara itu sudah masuk.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!