Etnnis Madhesi di Nepal melakukan aksi blokade sehingga pasokan dari India sulit masuk ke Nepal. (Fo

Etnnis Madhesi di Nepal melakukan aksi blokade sehingga pasokan dari India sulit masuk ke Nepal. (Foto: Bismillah Geelani)

Ketegangan di perbatasan India dan Nepal terus berlangsung karena aksi blokade ekonomi masih terjadi.

Pengunjuk rasa dari etnis Madhesi marah dengan kontitusi baru Nepal. Dan mereka bertekad tidak akan menghentikan aksinya sampai tuntutan mereka dipenuhi.

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, para pengunjuk rasa menekan kedua pemerintah.


Sanjeev Kumar, yang berusia 22 tahun, adalah seorang mahasiswa asal daerah Tarai di Nepal.

Dia tumbuh besar seperti anak-anak lainnya di Nepal. Bersekolah di sekolah Nepal dan bermain permainan tradisional Nepal sepulang sekolah.

Tapi saat dia berusia 10 tahun, sebuah peristiwa membuatnya harus menghadapi realistas yang berbeda.

“Aktor Bollywood Hritik Roshan datang ke Nepal. Tapi beberapa orang berbuat jahat dan menipunya. Ketika dia kembali ke India, dalam sebuah wawancara, dia bilang orang Nepal itu tidak baik. Ini membuat orang-orang di bukit marah dan mereka menyerang kami,” kisah Sanjeev Kumar.

“Mereka menghancurkan rumah kami dan membunuh beberapa orang. Mereka mengatakan orang India tidak menyukai kami dan Madhesi juga adalah orang India. Ini kali pertama saya mendengar kata Madhesi dan kalau kami disebut orang Madhesi.”

Waktu kecil Kumar bercita-cita menjadi dokter. Tapi dia yakin, identitasnya sebangai orang Madhesi menghalanginya mewujudkan  cita-cita itu.

Karena tidak mampu membayar uang sekolah, dia menaruh harapan pada beasiswa pemerintah. Tapi dia mengatakan pengajuannya ditolak karena proses seleksi penerima beasiswa diskriminatif terhadap orang Madhesi.

Kumar lalu memutuskan pergi ke Kathmandu untuk menjadi seorang akuntan. Tapi sekali lagi identitasnya sebagai orang Madhesi membuat dia diejek teman-teman sekelasnya.

“Mereka sering mengeroyok, mengejek, menarik rambut, dan memalak saya. Kadang mereka menelepon saya di malam hari dan mengancam akan membunuh saya. Saya sangat khawatir.

Saya melaporkan ini kepada guru tapi mereka bilang, ‘Tenang saja, kamu kan teman,” kata Sanjeev Kumar.

Orang Madhesi tinggal di dataran bagian selatan Nepal yang berbatasan dengan India. Mereka aslinya berasal dari India. Menurut Sensus 2011, jumlah kelompok etnis ini mencapai 30 persen dari total penduduk Nepal. Tapi kemunitas Madhesi menolak angka itu dan mengatakan angka sebenarnya jauh lebih besar.

Selama puluhan tahun orang Madhesi menuduh elit politik dari dataran tinggi yang mendominasi politik negara itu, melakukan penganiayaan dan diskriminatif.

Aktivis Sanjeev Yadav mengatakan situasi ini membuat orang Madeshi berada di luar pemerintahan dan jabatan publik.

“Kami punya jatah 30 persen dalam pemerintahan tapi bahkan di daerah di mana kami adalah mayoritas, pekerjaan itu diberikan pada orang dataran tinggi yang tinggal di sini. Hanya sekitar tiga persen orang Madhesi yang bekerja di kantor pemerintah dan sisanya adalah orang-orang dataran tinggi,” kata Sanjeev Yadav.

Selama puluhan tahun orang Madhesi memperjuangkan hak mereka. Dan setelah aksi kekerasan dan bentrokan yang kadang berakibat fatal, pemerintah Nepal akhirnya berjanji akan menawarkan kesepakatan yang adil dalam konstitusi baru kepada orang Madhesi.

Tapi proses itu berlangsung delapan tahun dan ketika konstitusi itu diresmikan bulan lalu, sebagian besar tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Prashant Jha, seorang editor di harian Hindustan Times, yang meliput peristiwa itu, mengatakan orang Madhesi tidak mendapatkan kesepakatan yang adil.

“Di wilayah Tarai, sebagian besar warganya merasa kalau konstitusi itu tidak adil terhadap mereka.”

Perwakilan proporsional di parlemen, otonomi yang lebih besar bagi Provinsi Madhesh, dan pelonggaran norma kewarganegaraan, adalah beberapa tuntutan mereka yang tidak dipenuhi.

Perdebatan dan protes terhadap konstitusi itu telah merenggut nyawa lebih dari 50 orang dalam dua bulan terakhir.

Kini untuk menekan pemerintah mereka melakukan aksi blokade. Selama tiga minggu terakhir, para pengunjuk rasa memblokir jalur perdagangan di perbatasan India. Aksi ini untuk menghalangi pasokan barang dan bahan bakar ke Nepal.

Aktivis Madhesi, Yadav, menjelaskan pemicu aksi blokade ekonomi ini.

“Kami berunjuk rasa dengan damai tapi mereka membunuh orang-orang kami. Polisi Nepal bahkan mengencingi mayat para pengunjuk rasa. Ketika tidak ada cara lain, kami terpaksa memblokir jalan. Karena Kathmandu tidak akan mendengarkan kami kalau cara kami tidak efektif,” papar Sanjeev Yadav.

Nepal sangat bergantung pada pasokan dari India dan blokade ini menyebabkan kekurangan bahan bakar dan kebutuhan dasar.

Beberapa warga Nepal menyalahkan India atas aksi blokade ini. Pemerintah Nepal bahkan sudah membawa masalah ini ke PBB.

Sementara, India menyatakan ketidaksetujuannya atas konstitusi Nepal dengan alasan mengabaikan hak orang-orang Madhesi dan menyangkal terlibat dalam aksi blokade ini.

“Tidak ada blokade resmi atau tidak resmi oleh India terhadap Nepal. Kami juga ingin masalah ini segera diselesaikan tapi solusi harus datang dari dalam Nepal sendiri,” kata Vikas Swarup, juru bicara Kementerian Luar Negeri India.

Perdana Menteri Baru Nepal, Khadga Prasad Sharma Oli, mengatakan mereka siap mengubah konstitusi untuk mengakomodasi tuntutan orang Madhesi.

Tapi setelah dua putaran pembicaraan dengan para pemimpin unjuk rasa, belum tercapai terobosan.

Untuk saat ini, para demonstran mengatakan mereka tidak mau mengalah sebelum kesepakatan konkrit tercapai. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!